Topeng Suami Buruk Rupa

Topeng Suami Buruk Rupa
Bab 53. Bendera Merah Berkibar


__ADS_3

Beberapa bulan ini dilaluinya dengan bekerja. Benar-benar secara profesional, Evan sesekali datang ke ruangannya. Tangan kanan? Memang begitulah Evan dari dulu, seseorang yang dapat diandalkan.


Memakai kacamata baca, beberapa berkas diperiksa olehnya. Wanita yang kemudian berjalan turun menuju cafetaria. Tidak makan di ruangannya lagi, bagaikan saat Michael masih ada disampingnya.


*


Satu meja dengan Fransiska, Tara dan Evan. Makan sembari menceritakan strategi mereka untuk menghadapi keinginan klien yang tidak ada habisnya.


Evan menatap ke arahnya, inilah Claudia, memiliki pesona yang berbeda ketika bekerja. Wanita yang terlihat cantik walaupun tidak bersandar dan menggoda pria."Anggun..." gumamnya tersenyum, menunggu Michael mundur dengan sendirinya.


Sudah beberapa bulan, namun Claudia tidak membuka hatinya sama sekali. Tidak pernah bersedia keluar dari apartemen kecuali untuk bekerja. Mungkin perlahan akan kembali mencintainya, seperti Claudia yang menunggunya dengan sabar, itulah yang akan dilakukan Evan.


Mata beberapa orang menatap ke arah televisi besar yang berada di cafetaria. Berita dari dunia bisnis, anak yang dikabarkan meninggal 23 tahun lalu, ternyata masih hidup. Perubahan besar sebuah pergeseran dalam gerakan di dunia bisnis.


Seorang pemuda berada di studio tengah diwawancarai. Pemuda yang terlihat bagaikan orang yang berbeda. Datar tanpa ekspresi, namun sesekali senyuman aneh menyungging di bibirnya kala memberi jawaban dari pembawa acara tempat dirinya diundang.


Pemuda yang berhasil mengakuisisi sebuah hotel dan dua perusahaan kelas menengah. Tanpa mengeluarkan terlalu banyak anggaran. Untuk seseorang yang baru memulai memasuki dunia bisnis, itu terdengar mengerikan.


Kala ditanyakan cara apa yang dilakukan olehnya?


Seseorang yang dipanggil Micky itu mengatakan."Menusuk pemimpin perusahaan dari belakang..."


Sebuah jawaban keji tanpa motivasi sama sekali. Tapi Michael benar-benar melakukannya, menjadi pemegang saham, mendukung orang-orang tidak kompeten di perusahaan tersebut untuk memimpin. Setelah orang-orang serakah tidak berguna memimpin perusahaan, perusahaan tersebut akan dijatuhkannya dengan mudah. Tinggal membelinya dengan harga yang jauh dibawah standar.


Benar-benar picik bukan? Senyuman terlihat di wajahnya walaupun tidak menjelaskannya secara gamblang. Tapi jawaban yang sukses membuat pembawa acara menelan ludah kasar.


"Tentang pasangan, apa anda---" Kalimat sang pembawa acara disela.


"Saya hanya ingin tidur dengan satu wanita. Cepat atau lambat dia akan ada di ranjang saya. Entah itu dengan paksaan atau tidak..." Jawaban dari Michael, benar-benar tidak normal.


Tapi sukses membuat wanita-wanita yang menonton dari televisi berteriak menginginkannya, bagaikan tipikal pria bad boy dengan lusinan kata-kata rayuan mendebarkan.

__ADS_1


Sementara kelima staf yang pernah bertemu dengan Michael di club'malam, melirik ke arah Claudia yang tengah duduk di cafetaria.


Menelan ludah kasar, memilih menutup mulut mereka kali ini. Suami Claudia terlalu mengerikan, apalagi dengan status tinggi saat ini.


"Orang yang ada di TV, suami Bu Claudia kan? Orang yang membawa Bu Claudia pergi saat mabuk dulu." Ucap salah seorang dari mereka gemetaran.


"Hus! Kita tidak boleh terlibat! Ingat saat kita diancam akan dibunuh menggunakan pisau!"


Begitulah kelima orang itu gemetaran memilih tidak bicara atau berkomentar. Menutup mulut mereka rapat-rapat, memakan makanan di cafetaria dengan tangan gemetar.


Hingga Claudia yang awalnya melihat ke arah televisi besar area cafetaria.


Prang!


Wanita itu melemparkan gelas minuman ke dinding. Emosi! Benar-benar emosi pada pria yang yang menciumnya secara paksa di pesta. Dan sekarang? Pria itu kembali mengatakan kata-kata dan ancaman sama di televisi.


Bagaikan mengancam dirinya di hadapan umum seperti beberapa bulan lalu. Mengancam Claudia akan membawa ke ranjangnya.


Tapi senyuman tengil itu masih terlihat di televisi, bagaikan idola remaja. Jika dirinya adalah Claudia yang dulu, Claudia yang merupakan penggemar pria tampan, pasti akan ikut-ikutan menjadikan Micky sebagai idola incarannya. Tapi tidak! Dirinya tidak menyukai play boy itu, seorang pria br*ngsek, obsesif, red flag.Menghela napas berkali-kali.


Sementara Tara membulatkan matanya, menelan ludah kasar sedikit melirik ke arah Claudia. Orang yang ada di televisi adalah Michael. Ingin rasanya dirinya berteriak, tapi entah kenapa Claudia seakan tidak menyukai pria yang terlihat di televisi.


Sedikit mengalihkan pandangannya pada Evan, pria itu juga terlihat sama.


"Claudia, kenapa kamu tidak menyukainya? Dia itu punya fitur wajah halus, dari keluarga konglomerat, masih muda, baru terjun ke dunia bisnis tapi begitu berbakat." Ucap Tara ingin mengetahui lebih jauh sebelum mengatakan segalanya.


Evan menghela napas kasar."Nyonya Yuki, ibunya merupakan pemilik baru 15% saham di perusahaan ini. Kami sempat bertemu di pesta yang diadakan paman Wendy. Pria itu---"


Kalimat Evan disela."Dia melakukan hal yang tidak menyenangkan. Aku membencinya, dia juga berpihak pada paman dan Erlina. Mengatakan aku dan Evan adalah sampah." Geram Claudia mengatakan segalanya.


Tara mengenyitkan keningnya."Bagaimana bisa Michael kesayanganku menjadi begitu mengerikan? Tidak! Dia tetap yang terkeren, termanis apapun kondisinya," batinnya, sedikit berfikir.

__ADS_1


"Memang apa yang kalian lakukan?" tanya Tara lagi. Bersamaan dengan itu Claudia tidak menjawab, bangkit dari tempat duduknya meninggalkan cafetaria.


Tara menghela napas kasar melirik ke arah Fransiska dan Evan. Fransiska menggeleng tanda tidak tahu.


Sementara Evan menghela napas kasar."Aku mengakui perasaanku pada Claudia yang mabuk. Kami hampir berciuman." Hanya itulah yang diucap Evan, berusaha tersenyum. Mengakui kesalahannya, menginginkan istri orang lain.


Sementara Tara menghela napas dalam-dalam berusaha bersabar. Benar-benar berusaha bersabar."Kenapa kalian tidak kembali saja? Aku mendukung kalian untuk kembali. Sampah memang cocok dengan sampah. Sialnya aku berteman dengan kedua sampah..." Kalimat darinya penuh senyuman. Berjalan pergi mengeluarkan aura membunuh tingkat tinggi.


Michael yang manis, inilah sebabnya menangis dan memilih berlari ke pelukan ibunya yang kaya. Tara melangkah pergi, menyimpan semuanya dalam hati, dirinya tidak akan mengatakan suami Claudia dan seseorang di televisi adalah orang yang sama.


Wanita yang melangkah pergi, menekan tombol lift tidak sabaran. Hingga sampai di ruangan tempat Claudia berada.


"Ada apa?" tanya Claudia yang memang belakangan ini kesulitan tidur.


"Dengar! Aku akan menyimpan harta karun ini sendiri. Tidak akan mengatakannya padamu!" Kalimat ambigu dari Tara, berjalan meninggalkan ruangan.


"Dasar perawan tua..." Gumam Claudia tidak mengerti sama sekali, tidak sadar diri juga, mereka sama-sama masih dapat disebut perawan usia matang.


*


Sementara apa yang dilakukan Michael saat ini?


Pemuda itu melemparkan flash disk pada asistennya. Senyuman menyungging di wajahnya.


"Buat dekorasi honeymoon di villa, persiapkan dengan baik untuk dua minggu lagi." Perintah dari Michael penuh senyuman.


"Berapa wanita yang anda inginkan? Saya akan menyiapkannya..." Senyuman penuh hormat dari sang asisten.


"Kita baru mengenal beberapa bulan, jadi kamu tidak akan tau. Aku ingin membuat seorang wanita memohon untuk aku tiduri. Menghancurkan harga dirinya yang begitu tinggi." Suara tawa yang terdengar, kala pemuda itu berjalan menelusuri lorong. Inilah yang disebut dengan tipikal pria red flag. Siapa yang merubah cara pandang Michael? Tentu saja Claudia, telah berhasil merubah sifat dasar suaminya sendiri.


Sang asisten mengenyitkan keningnya, hanya berjalan mengikutinya. Apa yang ada dalam fikirannya? Hanya perintah nyonya besar (Yuki), Michael harus segera memiliki keturunan.

__ADS_1


__ADS_2