Topeng Suami Buruk Rupa

Topeng Suami Buruk Rupa
Bab 15. Cemburu


__ADS_3

...Rasa cemburu? Bagaikan batu sungai....


...Saat bebatuan indah itu terlihat, maka isi dalam hatimu terbuka, terlihat transparan....


...Begitu berat rasa cemburu, kadang membuatku berfikir. Betapa indahnya hatimu yang hanya terikat padaku....


...Begitu keras rasa cemburu, hingga air tidak dapat menggoyahkannya....


...Apa kamu mencintaiku? Sebuah cinta yang terlihat dari rasa cemburu. Membuatku semakin ingin memilikimu....


Michael.


"Turun dari ranjang apa maksudnya?" Michael mengenyitkan keningnya, benar-benar dengan nada polos berucap.


"Ja...jadi bukan itu!? Orang yang baru menikah resah, seharusnya karena itu bukan!?" Awan kembali bertanya.


Michael menggeleng dengan cepat."Aku butuh pekerjaan."


"Pekerjaan!? Istrimu lebih kaya dariku! Dan kamu bilang perlu pekerjaan?" Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya heran.


"Iya! Aku tidak ingin menjadi beban. Aku ingin membantunya!" tegas Michael, penuh semangat dan tekad.


Awan menghela napas kasar, jika diperkerjakan sebagai pegawai toko perhiasan miliknya, wajah Michael tidak memadai. Bukannya apa-apa, wajah dirinya (Awan) sudah seperti Roger Danuarta. Sedangkan Michael bagaikan pemain FTV, dengan judul penjual kosmetik ber-merkuri, wajahnya terluka, melepuh, bernanah, mengeluarkan belatung.


Apa ada belatung? Walaupun sepertinya tidak, wajah yang membusuk mungkin saja dapat segera mengeluarkan belatung.


Memijit pelipisnya sendiri, matanya menelisik."Bagaimana jika bekerja di laundry milik ayahku?"


Pria yang mengangguk dengan cepat. Akan menerima pekerjaan apapun mengingat pendidikannya yang hanya SMU, tanpa pengalaman kerja. Setidaknya saat pergi ke kota bersama Claudia nanti dirinya sudah memiliki pengalaman kerja.


"Aku akan bekerja dengan baik!" Ucap Michael penuh semangat. Siapa sangka orang desa yang terbiasa hanya menghabiskan hidupnya dengan belajar dan memakan beef steak tiba-tiba menjadi pegawai laundry. Jika Berta mengetahuinya, wanita itu mungkin akan menarik telinga Michael.

__ADS_1


*


Tepat pukul 5 sore wanita itu sudah datang. Tapi anehnya bertepatan dengan kedatangan Michael. Pria yang mengenakan kemeja hitam, berjalan masuk ke dalam rumah.


"Sayang!" teriaknya berjalan mendekat saat Claudia datang.


"Ide yang kamu buat cukup bagus..." Tara yang berada di belakang Claudia tersenyum pada Michael.


"Benarkah? Aku hanya ingin membantu Claudia." Ucap Michael menggaruk-garuk area belakang kepalanya yang tidak gatal, terlihat salah tingkah.


"Tapi idemu sangat bagus untuk seukuran orang yang hanya lulusan SMU! Aku tidak berbohong saat memujimu. Jika kamu memiliki pendidikan, mungkin saja kariermu akan berkembang setelah tinggal di kota." Tara tertawa kecil, membuat Claudia yang melihat ke arah mereka mengenyitkan keningnya.


"Lalu jika kariernya berkembang, kamu mau melakukan apa pada suamiku?" batin Claudia, menahan rasa kesalnya.


"Aku jelek tidak mungkin mendapatkan pekerjaan di kota. Jangan terlalu banyak memuji hanya karena satu usul." Senyuman terlihat di wajahnya yang rusak. Senyuman yang seharusnya hanya tertuju pada Claudia. Tapi kini tersenyum di hadapan Tara?


"Di...dia tersenyum pada wanita lain? Apa dia berselingkuh? Apa diam-diam mereka saling mencintai? Tara pengkhianat!" Itulah yang ada dalam hati sang pengantin baru (Claudia) yang menikah tanpa cinta. Benar-benar tidak mungkin mencintai sang pemuda buruk rupa. Tidak mungkin terjebak kata-kata rayuannya yang tulus.


"Jika kamu kuliah, dan memiliki pekerjaan. Tinggal memeriksakan wajahmu ke dokter kulit. Aku yakin saat lukamu sembuh, walaupun sedikit berbekas, kamu akan lebih tampan." Senyuman teduh dari Tara, dua orang yang tersenyum hangat.


"Tapi ini demi kebaikannya. Jika wajahnya---" Kalimat Tara disela.


"Jika wajahnya normal kamu ingin menjadi wanita murahan seperti Erlina!?" Sinis Claudia, tapi ingat! Harus tetap ingat! Wanita ini tidak cemburu sama sekali. Dirinya tidak mungkin jatuh cinta pada cacing tanah yang menjijikan.


"Michael akan lebih baik jika---" Lagi-lagi kalimat Tara disambar bagaikan petir.


"Tuan muda! Karena aku nyonya mudamu! Jangan coba-coba memanggil namanya! Panggil tuan muda!" Ucap Claudia penuh penekanan.


Satu kesimpulan yang diambil oleh Tara, menipiskan bibir menahan tawanya."Kenapa nona muda begitu sensitif?"


Kala itulah Claudia menelan ludah kasar. Matanya sedikit melirik ke arah Michael yang mengenyitkan keningnya. Bagaikan tidak mengerti dengan perubahan raut wajah Claudia.

__ADS_1


Wanita yang gugup tidak bisa menjawab. Ingat! Ini bukan cinta, ini perlu digarisbawahi dirinya tidak mungkin dapat mencintai Michael.


"Ka... karena---" Claudia terlihat gugup.


"Karena cemburu? Tenang saja, saya tidak mungkin mendekati tuan muda. Cinta pada pandangan pertama? Ternyata benar-benar terjadi." Tara tertawa kencang menatap ke arah Claudia yang kehabisan kata-kata.


Sedangkan Michael semakin menatap ke arah Claudia penuh harap."Kamu cemburu? Benar-benar cemburu? I...itu normal sayang, aku juga merasakannya ketika bertemu dengan Evan. Jika bisa aku hanya ingin tetap bersamamu. Menyimpan hatimu hanya untukku."


Tertusuk tapi tidak sakit, juga tidak berdarah. Bagaimana pria desa ini begitu berbakat untuk melumpuhkan wanita menggunakan kata-kata manis?


"Astaga! Astaga! Astaga! Aku ingin mengadopsimu menjadi adikku! Mempunyai adik semanis dirimu yang pandai berucap manis!" Tara tersenyum, dengan wajah bersemu merah melihat dua orang ini.


"Sudah hentikan!" bentak Claudia tiba-tiba, hendak melangkah pergi menenangkan diri. Dirinya tidak boleh marah, mau bagaimana pun harus tetap membuat hati Michael padanya. Agar dapat mengelabui sang pengacara yang sewaktu-waktu dapat datang.


"Aku mencintaimu... tidak mungkin aku berpaling pada wanita lain." Serangan kembali didapatkannya dari Michael.


Claudia mengenyitkan keningnya, mengatur napasnya."Aku juga mencintaimu, dimataku kamu pria yang paling sempurna."


Pria itu seperti tercekat, saking bahagianya tidak dapat berkata-kata. Dirinya memang sudah mengakui perasaannya dari awal. Sudah lumpuh oleh perasaan cintanya.


"Aku memang kali ini..." batin Claudia merasa sudah dapat dengan mudah menaklukkan Michael.


Wanita yang melangkah pergi, diikuti yang mulia suaminya.


"Pengantin baru! Aku ingin segera menikah!" teriak Tara, gemas.


*


Malam semakin menjelang kala itu, pemuda dengan wajah yang rusak tersenyum hangat membawakan kue kering dan susu untuknya yang tengah bekerja.


"Benar! Jika sudah bercerai nanti, mungkin akan lebih baik menjadikannya adik angkat. Baik, penurut, dapat diandalkan, begitu manis, dan yang lebih penting begitu berpihak padaku. Tidak lebih dari seorang kakak pada adiknya itulah perasaanku pada Michael. Tidak mungkin mempunyai perasaan lebih." Meraih segelas susu, meminumnya sedikit.

__ADS_1


Tapi ada yang aneh, ada wewangian aneh dari pakaian suaminya. Tidak! Ini bukan pengharum pakaian di villa ini. Apa parfum wanita? Tercium seperti parfum murahan yang sedikit menyengat. Suaminya berselingkuh? Wanita mana yang berani-beraninya...


"A...aku ingin bicara sesuatu. Apa sebaiknya kita segera memiliki anak? Bolehkah kita membuatnya malam ini?" Pertanyaan dari Michael, membuat Claudia menyemburkan susu dari mulutnya.


__ADS_2