Topeng Suami Buruk Rupa

Topeng Suami Buruk Rupa
Bab 34. Mata-mata


__ADS_3

Diterima, tentu saja dengan mengunakan koneksinya. Namun, Michael tetap mempertimbangkan ijasah terakhirnya. Ijasah SMU, dirinya tidak ingin Claudia mengalami kesulitan jika ditempatkan di bagian staf. Karena itu, di bagian office boy dirinya berada saat ini.


Pemuda yang membersihkan area bagiannya. Bukan dalam ruangan staf departemen atau lobby. Pria membersihkan bagian toilet pria, koridor yang tidak begitu ramai, gudang, pantry. Intinya membersihkan area yang tidak ingin diambil seniornya. Bagaikan mengalihkan tugas pada dirinya.


Tapi inilah yang namanya bekerja. Sesekali Michael melihat penampilannya di cermin. Memakai seragam, senyuman mengembang di wajahnya. Dengan bangganya dirinya menjadi pria keren berseragam.


"Sapi, Sipi, Sepi, Om kerbau, nenek, Awan, aku sudah jadi ganteng..." Gumamnya menatap pantulan dirinya di cermin besar dekat wastafel toilet pria. Ganteng? Tidak! Lapisan gelatin itu masih tetap berada disana. Hanya saja Michael merasa ribuan kali lebih tampan hanya dengan memakai seragam.


Kebahagiaan itu sederhana, ketampanan juga relatif, ada yang merasa tampan hanya dengan memakai seragam office boy. Ada juga yang pergi ke luar negeri untuk melakukan operasi plastik.


Berjalan menelusuri lorong, beberapa seniornya mulai memerintahnya."Michael buang sampah di lantai dua! Tapi waktu jam makan siang saja, staf-staf bisa jijik melihatmu!"


"Iya..." Itulah jawabannya tersenyum ramah.


Hingga kala dirinya melangkah kasak kusuk pembicaraan beberapa seniornya terdengar.


"Pak Robert beli mobil baru lagi?"


"Istrinya ada tiga, pasti gajinya di perusahaan besar, manager...."


"Kalau begini, aku mau jadi istri keempatnya."


Tidak menyadari ada petugas inspeksi terselubung. Pria desa yang baru mulai bekerja hari ini itu tersenyum.


"Wah ... sehebat itu menjadi manager!? Istriku pasti bangga jika aku bisa naik ke posisi itu." Kalimat Michael menyela kala mengikuti dua seniornya keluar dari toilet pria.


"Tidak akan bisa! Lulusan SMU masih saja bermimpi. Tapi pak Robert, punya satu rumah untuk satu istrinya. Jika menjadi simpanannya mungkin akan kebagian apartemen." Sang Office girl tersenyum dengan khayalan tingkat tinggi.


"Sudah! Jangan bermimpi! Lulusan SMU, muka sepertimu sudah diterima di perusahaan ini saja seharusnya sudah bersyukur." Sang Office boy senior memberi masukan pada Michael.


"Iya..." Michael terkekeh, kemudian berlari mengambil sampah di lantai dua yang harus dibuangnya.


"Si buruk rupa..." Satan (official boy senior) menghela napas kasar.


"Omong-ngomong, aku dengar-dengar Bu Claudia baru saja menikah. Suaminya akan bekerja di perusahaan ini. Ada beberapa karyawan dan manager yang baru di rekrut, mungkin salah satu dari mereka."Ikut-ikutan Pipit (office girl senior) menghela napas kasar.

__ADS_1


"Kita tidak bisa menebak yang mana suami Bu Claudia, kecuali Bu Claudia memperkenalkannya secara resmi. Karena itu, ada satu cara. Kita harus lebih rajin bekerja di hadapan staf-staf dan manager baru. Terutama yang terlihat tampan dan berpendidikan! Karena tipe Bu Claudia dari dulu adalah tampan." Satan membuat rencana, dijawab dengan anggukan oleh Pipit.


Mengapa? Mereka tidak boleh terlihat malas di hadapan suami bos besar. Bisa saja suatu saat mereka dinaikkan menjadi staf administrasi.


"Michael! Ambil sampah di lantai 3 juga! Baru kamu istirahat makan siang!" Perintah Pipit.


"Baik!" Jawaban penuh semangat dari Michael.


*


Pemuda yang mengunyah penuh senyuman dalam ruangan wakil direktur. Memakan chicken katsu pesanan istrinya.


"Jadi mungkin Robert melakukan korupsi?" Claudia mengenyitkan keningnya mulai berfikir.


"Mungkin bukan korupsi, karena selama ini tidak ada kecurigaan tentang dirinya." Jawaban dari Michael dengan mulut penuh.


"Suap, itu yang paling memungkinkan. Satu proyek besar dapat bernilai puluhan hingga ratusan miliar. Keuntungan perusahaan tender besar, jika dia meloloskannya, memberikan suap berupa rumah senilai 2 miliar bukanlah seberapa." Kalimat dari sang suami penuh senyuman.


Senyuman yang benar-benar manis, dirinya memang harus membantu istrinya bukan.


Ingat! Ini bukan cinta! Ini hanya akting untuk membuat Michael jatuh cinta padanya. Agar segalanya terlihat alami di hadapan Santos. Jika sewaktu-waktu Santos datang. Tapi bukankah ini akting yang kebablasan?


Kala Claudia menyuapi Michael menggerakkan sumpit. Pemuda yang juga mulai menyuapinya. Tissue diraih oleh Claudia kala ada bumbu yang tertinggal di sudut bibir Michael.


Tatapan yang lembut, dua orang ini kembali berciuman. Tidakkah mereka bosan berciuman?


"Ini hanya penghargaan untuknya karena membantuku..." Batin Claudia memejamkan matanya. Ini sungguh nikmat untuknya membuatnya ketagihan seakan kehausan kala mengalungkan tangannya pada leher Michael.


Pemuda yang juga hanya membalasnya perlahan, beradu lidah, menikmati setiap detik yang indah ini."Apa perasaanmu sudah bertambah? Tolong cintai aku..." batinnya.


*


Kembali ke posisi masing-masing bersikap profesional, seakan tidak saling mengenal. Dirinya mulai beradaptasi dengan tempat ini.


Kali ini dirinya membersihkan ruangan rapat. Apa sejatinya tugas office boy? Tentu saja membersikan adalah tugas utamanya.

__ADS_1


Dirinya mengetuk pintu memasuki ruang rapat. Seorang staf dan managernya berada di sana. Sang staf dengan kemeja terbuka memakai bra berwarna krem tersingkap ke atas, terbaring di atas meja ruang rapat yang kosong. Sedangkan sang manager berada di hadapannya dengan celana panjang dan boxer yang melorot.


Beberapa helai tissue ada di sekitar mereka. Sudah dipastikan mereka sudah melakukan lebih dari sekali.


"Pelanggaran jam kerja, perbuatan asusila di kantor, perselingkuhan," batin Michael, dapat melihat dengan jelas, wanita itu baru saja menutupi area bagian bawahnya. Serta sang manager yang segera memakai boxer, walaupun ada yang masih berdiri tapi bukan keadilan.


"Kenapa kamu masuk tanpa mengetuk pintu!" Bentak sang manager.


"Peraturan, mengetuk pintu tiga kali. Saya sudah melakukannya dengan cepat. Tapi ada bunyi Ah...ah ...uh...yang keras, jadi anda mungkin tidak mendengarnya." Jawaban datar dari Michael, meletakkan trolinya bersiap untuk membersihkan area yang seharusnya menjadi bagian dari tugas seniornya.


"Kamu berani membatah saya! Saya bisa laporkan kamu ke bagian HRD!" Bentak Fandi (sang manager).


Pemuda yang tidak peduli, membawa alat pembersih jendela. Mulai membersihkan dengan seksama.


Bug!


Satu pukulan dilayangkan Fandi, mengenai sudut bibirnya."Dengar! Jangan macam-macam, dan mengatakan yang kamu lihat disini pada orang lain jika tidak ingin dipecat secara tidak hormat!"


Tidak ada yang terjadi, Michael hanya tersenyum dan berkata."Maafkan saya..."


"Bagus jika kamu mengerti!" Fandi tersenyum, pergi bersama bawahannya yang telah berpakaian lengkap.


Sementara Michael bangkit, bibirnya tersenyum. Pemuda yang mengambil sarung tangan memungut satu persatu tissue yang telah dibasahi cairan. Meletakkannya ke dalam tempat sampah.


Dirinya harus membersihkan kekacauan ini. Benar-benar dua orang yang jorok, itulah yang ada di otaknya.


"Kalian melakukan ini di hadapan seorang perjaka..." Michael menghela napasnya kembali tidak tahu harus mengeluh pada siapa.


*


"Mereka melakukan itu di ruang rapat. Dari banyaknya tissue yang tercecer, mungkin sudah melakukannya lebih dari satu kali." Ucap Michael dengan antusias.


Kriet!


"Kamu melihat karyawati itu tanpa pakaian! Bahkan bagian atas dan bawahnya juga terlihat jelas!?" Bentak Claudia, menghentikan laju mobilnya.

__ADS_1


Dengan polosnya Michael mengangguk. Tidak menyadari wanita ini tidak sedang cemburu. Benar-benar tidak mungkin cemburu.


__ADS_2