Topeng Suami Buruk Rupa

Topeng Suami Buruk Rupa
Bab 41. Bagaimana Jika


__ADS_3

"Suami Bu Claudia benar-benar tampan! Pak Evan kalah jauh! Jika begini aku percaya jika Bu Claudia sudah move on."


"Erlina juga, tiba-tiba berhenti dari perusahaan seakan Bu Claudia membully nya, padahal dia yang berhenti setelah berhasil menggoda pak Evan."


"Benar! Aku juga tertipu! Tapi setelah difikirkan baik-baik pelakor tetap saja pelakor! Siapa yang menjalin hubungan lebih awal tidak penting, yang penting mereka sudah putus, baru Bu Claudia masuk. Tapi dengan tidak tahu malunya mereka membuat Bu Claudia berdiri berjam-jam di depan altar."


Kala pemuda yang baru datang dari perjalanan dinas itu tiba, semua orang segera diam. Tidak ada yang membicarakannya lagi. Namun, tetap saja terdengar jelas. Apa yang mereka katakan? Sebuah gosip yang tidak berarti. Namun, hanya satu kebenaran yang diketahuinya. Dirinya benar-benar mendorong Claudia pergi, hanya untuk membahagiakan Erlina.


Duduk di meja kerjanya, menatap bawahannya yang membenarkan posisi duduk mereka. Apa yang terjadi? Gosip apa saja yang sudah tersebar?


Jam kerja dimulai 15 menit lagi, dirinya mulai menuangkan air ke dalam gelas kaca miliknya. Menekan tombol dispenser untuk mendapatkan air hangat dengan suhu yang pas. Tidak terbiasa meminum kopi atau teh di pagi hari.


Perlahan dirinya duduk, hingga salah seorang karyawan lain tiba. Bergabung dengan kelompok gosip tadi.


"Kalian tau anak bagian perencanaan ada yang dipecat karena menerima suap!?"


"Yang hidungnya besar itu kan?"


"Iya! Dia tidak pernah sombong di depan atasan. Tapi selalu pamer kekayaan di depan kita. Jam tangan ratusan juta yang dia pamerkan pada kita, ternyata hasil suap. Bu Claudia sendiri yang menuntutnya, mengembalikan uang kerugian perusahaan. Jika tidak akan dilaporkan pada polisi."


"Gila! Ini pasti karena laporan suami Bu Claudia!"


"Suaminya sebenarnya ada di departemen mana!? Kata karyawan yang pernah melihatnya dia benar-benar tampan! Jadi sebaiknya harus berhati-hati di depan anak baru yang berwajah tampan!"


Itulah pembicaraan mereka yang didengarkan Evan. Tampan? Tampan darimananya, bahkan dari lubang sedotan terlihat bagaikan lukisan abstrak. Menghela napas berkali-kali tentang gosip yang beredar.


Mungkin sebaiknya setelah ini bicara baik-baik dengan Claudia. Tidak mungkin untuk kembali seperti dulu mengingat bagaimana dirinya meninggalkan Claudia di depan altar. Juga bagaimana Claudia melihat dirinya melakukan segalanya dengan Erlina di hari pernikahan mereka.

__ADS_1


Kesalahan yang cukup besar, bahkan jika ini berakhir dengan dirinya menjadi suami yang tidak dicintai. Tidaklah mengapa, dirinya tetap ingin menggantikan posisi Michael.


Berusaha tetap bersabar dengan segalanya. Menyadari bagaimana perasaan Claudia kala dirinya bersama Erlina. Mungkin sama dengan ini, atau lebih menyakitkan?


"Terimakasih Michael..." Ucap salah seorang karyawan, membuat lamunan Evan buyar. Matanya melirik menatap ke arah pemuda tengil itu.


Pemuda yang memakai seragam office boy, benar-benar membuat tekanan darahnya naik.


"Ada gosip baru?" tanya Michael menyajikan beberapa minuman lagi.


"Ada! Sudah dengar belum, manager bagian HRD, memegang dada calon karyawati baru?" Karyawan berjas biru itu berucap dengan serius.


"I...itu tidak bermoral! Kenapa tidak melapor!?" Michael mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Kamu terlalu polos, tidak akan mengerti tentang jalannya dunia! Malahan calon karyawati baru itu rela diantar pulang. Sudah pasti check in, lalu tanpa tes lebih lanjut dia akan diterima kerja!" Seorang karyawan berkacamata ikut-ikutan bergosip.


"Tentu saja, kebutuhan untuk hidup di kota tinggi. Untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan terkemuka, bukan hanya butuh pendidikan yang mempuni, tapi koneksi dan uang juga penting. Tapi bagi yang tidak memiliki kecerdasan, pengalaman, koneksi, ya... menggunakan tubuhnya mungkin bisa." Ucap karyawan berjas biru.


Michael menghela napas berkali-kali mencatat menggunakan buku kecilnya. Dirinya yang sudah menikah sampai saat ini masih perjaka. Sedangkan ada wanita lain yang demi pekerjaan mau-maunya tidur dengan pria yang sudah ubanan.


Entah kapan Claudia bersedia mengambil keperjakaannya. Dirinya berjanji, jika Claudia mau, dirinya akan pasrah menyerahkan diri pada yang mulia istri.


"Kamu sedang mencatat apa?" Tanya karyawan berkacamata.


"Aku sedang mencatat kebiasaan karyawan disini, karena kemarin aku tidak sengaja masuk ke ruang rapat. Melihat ada yang berbuat mesum. Lalu aku dipukuli dan terancam dipecat." Keluh kesah Michael.


"Aku iba padamu! Karena itu jika ada yang semena-mena katakan saja pada kami." Ucap karyawan berkacamata.

__ADS_1


"Kalian tidak perlu mencemaskan orang ini! Seharusnya kalian mencemaskan diri kalian sendiri jika bicara terlalu banyak padanya." Evan tiba-tiba mendekat tidak tega melihat adegan menyedihkan dari para bawahannya.


"Maaf, pak Evan. Saya tidak sengaja bicara pada jam kerja. I...ini karena saya jarang bergaul, kecuali dengan istri saya. Kami baru saja berusaha membuat anak (tidur sambil berpegangan tangan) semalam. Jadi saya sedikit mengantuk harus mencari teman bicara agar tidak---" Kalimat Michael disela.


"Aku tidak peduli dengan apa yang kamu lakukan dengan istrimu." Evan menghela napas kasar, berusaha tersenyum."Tapi aku pastikan kamu tidak akan berada di ranjang istrimu lagi."


Michael tersenyum, berjalan melewati Evan, meletakkan secangkir kopi di atas mejanya."A...aku sudah menikah pada kenyataannya. Kenapa merasa menyesal, karena aku sudah menikah?" pertanyaan ambigu dari Michael.


Pemuda yang tetap tersenyum, melangkah pergi. Perlahan Evan tertawa sumbang, wajahnya tersenyum."Dasar bermuka dua!"


Semua orang yang ada di departemen itu menyaksikan segalanya. Apa yang ada dalam pemikiran mereka?


Sebuah pembicaraan ambigu, apa sejatinya Evan sempat menjadi kaum pelangi dan Michael mantan kekasihnya? Tapi keduanya sepakat untuk hidup normal. Jadi beberapa bulan lalu Evan bersama Erlina, sedangkan Michael menikah. Sudah pasti ini pembicaraan ambigu saling menyindir dari mantan kekasih yang sering bermain pedang-pedangan.


Menelan ludah kasar, mereka menahan gosip itu dalam fikiran mereka masing-masing.


*


"Jadi apa yang kalian bicarakan?" tanya Claudia pada Tara, yang hari ini mendatangi perusahaan, setelah kemarin memeriksa laporan tentang usaha sampingan Claudia.


"Masa depan kami. Claudia kamu bilang akan menceraikannya setelah setahun bukan? Kemudian menjadikannya sebagai adik angkatmu?" Tanya Tara antusias.


"Be... benar!" Jawaban Claudia tetap tersenyum, bagaikan memendam kekesalan.


"Aku bersedia menjadi adik iparmu! Aku akan menikahi berondong yang kamu ceraikan. Membuat beberapa anak dengannya. Anak-anak yang setampan malaikat. Tentunya tidak boleh mirip denganku. Aku janji akan setia mengabdi padamu seumur hidupku, jika kamu memberikan aku restu untuk menikah dengan Michael..." Tara menghela napas kasar. Senyuman menyungging di wajahnya, jika Claudia melepaskan Michael maka dirinya akan langsung menyambar. Tapi akan lebih bagus jika Claudia murka.


"Apa kamu sudah gila! Dia itu suamiku!" Bentak Claudia.

__ADS_1


"Suami? Apa kamu pernah berhubungan dengannya? Maksudku...kamu masih perawan sampai sekarang bukan? Bagaimana jika aku mencoba mengambil keperjakaan suamimu?"


__ADS_2