
Cukup malas rasanya untuk menghadiri pertemuan saat ini. Namun, jabatan direktur utama saat ini masih dipegang oleh orang yang ditunjuk pada rapat pemegang saham sebelumnya, kala kedua orang tuanya masih hidup.
Mengapa bukan dari keluarganya saja yang menjadi direktur utama? Almarhum ayah Claudia cukup menjunjung netralitas. Saham yang juga dimiliki oleh Wendy dan beberapa pemegang saham lain, membuatnya lebih menginginkan posisi di bawah direktur utama. Agar dapat juga menyisihkan waktu untuk keluarganya.
Dari sanalah masalah ini dimulai, dirinya saat ini memegang 52% saham milik almarhum kedua orang tuanya. Jika pemegang saham lain memihak pamannya, maka kondisi perusahaan dapat dipastikan akan bermasalah. Karena itu dirinya harus hadir dalam pertemuan kali ini.
Membeli sekitar 15% saham hanya untuk investasi? Jika memihak dirinya mungkin akan lebih baik.
Berjalan memasuki area rumah yang cukup luas. Beberapa orang dari kalangan atas terlihat, bukan pesta yang besar tapi nilai ke eksklusifan pesta tersebut benar-benar terlihat. Menyewa EO dengan nilai tinggi, dekorasi, semuanya menawan.
Berapa dana yang dihabiskan pamannya hanya untuk menyambut orang yang mungkin baru dua kali ditemuinya? Entahlah, ini bagaikan suap, atau mungkin kegiatan mencari perhatian?
"Claudia..." Evan yang tengah bicara dengan beberapa orang datang menghampirinya. Seperti biasanya, tampilan menawan menarik perhatian wanita manapun yang melihatnya.
Kecerdasan? Relasi? Segalanya dimilikinya yang telah bekerja keras di perusahaan selama 12 tahun. Tidak heran banyak wanita kalangan atas yang mengincarnya walaupun berasal dari keluarga biasa.
"Tamu utamanya sudah hadir?" Claudia menghela napas kasar, matanya menelisik ke arah sekitar.
"Belum, tapi kali ini yang tiba-tiba membeli saham dengan nilai tinggi bukan pengusaha biasa. Nilai investasi pada proyek baru, dirinya memberikan investasi dalam jumlah besar. Bagaimana ya menjelaskannya? Dia dari keluarga Prahaja..." Jawaban dari Evan.
"Keluarga Prahaja? Kenapa tiba-tiba---" Kalimat Claudia disela.
"Almarhum Argon, putra sulung keluarga Prahaja memiliki seorang istri, berasal dari Jepang. Dia masih menjadi nyonya rumah bahkan setelah kematian suami dan putranya. Aset pribadinya bernilai tinggi, dapat dikatakan dia hanya seorang menantu, tapi memiliki kekuasaan yang tinggi. Sampai sekarang Yuki (istri almarhum Argon) masih bertentangan dengan ipar dan mertuanya. Mempertahankan apa yang menjadi milik almarhum suaminya." Penjelasan singkat dari Evan, setelah mencari informasi dari beberapa orang.
"Jadi yang akan berinvestasi wanita dengan perjuangan sia-sia?" Claudia mengenyitkan keningnya.
__ADS_1
"Perjuangan sia-sia?" Tanya Evan tidak mengerti.
"Suami dan putranya sudah meninggal. Jikapun dia menikah lagi dan memiliki anak lagi, dia hanya dapat mewariskan properti pribadinya. Tapi tidak dengan properti almarhum suaminya. Jika tetap tidak menikah, hasilnya akan sama saja, setelah dia meninggal warisan akan tetap jatuh ke tangan ipar dan mertuanya. Dalam artian perjuangan mengumpulkan uang yang sia-sia." Claudia meraih segelas wine kemudian meminumnya sedikit.
"Iya, jika difikirkan benar juga. Dia mengumpulkan uang dan kekuasaan selama puluhan tahun. Tapi tetap hanya akan menjadi milik ipar, dan mertuanya. Aku cukup iba padanya, hidup kesepian tanpa suami dan anaknya yang sudah meninggal." Evan menghela nafas berkali-kali.
"Memang apa penyebab kematian suami dan putranya?" tanya Claudia penasaran.
"Terlalu dimanjakan, putranya tiba-tiba ingin berkemah di hutan dengan tunangannya. Tuan Argon yang membawa kedua anak itu ke hutan. Tapi hanya tunangan tuan muda yang kembali, mengatakan perkemahan mereka hancur karena diserang binatang buas. Saat menyusuri lokasi, mereka menemukan tuan muda menyeret mayat ayahnya. Beberapa hari kemudian tuan muda yang masih berusia 6 tahun meninggal akibat mengalami stres berat, menyalahkan dirinya sendiri atas kematian ayahnya." Cerita sekilas dari Evan. Informasi yang didapatkannya dari beberapa orang yang hadir dalam pesta kali ini.
"Kejadian yang tiba-tiba, lalu tunangan almarhum anak Yuki? Pasti ada kesaksian kan? Bagaimana tiba-tiba ada binatang buas---" Kalimat Claudia lagi-lagi disela.
Pemuda itu menggeleng."Dia hanya mengatakan kawanan serigala, tapi terkadang dia juga mengatakan sekelompok kucing hutan. Apa yang dapat dilakukan dengan kesaksian anak berusia lima tahun? Anak itu sekarang juga sudah menjalani hidup normal. Pendidikannya dibiayai oleh nyonya Yuki, saat ini masih tinggal di Jepang. Mungkin Yuki menghargai orang yang dicintai almarhum putranya."
Claudia menipiskan bibir menahan tawanya."Percintaan bocil berumur 6 tahun..." gumam wanita itu. Pada akhirnya tertawa juga.
"Panti asuhan? Panti asuhan mana?" Claudia menghentikan tawanya. Menghela napas kasar, jemari tangannya mengetuk-ngetuk pada meja.
"Tidak tahu!" Evan terkekeh, tidak memiliki informasi lengkap.
"Tapi jika ini bukan cerita sentimentil, mungkin saja pembunuhan. Anak berusia lima tahun itu (tunangan putra Yuki) terlibat. Tau segalanya tapi menyembunyikan." Asumsi dari Claudia.
"Entahlah, tapi tidak boleh asal bicara. Bisa saja benar-benar serangan binatang buas." Evan menghela napas sejenak, menatap ke arah Claudia."Aku ingin bicara hal penting denganmu nanti," hanya itulah yang diucapkannya berlalu pergi.
Pemuda yang tersenyum, matanya sedikit melirik ke arah Erlina yang tengah mengawasinya. Kesal? Tidak ini lebih pada mati rasa. Wanita yang tengah berbicara dengan beberapa pebisnis yang hadir.
__ADS_1
Cukup lama, benar-benar lama tamu utama di pesta ini belum datang juga. Claudia tengah duduk, terlalu lelah untuk berdiri. Satu jam telah menunggu tamu yang juga tidak kunjung datang.
"Suamimu tidak datang?" tanya Erlina penuh senyuman.
"Aku menyembunyikannya dari wanita murahan. Tubuhnya hanya aku yang boleh menyentuh." Kalimat penuh senyuman dari Claudia.
"Tidak perlu berakting, kamu tidak mungkin menyukainya kan?" Erlina mengenyitkan keningnya, berusaha untuk tersenyum.
"Kamu juga tidak menyukai Evan, tapi melakukan aktivitas ranjang dengannya. Apa salahnya jika aku menyukai suamiku dan melakukan aktivitas ranjang dengannya?" Claudia mengenyitkan keningnya tidak mau kalah.
"Tentu saja, ada lebih banyak pria yang lebih baik dari Evan. Kamu tau? Ayahku sempat memberikan foto dan profilku beberapa hari lalu. Putra dari nyonya Yuki masih hidup. Tanpa memiliki perusahaan keluarga, status sosialku akan lebih tinggi darimu, setelah menikah dengannya." Celoteh Erlina bagaikan burung beo yang berkicau.
"Jadi itu tujuannya berinvestasi? Mencari calon istri untuk putranya yang katanya masih hidup?" Claudia mengenyitkan keningnya seakan ingin tertawa. Dikatakan sudah mati puluhan tahun lalu, dan sekarang ternyata masih hidup? Entahlah, lelucon apa ini...
Yang jelas dirinya harus pulang lebih cepat, membawa sebungkus martabak pesanan Michael. Kemudian mungkin, akan... akan....bangun siang mengingat besok hari minggu.
Suara mobil terdengar, Wendy (paman Claudia) terlihat berlari keluar menyambutnya. Seorang wanita paruh baya yang benar-benar cantik, berpenampilan klasik.
"Terimakasih sudah datang..." Ucap Wendy.
"Saya yang seharusnya berterimakasih karena anda sudah repot-repot mengadakan pesta." Yuki tersenyum ramah.
Menyusul di belakangnya, sebuah mobil ikut terparkir. Sang supir bergerak cepat membukakan pintu."Ada yang anda perlukan lagi tuan muda?" tanya sang supir.
"Tidak..." Jawaban dari sang pemuda, berjalan ke arah Yuki.
__ADS_1
"Kenapa harus datang dengan mobil terpisah? Ibu."