Topeng Suami Buruk Rupa

Topeng Suami Buruk Rupa
Bab 61. Dipecat


__ADS_3

"Kenapa harus kembali?" Pertanyaan dari Michael mengecup keningnya.


"Apa kamu berniat menguasai perusahaan?" Claudia mengenyitkan keningnya.


Dengan cepat Michael mengangguk."Aku ingin kamu terikat denganku. Direktur utama yang lama, posisinya akan aku kembalikan setelah mengakuisisi perusahaan, menjadikannya anak cabang perusahaan milik ibu."


"Kejam!" Claudia menghela napas kasar.


"Aku seperti ini karenamu..." Michael terkekeh.


Suasana sarapan yang hening sejenak. Claudia terdiam sedikit melirik ke arah Michael. Ingat! Dirinya kini cemburu, tidak boleh mengelak lagi.


"Selama kita berpisah, kamu melakukannya dengan Erlina. Bahkan seminggu dua kali?" Pertanyaan yang sukses membuat Michael tersedak.


Mengambil segelas air putih kemudian meminumnya."Dengan Erlina!? Seminggu dua kali!? Aku harus banyak belajar, menjalin relasi untuk menaklukkan dua perusahaan dan satu hotel. Agar dapat segera mendapatkan kepercayaan ibu. Mana sempat aku untuk... jika pun sempat, aku sudah bilang akan melakukannya hanya denganmu."


"Benarkah?" tanya Claudia bagaikan tidak percaya.


Michael mengangguk, senyuman tiba-tiba menyungging di bibirnya."Hari ini sedikit terlambat bekerja ya?"


"Kenapa?" tanya Claudia tidak mengerti.


"Sudah kenyang?" Michael malah kembali bertanya.


Dengan cepat Claudia mengangguk. Michael tersenyum padanya, menarik Claudia dalam pangkuannya. Dengan posisi wajah kini saling berhadapan.


"Michael! Pakaian kita sudah rapi!" Bentak Claudia.


"Benar tidak mau?" Pertanyaan darinya, membuka kancing kemeja istrinya. Kemudian mengecup bibirnya.


Jika difikirkan sekali lagi, siapa yang tahan melihat wajah rupawan ini? Dirinya bagaikan akan mati terkena serangan jantung. Membiarkan pakaian mereka kembali teronggok di lantai. Bahkan kini Claudia bertindak lebih liar, memimpin permainan, saling berpangutan dalam tubuh yang menyatu. Hingga akhirnya rasa hangat itu terasa, tubuh mereka bergetar saling mendekap. Ini gila sensasi yang benar-benar gila.


*


Tepat pukul 12 siang dirinya melangkah menuju lobby kantor. Segalanya memang berasal dari kesalahpahaman.

__ADS_1


"Sampai jumpa nanti malam, sayang..." Teriak Michael masuk ke dalam mobil. Entah sejak kapan suaminya bisa menyetir.


Tapi bukan itu yang dicemaskan olehnya."Sampai jumpa nanti malam apanya!? Setan! Lututku masih gemetar!" Batin Claudia berjalan bagaikan nenek di panti jompo.


Ini gila! Setiap ada kesempatan Michael akan memeluk dan menciumnya, ujung-ujungnya sudah pasti berakhir dengan aktivitas ranjang. Menghela napas berkali-kali, mungkin ini karena memiliki suami lebih muda, staminanya keterlaluan. Berusaha melangkah normal.


"Claudia kemana saja kamu beberapa hari ini? Kata Tara kamu sakit? Keadaan perusahaan saat ini kacau. Pamanmu melakukan banyak hal gila." Evan yang baru saja akan keluar makan siang berjalan mendekatinya.


"Aku? Aku menyelamatkan dunia dari kepunahan populasi." Jawaban dari Claudia, merasakan beberapa hari ini, dirinya memang berusaha menjadi superhero yang mencegah kepunahan manusia dengan berkembang biak.


"Aku serius kamu kemana saja? Pamanmu bahkan membuatkan surat peringatan untukmu, cepat atau lambat dia akan mencari kesempatan menyingkirkanmu." Pertanyaan dari Evan kembali keluar.


"Berbulan madu, Michael tidak pernah benar-benar membenciku, ini salah paham..." Kalimat yang keluar dari mulut Claudia, membuat Evan terdiam sejenak.


Bibirnya bergetar berusaha untuk tersenyum."Baguslah..."


"Kami sempat bicara, dia cemburu padamu. Pada hal setelah kejadian dulu, kita hanya sahabat." Claudia tersenyum, kalimat darinya menjaga batasan.


"Begitu? Iya, padahal kita teman." Sekali lagi, pemuda itu berusaha keras untuk tersenyum di hadapan Claudia. Menghela napasnya yang terasa sesak, bagaikan ribuan jarum menusuk paru-parunya.


Claudia terdiam sejenak, berjalan mendekati Evan."Aku mengingatnya, kejadian saat aku mabuk di pesta terakhir. Sebelumnya aku minta maaf, jika waktu terulang dan pernikahan terjadi, aku akan bersyukur karena kita dulu saling mencintai. Tapi waktu tidak dapat terulang, sumpah setiaku sudah pada orang lain. Awalnya aku tidak mencintainya dan ingin bercerai darinya. Tapi menerima kenyataan itu lebih nyaman. Evan sekarang aku mencintainya, kamu juga akan menemukan orang yang mencintaimu."


Claudia menepuk bahu sahabatnya, berjalan meninggalkannya terdiam di lobby.


Evan mengangguk kemudian tersenyum, air matanya mengalir. Ini memang berasal dari sebuah kesalahan. Andai, jika kata andai itu ada, dirinya tidak terpengaruh oleh Erlina, Michael tidak akan ada diantara mereka.


Ikhlas merupakan hal yang sulit. Namun, wajahnya tersenyum, sahabatnya Claudia memberikan harga diri untuknya. Tidak mencemooh atau membencinya. Kata sahabat, itu artinya mereka dapat sama seperti dulu.


"Terimakasih..." Gumamnya menatap punggung sahabatnya yang mulai memasuki lift. Apa dapat mengubur perasaan yang tumbuh berlandaskan kebersamaan? Tidak akan mudah, namun setidaknya Claudia tidak membenci dirinya.


Sementara Michael yang baru melajukan mobilnya beberapa belas meter sempat melangkah keluar kembali. Menatap keberadaan Evan di lobby. Pemuda yang tersenyum mendengar segalanya, Claudia yang benar-benar jujur kali ini.


Menghela napas kasar, haruskah istrinya kembali mendapatkan kepercayaannya?


*

__ADS_1


Wanita itu berjalan menaiki lift, kala itu semua pandangan mata tertuju padanya. Keadaan perusahaan benar-benar kacau balau. Wendy selaku direktur utama merekrut beberapa karyawan baru sebagian besar merupakan kerabatnya.


Sedangkan orang-orang yang menentangnya telah disingkirkan.


"Bu Claudia! Syukurlah Bu Claudia sudah datang! Pak Wendy berdebat dengan partner bisnis kita. Orang yang biasanya---" Kalimat Fransiska disela.


"Sudahlah biarkan saja, aku berencana menjual semua sahamku. Terkadang aku harus mengalah pada playboy gila itu..." Claudia menghela napas berkali-kali.


"Playboy gila? Anda berurusan dengan Micky?" Fransiska mengenyitkan keningnya.


"Bisnis adalah bisnis, masalah pribadi adalah masalah pribadi. Aku tidak bisa mengambil resiko kerugian jika bertahan." Jawaban lancar dari Claudia.


"Tapi SP 2 sudah dikirim pada anda. Karena anda terlalu banyak absen. Terlambat hari ini mungkin pemecatan---" Kalimat serius dari Fransiska disela.


"Aku akan dipecat? Tidak apa-apa, aku juga sudah kaya tanpa bekerja. Tara sudah menghubungiku, katanya pendapatan dari resort dan restauran sudah kembali normal." Gumam Claudia mulai berbaring di sofa ruangannya. Terlalu santai memang, jika saja dirinya tahu hanya harus merayu suaminya sudah dilakukannya dari dulu.


Travel agen yang bekerja sama dengan resort dan restauran miliknya menghubungi kembali, bahkan ada beberapa perusahaan asing yang menghubungi memesan kamar untuk keperluan event.


Sudah pasti ini perbuatan Michael. Segalanya bagaikan papan catur untuknya, menggerakkan sesuai keinginannya.


"Tapi bagaimana dengan aku!? Selain itu ini perusahaan keluargamu! Seharusnya akan diwariskan pada anak-anakmu nanti!" Bentak Fransiska mengguncang-guncang tubuh sahabatnya. Ini satu-satunya mata pencahariannya, tapi sahabatnya dengan santai mengatakan menyerah.


"Bekerja seperti Tara, nanti aku bukakan usaha lain dari hasil menjual saham. Sudah! Biarkan aku tidur! Pinggangku sakit karena harus bekerja semalaman." Kalimat santai dari Claudia kembali berbaring di atas sofa.


"Memang semalam kamu kerja apa!? Tara bilang kamu hamil! Tapi mana mungkin kamu hamil!" Komat-kamit mulut Fransiska mengomel, ingin sahabatnya bangkit. Jujur dirinya benar-benar ketakutan jika Claudia dipecat dari posisinya sebagai wakil direktur.


"Aku? Menjadi wanita penghibur. Tidak tahu wanita penghibur? Aku pakai istilah lain, wanita bayaran, kupu-kupu malam, wanita yang menemani pria kesepian." Lagi-lagi Claudia begitu jujur dan terbuka, sungguh wanita yang baik.


"Ta...tapi ini perusahaan milik orang tuamu. Jika---" Fransiska terdengar ragu-ragu mengucapkannya.


"Tidak apa-apa, perusahaan ini akan tetap menjadi milik anakku. Setelah aku menjual saham pada Micky." Wanita acuh kembali tidur.


Brak!


Pintu tiba-tiba terbuka, Wendy dan Erlina terlihat disana.

__ADS_1


"Ayah ...pada akhirnya posisi ini menjadi milikku?" Tanya Erlina penuh senyuman kemenangan. Sedangkan ayahnya melangkah membawa surat pemecatan untuk Claudia.


__ADS_2