
Deru napasnya tidak teratur, air matanya mengalir. Baru saja terbangun dari mimpi buruk yang terasa benar-benar nyata. Mimpi? Apakah itu kepingan memori masa kecilnya?
Dirinya memeluk tubuh Claudia erat, menyingkap anak rambut yang menutupi wajah istrinya. Jarinya begitu pelan, dua orang yang saling mendekap hanya berbalut selimut hangat."Ini nyaman..." gumam Michael.
Tidak ada bukti atau saksi, dirinya menghela napas berkali-kali. Ibunya sempat menanyakan apa yang terjadi di tengah hutan. Tapi sampai saat ini dirinya tidak dapat mengingatnya dengan jelas.
Keluarga ayahnya juga, tidak ada satupun yang menyambutnya hangat, bahkan kakeknya sendiri.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ayah meninggal?" gumamnya lirih.
Kala itulah Claudia membuka matanya."Kamu terbangun? Apa mimpi buruk lagi?" tanyanya.
Michael tidak menjawab, hanya memeluk tubuh istrinya seakan takut akan kehilangannya.
"Tentang apa?" tanya Claudia, menatap mata suaminya lekat. Entah kenapa terdapat banyak luka disana.
"Aku tidak ingat jelas. Mungkin seorang anak yang terlalu dimanjakan sang ayah. Hingga menjadi penyebab kematian ayahnya." Jawaban jujur darinya.
"Begitu? Jika tidak ingin cerita, jangan cerita. Aku akan terus bersamamu." Claudia menghela napas kasar. Tidak ada jawaban sama sekali, semuanya berbalut kebisuan.
Dirinya hanya terdiam. Apa yang harus dilakukannya, jika Michael memang tidak ingin mengatakan segalanya? Entahlah...
"Sayang... tidurlah..." pinta Michael mengecup Claudia pelan. Hanya menurut dan memejamkan matanya, itulah yang dilakukan Claudia.
"Aku bersalah..." gumam pemuda itu menitikkan air matanya kala menyadari Claudia sudah kembali tertidur lelap.
*
Wakil direktur, itulah posisi yang dimiliki Erlina saat ini. Dirinya menatap pekerjaan yang menumpuk di hadapannya. Tidak ada evaluasi atau semacamnya.
"Serahkan ke bagian keuangan dan perencanaan!" perintahnya, tengah membalas beberapa pesan, serta membuka sosial media.
Seorang karyawan menunduk bingung. Claudia merupakan orang yang teliti, sedangkan Erlina? Bagaikan angkat tangan dengan urusan perusahaan. Setiap hari datang jam setengah 11 siang, pulang pukul 3 sore, hanya untuk setor wajah. Pernahkah kalian bertemu atasan yang demikian? Mungkin pernah.
"Ta...tapi Bu ini perlu tandatangan anda." Ucap sang karyawan gugup.
"Bilang dari tadi! Ini untuk proyek di gedung HR kan?" tanyanya dijawab dengan anggukan oleh sang karyawan.
__ADS_1
"Dimana saja saya harus tandatangan?" tanya Erlina lagi.
"Tapi ini baru usulan dari perusahaan yang bekerja sama dengan kita. Perlu diadakan rapat dan revisi agar tidak keuntungan---" Kalimat sang karyawan disela.
"Mereka perusahaan terkemuka, tentu saja akan memberikan keuntungan yang adil! Sudah jangan banyak bicara!" Erlina membuka berkas, tandatangan hanya dengan membaca judulnya saja.
"Ta... tapi---" Sang karyawan tertunduk ragu.
"Mau saya pecat!?" Pada akhirnya kalimat sakti itu keluar juga. Sang karyawan hanya dapat menunduk undur diri.
Sedangkan Erlina menghela napas kasar, melirik ke arah jam dinding yang masih menunjukkan pukul satu siang. Entah kapan jam itu akan menunjukkan pukul 3.
Hingga satu pengganggu lagi masuk. Kali ini tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Erlina! Apa maksudmu mengalihkan proyek ke divisi lain!" Bentak Evan sudah tidak tahan lagi dengan ulah wanita ini. Perusahaan benar-benar kacau balau dalam waktu singkat setelah Claudia dipecat secara tidak hormat.
Erlina mencoba mengatur suaranya agar terlihat tenang. Jujur saja, dirinya tidak benar-benar ingat, berkas apa saja yang sudah ditandatanganinya beberapa hari ini.
"Keputusan itu aku ambil, karena kamu tidak becus!" Jawaban asal darinya.
"Tidak becus darimananya? Cuma aku yang mengenal klien ini dengan baik! Dia klien yang sulit, tapi royal jika permintaannya terpenuhi! Kamu ingin mengambil resiko dengan memberikannya pada keponakan jauh pamanmu! Yang bahkan baru saja wisuda!" Teriak Evan murka.
"Tidak perlu dinasehati! Aku mengundurkan diri!" Evan berjalan meninggalkan ruangan tanpa menoleh sama sekali.
Untuk bicara pun rasanya benar-benar kelu. Bibirnya kering, pada akhirnya meminum air putih di hadapannya. Namun, mungkin suhu udara yang terlalu panas atau dirinya yang terlalu haus. Erlina tersedak kala suara telpon berdering terdengar.
"Maaf Bu...ini dari bagian resepsionis. Ada yang ingin bertemu dengan ibu. Katanya dia kenalan Micky." Suara sang resepsionis terdengar.
Dirinya menghela napas kasar. Kemungkinan besar itu adalah keluarga besar Micky yang ingin menemuinya, akibat isu yang beredar baik di kalangan sosialita, maupun pebisnis. Tentang dirinya yang merupakan kekasih Micky. Berita yang sejatinya disebarkan olehnya Erlina. Lagipula sudah pasti bukan Micky menyukai dirinya. Jika tidak begitu bagaimana mungkin memusuhi Claudia karenanya.
Senyuman menyungging di wajahnya."Suruh dia masuk. Hubungi juga bagian pantry. Minta mereka membawa dua coffee latte ke ruanganku." perintah Erlina menghela napas kasar.
Apa ini ibu mertuanya? Atau mungkin Micky memiliki saudara? Entahlah dirinya hanya merapikan penampilannya. Bersiap-siap akan masuk ke keluarga kalangan atas.
Hingga beberapa menit berlalu, suara pintu hendak terbuka terdengar. Berusaha tetap tersenyum, keluarga Micky artinya sebagian besar bukan dari kalangan biasa.
Tak!
__ADS_1
Tak!
Tak!
Suara langkah menelusuri lorong terdengar."Silahkan masuk, Bu Erlina sudah menunggu di dalam..." Ucap seorang wanita yang baru beberapa hari lalu menjadi sekretaris Erlina.
Pintu terbuka lebar, seorang wanita muda terlihat. Mungkin seusia atau lebih muda dari Micky. Kulitnya putih bersih, dengan rambut hitam panjang bergelombang. Memakai pakaian berkelas, bukan pakaian terbuka, mini dress klasik, aura wanita baik-baik terasa menyengat.
"Maaf apa kamu yang bernama Erlina?" tanya wanita itu penuh senyuman ramah.
"Iya, saya Erlina calon istri Micky." Erlina berdiri dari tempat duduknya, memperkenalkan diri.
Wanita itu mendekat, bagaimana ini? Apa wanita ini akan mudah akrab dengannya? Sudah pasti, jika itu saudaraku Micky.
Plak!
Satu tamparan tiba-tiba mendarat di pipinya. Orang ini benar-benar gila, menarik rambutnya dengan kasar."Aku kira cantik, ternyata biasa-biasa saja. Dengar! Jangan pernah memanggil tunanganku dengan nama kecilnya. Karena hanya aku dan keluarganya yang boleh."
Plak!
Erlina menepis tangan sang wanit."Kamu siapa!?" bentaknya.
"Aku tunangan Micky. Namaku Selfia, aku peringatkan sekali lagi. Jangan mencoba merebut posisiku. Atau kamu akan tau akibatnya." Suara ancaman dari wanita yang baru datang dari negara lain itu. Wanita yang segera kembali setelah mendengar kabar kepulangan Michael.
"Jika Micky menyukaiku, lalu kenapa?" Erlina tersenyum, bagaikan menunjukkan tantangannya.
Plak!
Satu tamparan lagi dilayangkan Selfia. Erlina yang naik darah, mulai beringas bagaikan kucing mencakar kulit Selfia yang dapat dijangkaunya. Adegan jambak-jambakkan dan cakar-cakaran pun terjadi.
"Wanita sialan!"
"Wanita murahan!"
"Wanita penggoda!"
"Mak Lampir!"
__ADS_1
"Mak Erot!"