
Suasana yang canggung. Berselingkuh? Apa wanita ini bercanda? Bagaimana bisa dirinya bersaing dengan seorang Claudia yang dapat merubah rakyat jelata tampan (Evan) menjadi pangeran cerdas idaman wanita?
"Intinya aku ingin bicara denganmu. Ini hal yang penting, tentang semalam." Kalimat yang diucapkan oleh Tara membuat Michael terdiam sejenak.
Tatapan matanya beralih."Kita memang harus bicara tentang hal yang terjadi semalam."
Semalam? Apa ini one night stand? Kenapa Tara tega meniduri suami sahabatnya sendiri? Maaf, salah calon adik angkat sahabatnya sendiri. Karena sejatinya Claudia hanya menyukai pria tampan.
"Mi... Michael apa yang terjadi semalam? Bukannya semalam kamu menemaniku di hotel." Claudia tergagap, tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi ini. Michael akan direbut oleh Tara.
Apa yang ada dalam bayangannya? Tara dan Michael berkencan, setelah bercerai dengannya segera menikahi Tara. Berciuman, tidur bersama, melakukan itu, kemudian Michael setiap hari menyiapkan sarapan untuk Tara. Tara hamil, melahirkan anak Michael. Sepasang anak perempuan dan laki-laki, bertahun-tahun kemudian dua orang pengkhianat itu tua bersama melihat cucu-cucu dan cicit mereka. Bahkan saat mati kuburannya pun berdampingan.
Lalu dirinya? Akan merana tanpa ciuman calon adiknya tersayang.
"Iya, tapi sepertinya Tara mengetahui sesuatu. Aku akan pergi agak lama." Ucap Michael tersenyum tulus, mengecup kening Claudia. Berlalu keluar dari ruangan mendahului Tara.
Tara menahan tawanya. Tidak cinta apanya? Rencana brilian apanya? Tidak cemburu!? Claudia memang tidak cemburu, tapi hanya murka bagaikan ingin menjambak-jambak dirinya.
Ini menarik, bagaimana jika menambahkan bensin."Semalam aku dan Michael, melakukan hal yang tidak pernah kalian lakukan. Dia cukup ahli..."
"Ka...kamu! Kamu aku pecat!" Bentak Claudia tiba-tiba.
"Tidak bisa, karena aku orang kepercayaanmu. Jika aku dipecat, semua tugasku akan diserahkan pada Fransisca dan Dio. Tau artinya? Mereka akan mengundurkan diri karena beban pekerjaan yang terlalu banyak. Kamu akan terlalu sibuk saat mereka sudah berhenti. Saat itulah aku akan kembali bersama Michael." Penjelasan yang membuat Claudia semakin panas. Entah karena AC rusak atau suhu ruangan memang semakin tinggi.
"Jangan dekati suamiku!" Geram Claudia.
"Aku mengerti, tapi jangan ceraikan Michael. Tidak baik mempermainkan hati seseorang, apalagi menganggap sebuah pernikahan adalah bisnis." Hanya itulah yang diucapkan Tara sebelum kembali melangkah menyusul Michael.
Pintu itu tertutup di hadapannya. Tangan Claudia gemetar, tidak ini adalah tekadnya. Hidup bahagia dengan suami yang lebih baik dari Evan. Setelah setahun dirinya akan bercerai dengan Michael.
*
__ADS_1
Area parkir bawah tanah? Itulah tempat mereka berada saat ini. Pemuda yang menaiki kursi penumpang bagian depan. Segera setelah Tara masuk ke kursi pengemudi.
Hari itu sedikit mendung, walaupun hujan tidak turun sama sekali. Menatap ke arah jalan di sekitarnya. Hamparan padi yang menguning terlihat lebih indah daripada pemukiman kumuh atau gedung mewah bertingkat sekalipun. Ini bukanlah tempatnya, berapa kali dirinya dapat menginjak tanah selama berada di tempat ini?
Hampir sama sekali tidak pernah, tidak ada tanah lapang yang terlihat. Ataupun semilir angin yang menyejukkan. Jujur saja satu hal yang membuat tempat ini lebih indah daripada di desa adalah Claudia.
"Kamu sudah melihatnya? Jangan katakan pada Claudia!" Peringatan dari Michael, matanya tetap menatap ke arah jendela mobil.
"Baik! Aku juga tau secara tidak sengaja. Karena Claudia mengatakan ada tanda keunguan di belahan dadanya. Dia terlalu percaya padamu! Kamu tidak mungkin melakukannya. Itu mungkin efek peredaran darah yang tidak lancar." Tara terkekeh, dirinya mendapatkan tugas dari Claudia untuk menyelidiki siapa saja yang masuk ke kamar hotel selain Michael. Tapi bahkan yang menjemput Claudia bukan Michael sama sekali. Seorang pemuda berparas menawan, mengangkat tubuh Claudia.
Pria yang keluar masuk kamar hotel. Hingga pada akhirnya pemuda itu membawa koper berukuran kecil. Itulah terakhir kali sang pemuda terlihat. Jika deduksinya tidak salah, pria itu dan Michael adalah orang yang sama.
"Jadi itu alasanmu tidak ingin pergi ke dokter kulit karena luka di wajah yang tidak kunjung sembuh?" Tara menghela napas kasar. Jika Claudia yang penggemar berat pria tampan mengetahui wajah Michael dapat dipastikan Michael akan dikurung dalam kamarnya. Tidak pernah diijinkan keluar.
Michael mengangguk."Dia tidak menyukai pria tampan."
Kalimat yang membuat Tara tertawa kencang hingga memegangi perutnya. Tidak menyukai pria tampan? Lalu apa kelebihan Evan. Astaga! Dirinya harus menjelaskan segalanya pada Michael. Agar tidak ada kesalahpahaman.
*
Satu? Tidak ada berbagai garpu dan sendok dari beberapa ukuran, bahkan pisau juga. Tidak semua pisau penggunaannya sama. Bagaimana orang yang kerjanya bergaul dengan sapi dapat mengetahui hal ini?
"Seperti yang aku katakan tadi ada yang ingin aku bicarakan." Ucapnya sopan.
Michael tersenyum ramah, tidak menjawab sama sekali.
"Michael, aku ingin minta maaf atas nama Claudia. Sebenarnya---" Kalimat Tara disela.
"Claudia menikahiku agar warisan kedua orang tuanya jatuh ke tangannya bukan? Dia tidak mencintaiku." Michael menghentikan aktivitas makannya sejenak.
"Kamu tau?" Bibir wanita itu bergetar tertunduk penuh rasa bersalah.
__ADS_1
Pemuda yang hanya mengangguk, sembari tersenyum."Itu tidak masalah, menjadi kesetnya pun tidak masalah."
"Ke... kenapa!?" Tara mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
"Tidak tau, pertama kali bertemu dengannya aku merasa sudah merindukannya dalam waktu yang cukup lama. Aneh bukan? Mungkin itulah yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Setiap kalimat kebohongan yang diucapkannya padaku membuatku bahagia. Kebohongan yang membuat bahagia? Jika seperti itu aku akan terus hidup dalam kebohongan, asalkan tidak tetap bersamanya." Jawaban dari sang pemuda, kembali mengiris daging.
"Astaga! Astaga! Astaga! Aku tidak dapat berkata-kata! Bisa kamu menyerah pada Claudia dan jatuh cinta padaku!?" Tanya Tara antusias.
Ekspresi Michael jelas mengatakan tidak, terlihat tidak senang mendengarnya tapi tetap terus makan.
Tara menghela napas kasar."Claudia mungkin sudah mencintaimu, tapi dia sendiri belum menyadarinya. Bagaimana jika kamu tunjukkan wajah aslimu di depannya?"
Pemuda itu menggeleng."Ibu dan nenek berkata, terkadang wajah ini akan membuat terlalu banyak masalah. Diculik saat berusia 5 tahun hingga kehilangan sebagian besar memori sudah cukup untukku."
"Aku tidak akan mengatakannya pada Claudia. Tapi aku hanya pernah melihat wajahmu dari rekaman CCTV. Bisa tunjukkan wajahmu sekarang? Beberapa menit saja, setelah itu pakai masker dan topi. Aku akan langsung mengantarmu pulang!" Ucap Tara antusias, memberikan sebungkus tissue basah, topi dan masker.
Michael meraihnya, lapisan gelatin itu ditariknya satu persatu. Membersihkan sisa makeup menggunakan tissue basah. Wajah itu terlihat pada akhirnya.
"Tidak sia-sia aku hidup. Jika Claudia tidak mau denganmu, aku mau!" Ucap Tara antusias.
"Dasar!" Michael mengenyitkan keningnya.
"Omong-ngomong tentang tanda keunguan di belahan dada Claudia---" Kalimat Tara disela.
"Itu perbuatanku, aku tidak menyesal melakukannya. Mungkin lain kali saat dia tidur aku akan melakukannya lagi." Kalimat dari pria yang biasanya polos bagaikan anak kecil. Kini dengan tampangnya yang menjurus pada play boy berucap begitu fulgar.
"Gila! Ini baru suaminya Claudia!" teriak Tara bangga, pada pemuda yang sebelumnya mengira berpegangan tangan saja bisa hamil.
*
Sedangkan di tempat lain.
__ADS_1
Brak!
"Apa yang mereka bicarakan selama ini! Mereka benar-benar berselingkuh?" Itulah isi fikiran seorang istri teraniaya yang tidak cemburu. Menunggu kedatangan sahabat dan suaminya.