
Segalanya bagaikan sebuah perangkap. Rapat pemegang saham yang hanya dihadiri asisten Micky, Praha. Semua pemegang saham mendukung pemecatan direktur utama saat ini. Kemudian mengangkat Wendy sebagai direktur utama.
Tangan Claudia gemetar menyaksikan dengan sendiri bagaimana dirinya dikalahkan oleh kekuatan uang dan kekuasaan. Sebuah rapat yang diakhiri dengan tepukan tangan dari semua orang. Tidak ada pembelaan walaupun dirinya pemilik saham terbesar di perusahaan. Ancaman penarikan dana dari beberapa proyek besar menjadi penyebabnya.
Sedangkan Fred, sang direktur utama yang telah menjabat lebih dari 10 tahun hanya dapat tertunduk diam, dirinya diturunkan dari posisinya tanpa alasan yang jelas. Tangannya terlihat mengepal, benci akan kekuasaan, betapa kerasnya dirinya mengabdi pada perusahaan selama ini.
Kala orang-orang telah berjalan keluar dari ruang rapat. Saat itulah Claudia menghentikan langkah Fred."Maaf saya tidak dapat membela, tapi setelah keluar dari perusahaan ini. Mungkin anda dapat menjadi pengelola resort warisan orang tua saya." Pinta Claudia iba, menghentikan atasannya.
"Tidak perlu!" Pria berkacamata itu (Praha) tiba-tiba datang, wajahnya tersenyum ramah.
"Selamat siang pak Fred, tuan muda kami mengundang anda untuk tea time bersama. Kami memiliki penawaran yang lebih menarik untuk anda..." Kalimat penuh hormat dari Praha, asisten Michael.
"Apa maksudmu!" Bentak Claudia semakin kesal saja.
Namun, Fred menoleh ke arah Claudia dan Praha. Mungkinkah penawaran pria ini akan lebih menarik, daripada sekedar pengelola resort.
"Saya ingin bertemu langsung dengan tuan muda anda (Micky)." Ucap Fred pada akhirnya.
Satu lagi orang berbakat yang lepas dari tangan Claudia. Sedangkan asisten laknat itu hanya tersenyum, memberikan selembar alamat sebuah villa pinggir kota pada Claudia.
"Tuan muda ingin bertemu denganmu, hanya untuk bernegosiasi. Jika kamu ingin, kami berhenti menghancurkan dan mencabik-cabik hidupmu." Sebuah ancaman dari sang asisten, melangkah pergi diikuti Fred.
Tangan Claudia gemetar melihat alamat sebuah villa di tangannya. Menghela napas berkali-kali, hidupnya memang lebih sulit belakangan ini.
Restauran dan resort yang menjadi usaha sampingannya, tiba-tiba mengalami kemunduran akibat beberapa travel membatalkan kerja sama sepihak. Apa ini juga perbuatan Micky?
Menghela napas kasar, satu hal yang akan dilakukan olehnya. Bertemu langsung dengan makhluk bernama Micky.
*
Bug!
__ADS_1
Pintu mobil ditutupnya. Alamat villa itu masih disimpannya. Dirinya lebih baik bertemu di kantor dengan playboy sial itu.
Melangkah pasti memasuki gedung, berbicara dengan front office tentang kedatangannya yang mencari seseorang bernama Micky. Dirinya diterima dengan cukup baik, salah seorang karyawan dikirim untuk mengantarnya.
Gedung yang cukup luas, sekelas dengan perusahaan miliknya, walaupun ini hanya kantor cabang perusahaan milik playboy itu. Pada akhirnya pintu ruangan itu terlihat, dengan Praha baru saja keluar dari ruangan membawa beberapa dokumen penting.
Pegawai yang mengantar Claudia menuju ruangan Micky juga undur diri meninggalkannya. Kala itulah Praha mendekat menghadap Claudia."Andai saja tuan muda tertarik pada wanita lain, ini akan lebih mudah. Karena itu, aku harap anda bersedia menemui tuan muda di villa bukan di kantor."
Pemuda berkacamata hendak melangkah pergi. Namun, hanya beberapa langkah dirinya terhenti sejenak mendengar kata-kata yang diucapkan Claudia.
"Siapa yang sudi disentuh olehnya. Aku tertarik menjadi wanita simpanan..." Senyuman menyungging di wajah Claudia.
Sedangkan Praha kembali melangkah pergi. Hanya satu yang ada di otaknya, bagaimana caranya membuat wanita itu mengandung anak tuan mudanya, secepatnya.
Senyuman menyungging di wajahnya, cara paksa mungkin akan lebih baik. Masih mengingat cerita dari tuan mudanya, bagaimana Michael ditolak untuk berhubungan walaupun sudah menjadi sepasang suami istri. Bagaimana Claudia berpura-pura mencintainya, dan bagaimana dengan bodohnya Michael masih mencintainya hingga kini. Walaupun pria itu tahu pernikahan akan diakhiri dalam setahun.
Benar-benar sebuah kebodohan, sampai sekarang ini Michael masih ingin memiliki Claudia. Tapi ini menjadi semakin menarik, apa sebaiknya diculik kemudian dibius saja? Entahlah, apa yang ada di fikiran Praha saat ini. Namun wajahnya tersenyum, matanya yang bagaikan sipit terbuka lebar. Ini saatnya berbuat keji bukan?
*
"Akhirnya, kamu sampai juga. Aku mencintaimu sayang..." Itulah kalimat yang diucapkan Micky.
Pupil mata Claudia melebar, entah kenapa kalimat yang sering diucapkan Michael terbayang. Tinggi yang sama, hanya penampilan yang jauh berbeda. Namun, segalanya segera ditepis oleh Claudia.
Michael lebih polos, lebih murni, menghargai dirinya dan setia. Tapi pria ini? Benar-benar tipe red flag. Cassanova yang mempermainkan hati wanita, obsesi, playboy br*ngsek gila.
Claudia menghela napas kasar."Apa tujuanmu sekarang?" tanyanya dingin.
Pemuda itu bangkit berjalan mendekat."Menyingkirkan pria dari masa lalumu (Evan)."
"Aku mencintainya (Michael), kamu tidak akan dapat berbuat apa-apa padanya!" Bentak Claudia pada pemuda di hadapannya.
__ADS_1
"Kenapa kamu mencintai pria sepertinya!? Apa kurangnya aku dari pada dia (Evan)?" Pertanyaan yang selama ini dipendam pria itu keluar juga pada akhirnya.
"Dia (Michael) tulus padaku, sedangkan kamu hanya pria picik." Jawaban dari Claudia, menghela napas berkali-kali.
Pemuda di hadapannya tertawa kencang, lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri."Aku? Picik? Lalu kamu apa? Masih mencintai pria itu (Evan), tapi menggodaku."
"Aku tidak pernah menggodamu!" Claudia bersungut-sungut.
Ini semakin menyakitkan saja, Claudia bahkan mengakui terang-terangan perasaannya pada Evan. Perlahan pemuda itu berjalan lebih dekat."Tidak bisakah aku memilikimu?" tanyanya dengan wajah berjarak beberapa sentimeter dari Claudia.
Entah kenapa Claudia menelan ludah kasar. Sialnya jantungnya berdegup cepat, seperti saat dekat dengan Michael. Tidak! Ini tidak boleh! Pria gila ini hanya akan menghancurkan hidupnya. Tipe red flag yang terlalu memuakkan.
Dirinya sudah memiliki Michael yang selalu tersenyum memberikan cinta tulus padanya. Bahkan jika harus menghadapi mama mertua, Claudia sudah siap bersedia.
"Tidak akan bisa, karena sudah ada pria yang aku cintai (Michael)." Jawaban dari Claudia, penuh penekanan.
"Setelah sekian lama, masih mencintainya (Evan) juga?" Pertanyaan dari Micky, bersusah payah menahan rasa sakit di hatinya.
"Tentu saja..." Sebuah jawaban dari Claudia.
Namun pemuda itu tersenyum, ibunya dan Praha benar, cinta adalah obsesi. Ini akan menyenangkan mempermainkan seorang Claudia.
"Duduklah, kita diskusikan segalanya secara profesional." Tiba-tiba saja Micky tersenyum, prilakunya berubah 180 derajat. Pemuda yang mulai berjalan menuju rak di ruangan tersebut.
Sedangkan Claudia menghela napas lega, duduk di sofa dalam ruangan. Suasana menegangkan tadi bagaikan sirna tanpa sisa.
Pemuda yang memilih minuman mana yang akan disajikannya untuk Claudia. Minuman keras dengan kadar alkohol rendah menjadi pilihannya. Senyuman menyungging di wajahnya, merogoh sakunya mengeluarkan botol kecil, membuang botolnya di tempat sampah tanpa diketahui Claudia.
Berjalan membawa dua gelas minuman yang sudah dituangkannya.
"Kita dapat bicara baik-baik." Senyuman menyungging di wajah pemuda itu, memberikan minuman yang segera diraih Claudia.
__ADS_1