
Sinar matahari tipis telah memasuki celah jendela kala itu. Bau masakan yang tercium. Pemuda yang telah belajar tentang beberapa masakan dari internet. Senyuman terlihat di wajahnya hari ini.
Michael kali ini telah berpakaian rapi guna melamar pekerjaan di perusahaan milik keluarga Claudia. Sedangkan Claudia sendiri, bangun kesiangan, belum melepaskan rol rambut yang dipakainya. Tangannya terlalu sibuk memegang phonecell. Sementara satu tangannya lagi memakai sepatu.
Melangkah cepat menuju meja makan. Kemudian duduk di hadapan Michael. Sembari memakan sarapannya dengan cepat.
Pemuda yang memilih bangkit melepaskan rol rambut Claudia."Terimakasih..." itulah yang diucapkan Claudia, kembali berbicara dengan seseorang melalui sambungan phonecell. Benar-benar sibuk akibat cuti yang diambilnya.
Michael terdiam canggung, mulai menikmati makanannya. Memakannya perlahan, sesekali mengamati wanita yang begitu cantik dimatanya. Mengapa dirinya dapat begitu menyukai wanita ini? Walaupun itu palsu, namun Claudia adalah wanita pertama yang mengatakan mencintai dirinya.
Bagaikan melihat hamparan ilalang tertiup angin, begitulah yang dirasakannya kala mengetahui perasaannya berbalas. Walaupun itu semu semata.
Tapi dirinya bahagia... berharap untuk lebih bahagia lagi. Hanya sebuah harapan saja, agar ini perlahan menjadi nyata.
"Betapa baiknya suamiku..." Ucap Claudia gemas usai mematikan panggilan phonecellnya. Tidak banyak bukan, pria yang bahkan bersedia melepaskan rol rambut istrinya?
"Kamu selalu jadi yang tercantik di mataku..." Hanya itulah yang diucapkan Michael. Panah yang bagaikan menancap tepat di hati Claudia. Dirinya mengalihkan pandangan. Brondong ini walaupun wajahnya rusak memang benar-benar keterlaluan.
Suasana hangat kala sarapan. Dimana batasan antara mencintai dan tidak mencintai? Mengapa sepertinya belum paham. Mencuci piring bersama, bahkan sempat-sempatnya berciuman sebelum berangkat bersama.
Ingat! Hanya Michael yang cinta, sedangkan Claudia tidak. Walaupun mereka berciuman begitu intens. Ini hanyalah akting Claudia, akting dengan penghayatan tingkat tinggi.
Dua orang yang melangkah keluar, kala mendapati beberapa penghuni apartemen kasak-kusuk tentang kasus yang terjadi tadi malam.
Garis polisi masih terpasang, dianggap sebagai rencana pembunuhan yang gagal.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" tanya Claudia mengenyitkan keningnya, bertanya pada salah satu petugas kepolisian.
"Ada yang meletakkan minyak goreng pada tangga darurat. Salah seorang penghuni apartemen mengalami cidera fatal. Kami masih menyelidiki melalui CCTV tentang siapa saja yang memasuki tangga darurat, setelah jam pembersihan. Ada beberapa orang yang melintas karena lift sempat mengalami masalah, tapi tidak ada yang mengaku meletakkan minyak goreng. Tidak ada dari mereka yang membawa benda mencurigakan dalam rekaman CCTV. Anehnya orang yang lewat sebelumnya menuruni tangga darurat tidak menemukan ceceran minyak..." Keluh sang petugas kepolisian.
"Omong-ngomong kamu juga sempat naik tangga darurat kan?" Tanya sang petugas, mengingat-ingat rekaman yang sempat disaksikannya.
Michael mengangguk."Saya membawa beberapa kantong belanjaan. Salah satu kantong berisikan minyak goreng, saya masih punya struk pembeliannya. Tapi minyak gorengnya masih tersegel sampai sekarang. Tadi pagi, kami sarapan menggunakan rebusan daging. Satu lagi, saya melintasi tangga darurat sebelum petugas pembersih sampai. Anda bilang sebelum tuan itu jatuh ada beberapa orang yang melintas bukan? Tapi tidak ada yang membawa minyak goreng atau melihat adanya tumpahan minyak goreng di tangga darurat."
Dengan cepat sang petugas kepolisian mengangguk. Menghela napas kasar, ini memang kasus yang aneh. Korban yang mengalami patah tulang masih berada di rumah sakit kini, melaporkan ini sebagai percobaan pembunuhan.
"Ini kawasan apartemen elite, jika ada kecelakaan macam ini pihak pengelola pasti akan dituntut, untuk memberikan uang tanggungan. Apalagi jika korban memilih asuransi, dia dapat mengklaim asuransinya. Benar-benar untung ya? Jika kasus ini dapat disorot media. Maka uang tanggungan dari pengelola apartemen akan semakin besar." Kata-kata manipulatif yang mengarahkan pemikiran pihak kepolisian diucapkannya.
Sang petugas membulatkan matanya. Orang ini benar! Mungkin saja korban sengaja melakukannya. Membawa kantong plastik kecil atau sejenisnya di sakunya. Kemudian melumuri tangga, seolah-olah ini tindakan kejahatan atau kesalahan pengelola gedung.
"Kami akan menyelidiki ini..." Ucapnya menghela napas kasar.
Ada yang aneh, itulah yang dirasakan wanita itu. Tapi Michael benar, tidak mungkin Michael yang melakukannya. Wanita yang hanya mengangguk tidak mengetahui siapa korban dari kejadian tersebut.
Pria yang kemarin menggodanya. Dialah yang menjadi korban.
Senyuman terukir di wajah Michael. Ini adalah negara hukum, karena itu agar dapat selalu bersama dengan Claudia dirinya tidak boleh melanggar hukum.
Ini mudah, sinar lampu di tangga darurat masih menggunakan lampu berwarna kuning. Dirinya tinggal mengisi alat kontrasepsi untuk pria yang bening itu menggunakan minyak. Mengaitkannya pada tali kemudian tepat di atasnya kancing yang cukup tajam diletakkan. Direkatkan pada jendela menggunakan selotip. Tali juga diletakkan pada selotip, untuk menarik barang bukti berupa kancing tesebut.
Selanjutnya Michael kembali ke kamarnya. Menggunakan tongkat panjang, menarik kedua ujung tali yang menjuntai dari jendela tangga darurat, kedua tali yang dikaitkan ujungnya menggunakan pemberat akan memudahkannya.
__ADS_1
Apa yang terjadi setelahnya? Hanya memastikan agar pria itu turun, dengan memangil kurir atas nama dan unitnya di waktu tertentu.
Michael hanya perlu menunggu dengan sabar. Di waktu yang tepat, tali yang terkait dengan alat kontrasepsi pria ditariknya. Bersamaan dengan itu kancing tajam akan menancap, membuat alat kontrasepsi pria itu bocor, minyak membasahi tangga.
Dirinya tinggal menarik kedua tali menghilangkan bukti, menguatkan alibinya.
Ini hanya percobaan untung dan rugi, jika berhasil maka bagus. Jika tidak, dirinya hanya rugi peniti, alat kontrasepsi pria dan minyak saja.
Kerusakan lift? Bukan dirinya yang melapor. Tapi seseorang yang ada bersamanya saat dirinya berbelanja ke minimarket. Sungguh kebetulan, sesuatu yang membuatnya memikirkan ini.
Mendapatkan nama dan unit apartemen? Itu mudah bagi Michael, dirinya berpura-pura pria itu menjatuhkan phonecell, berniat mengembalikannya secara langsung. Mengatakan ciri-ciri, lantai unitnya serta profesinya, maka security akan memberikan datanya, mengingat Michael juga penghuni apartemen.
Pria desa yang tidak mempunyai apa-apa. Tidak berpendidikan tinggi, mengapa dapat begitu keji. Bagaimana jika yang jatuh orang lain? Atau bagaimana jika mengalami cidera yang lebih fatal.
Itu tidak masalah, asalkan bukan Claudia yang terluka. Mungkin itulah yang ada di fikirannya. Masih dapat tersenyum, menjadi pria biasa lugu, dengan pendidikan rendah.
Gedung perkantoran terlihat, setelah beberapa puluh menit berkendara. Senyuman menyungging di wajah Claudia."Ini akan menjadi tempatmu bekerja."
"Apa kita akan sering bertemu?" tanya Michael.
Claudia menggeleng."Tapi saat makan siang kamu bisa pergi ke ruanganku."
Michael mengangguk, menarik tengkuk wanita itu, menciumnya lebih agresif dari sebelumnya. Dalam mobil dengan kaca satu arah.
"Claudia hanya boleh menjadi milikku..." batinnya.
__ADS_1
Apa yang dilakukan wanita ini? Seharusnya dirinya mengurung Michael di apartemen saja. Mengapa harus membawa orang tidak normal ini ke kantor?