Topeng Suami Buruk Rupa

Topeng Suami Buruk Rupa
Bab 8. Wedding


__ADS_3

...Cinta pertama? Itu bagaikan gula-gula kapas. Saat angin menyentuhnya akan hancur perlahan....


...Merasakan lumeran rasa manis dalam mulutmu. Jantungmu berdegup cepat, mengagumi betapa indahnya rasa manis yang diberikan olehnya....


...Hidup yang bagaikan lebih bersemangat dan berwarna. Hanya itulah cinta pertama yang aku ingat......


...Tapi satu-satunya keindahan yang aku rasakan. Hanya satu kalimat yang tersisa. "Aku tidak ingin melepaskanmu."...


Michael.


Hari ini beberapa hidangan sederhana ada di atas meja. Atau lebih tepatnya ayam kalkun dan lobster. Dirinya tertegun, tidak menyentuh makanannya sama sekali. Sesekali melirik ke arah neneknya.


"Boleh aku menikah?" tanyanya lagi tidak menyerah. Segalanya akan dilakukannya demi ayang.


"Michael, kita sudah membicarakan ini anda tidak boleh menikah. Tanpa ijin dari nyonya... maksudnya ibu anda." Jawaban dari Berta makan dengan tenang.


"Dia...aku tidak bisa hidup tanpanya. Senyumannya manis, aku tidak bisa tidur. Nenek tolong..." Pinta Michael lagi.


"Tetap tidak!" Tegas Berta, tidak ingin kehidupan tuan muda yang dibesarkannya dalam pengasingan rusak. Setelah kembali ke status aslinya, akan ada banyak nona muda yang mendekatinya.


"Jika begitu, aku dengar tanpa makan dan minum selama 3 hari manusia akan mati." Sebuah ancaman darinya, membuat Berta membulatkan matanya.


"Tidak! Ini tidak seperti drama Romeo dan Juliet! Kamu tidak boleh mati, hanya karena omong kosong, atas nama cinta." Batin Berta, pada akhirnya tidak bisa ikut makan. Matanya menatap ke arah Michael yang memang tidak menyentuh makanan atau minuman sama sekali. Wajahnya terlihat pucat, bibirnya memutih. Dari kapan pemuda ini mogok makan dan minum seperti anak kecil!?


Tidak! Jika saja ada dokter cinta itulah yang dibutukan tuan mudanya saat ini.


"Makan ya? A...aaa..." Berta berusaha menyuapi Michael.


"Aku bukan anak kecil. Nenek, usiaku sudah 28 tahun. Dan tidak ada satu wanita pun bersedia mendekatiku. A...aku juga ingin dicintai oleh lawan jenis. Dia membuatku bahagia, walaupun aku tau dia mungkin akan menyakitiku suatu hari nanti. Tapi aku masih ingin berharap..." Kalimat darinya masih terdiam dengan tatapan kosong.


"Jika nenek tetap tidak mengijinkan?" Berta mengenyitkan keningnya mulai cemas, anak ini akan nekat.


"Aku akan menghamilinya." Jawaban terakhir dari Michael sebelum pada akhirnya meninggalkan meja makan.

__ADS_1


"Gila!" Teriak Berta mengacak-acak rambutnya frustasi. Bagaimana bisa majikannya yang polos mengatakan hal mengerikan seperti itu. Menghamili!? Anak siapa yang akan dia hamili.


Berjalan dengan cepat bertindak sopan, mengetuk pintu kamar Michael pelan."Anda memangnya tau cara menghamili perempuan?" tanyanya.


"Berpegangan tangan sambil tidur. Kemudian membuka pakaian melakukan proses perkembangbiakan seperti di buku kedokteran. Aku akan mempraktekkan semuanya!" Teriak Michael meringkuk di bawah selimut. Untuk pertama kalinya dirinya memberontak dari kata-kata Berta. Tapi mau bagaimana lagi, senyuman itu benar-benar membuat hatinya tidak menentu. Wanita pertama yang mengatakan mencintai dirinya. Tidak akan membiarkannya pergi dimiliki pria lain.


Tok!


Tok!


Tok!


"Michael..." Berta menghela napas kasar bingung harus bagaimana.


"Nenek, aku mencintainya..." Kalimat lirih yang membuat Berta luluh pada akhirnya.


Mungkin tuan mudanya memang sudah cukup dewasa untuk memilih pasangan. Dirinya memang harus lebih memikirkan segalanya. Memisahkannya? Apa wanita itu tulus pada tuan mudanya? Selama tidak ada kaitannya dengan keluarga tuan besar (almarhum ayah Michael) mungkin memang tidak akan ada kepura-puraan.


"Baik! Nenek akan setuju! Tapi kamu harus makan dengan baik." Ucap Berta dari luar sana. Dengan cepat Michael yang meringkuk di bawah selimut keluar, membuka pintu kemudian memeluk neneknya.


Anak yang lugu dan polos? Itulah Michael yang dibesarkannya. Tidak menyangka tuan mudanya kini sudah tumbuh dewasa. Ingin memulai keluarga yang baru.


"Hanya satu pesan nenek. Jangan pernah melepaskan riasan wajah didepannya. Kecuali ibumu sudah pulang." Pesan sang nenek.


"Baik!" Michael mengangguk, akan mengerahkan segala upaya. Agar Claudia mencintainya bukan hanya karena wajahnya saja.


*


Suara kasak kusuk terdengar, kala salah seorang pelayan villa mendebarkan beberapa undangan pada penduduk sekitar. Resepsi pernikahan yang akan diadakan nanti malam.


"Nanti kondangan pakai baju apa? Saya sempat lewat, villanya sudah didekorasi." Ucap Bu Salma, tetangga Berta.


"Kebaya saja, tapi kenapa mau dengan Mi... Miki. Salah maksudnya Michael! Aduh! Ngomong namanya saja sudah seribet ini." Gerutu pemilik warung.

__ADS_1


"Kayak tidak tau aja. Dukun sekarang sudah canggih-canggih, Michael mungkin bertapa di gua larangan seberang gunung. Namanya juga sudah gelap mata. Tapi yah... membayangkannya saja sudah geli. Seperti Rahwana gendong Dewi Sitha." Bu Salma bergidik, terlihat jijik mengingat sosok Michael.


"Eh...Bu! Bisa saja mereka memang keluarga ilmu hitam! Mungkin Michael jadi korbannya makanya wajahnya rusak. Saya pernah lho, lihat ibu Michael yang katanya jadi TKI di Taiwan datang bawa mobil mewah. Tapi titip di desa sebelah." Bu Rena ikut menyela pembicaraan.


"Kaya? Tidak mungkin lah! Rumahnya saja seperti gubuk. Tapi memang Bu Berta penampilannya tidak seperti nenek-nenek kampung pada umumnya. Rapi, pakai kacamata..." Ucap Bu Salma, tidak mungkin rasanya nenek dan cucunya itu dari kalangan ekonomi berkecukupan. Mengingat jangankan mobil, sepeda pun mereka tidak punya. Walaupun memiliki empat ekor sapi dan seekor kerbau, serta lahan kecil yang ditanami rumput pakan sapi. Tapi tetap saja, tidak ada sisi kemewahan yang terlihat.


"Tapi yang penting sekarang, Awan anak pemilik toko emas saja yang paling ganteng ditolak. Tapi kenapa Michael diterima? Pasti guna-guna!" Seru penjaga warung.


"Sudah picek kali matanya!" Bu Salma berucap penuh semangat, pasalnya putranya juga ikut-ikutan ditolak.


*


Ini adalah hari pernikahan mereka. Seperti yang dijanjikan, Michael tidak melepaskan gelatin yang sedikit menutupi wajahnya.


Memakai setelan tuxedo yang memang disiapkan oleh Claudia.


"Awan! Aku kawin!" Teriaknya mengacak-acak rambut frustasi. Antara senang dan mengkhawatirkan masa depan.


"Setiap manusia memang harus kawin. Untuk menyelamatkan spesies manusia dari kepunahan." Jelas Awan menepuk bahu sang mempelai pria yang begitu tegang.


"Lalu kenapa kamu belum kawin?" tanya Michael mengingat mereka seumuran.


"A...aku sudah kawin. Cuma belum menikah saja..." Jawab Awan terkekeh, mengingat beberapa pacar yang dimilikinya. Walaupun sudah ada satu yang menjadi pujaan hatinya. Satu-satunya wanita yang pernah ditidurinya. Kekasihnya yang jauh bekerja di kota. Dengan gadis lainnya? Dirinya hanya bermain-main saja, tanpa ada niatan menyentuh atau lebih serius.


"Kawin dan menikah bukannya sama saja?" Michael mengenyitkan keningnya.


"Beda! Kawin itu proses, nikah itu cuma pengesahan." Jawaban tidak masuk akal darinya.


Sejenak seorang pelayan memanggil, meminta mempelai pria untuk keluar.


*


Ini adalah hari pernikahannya, semua orang ada di tempat ini. Dirinya berdiri di depan altar menunggu mempelai wanita melangkah mendekatinya. Beriringan dengan dua orang anak yang menebarkan kelopak bunga mawar sepanjang perjalanan.

__ADS_1


Sisi polos dan baik hati pria ini akan berubah. Menatap berapa cantiknya mempelai wanita dengan wajah tertutup kain putih.


"Wanita yang seumur hidup akan terikat denganku. Walau dia matipun hanya adalah milikku." Isi dalam hatinya penuh senyuman dengan jantung yang berdegup cepat.


__ADS_2