
...Dedaunan hijau yang membenci hujan. Terlalu dingin, melihat ke atas betapa agungnya dirimu....
...Menyapa dalam setiap dekapanmu, bagaikan memberikanku perlindungan. Membelaiku dalam setiap tetes....
...Hingga aku merasa terbiasa. Mengetahui hujan memelukku karena mencintaiku....
...Bukan, aku tidak menginginkan hujan. Tidak mencintai hujan. Dedaunan kecil ini mencintai sekuntum bunga yang indah....
...Sang bunga bagaikan tersiksa karena derasnya air hujan, menahan beratnya mahkotanya. Kala itulah aku memohon, agar hujan meninggalkanku....
...Hujan yang menyayangiku......
...Pada akhirnya menghilang, benar-benar menghilang. Hanya tersisa sekuntum bunga yang indah menginginkanku merendahkan diri. Bunga yang tidak berdaya kembali menangis padaku....
...Mengapa baru sekarang, aku merindukan hujan?...
...Keindahan bunga? Tidak, hujan lebih indah. Kecantikan yang sulit untuk terlihat. Bagiku yang hanya sehelai daun....
...Hujan...aku mencintaimu......
...Maaf......
Evan.
Bibirnya bergetar berusaha untuk tersenyum."Kita akhiri saja, jika seperti itu..."
"Ev... Evan kamu mengerti kan situasiku! Aku mencintaimu tapi---" Kalimat wanita itu disela.
"Aku mengerti, aku hanya harus kembali pada Claudia kan? Aku lelah, membuat keributan." Hanya itulah yang diucapkan Evan, meletakkan sumpitnya.
Pemuda yang kembali usai meraih kunci mobil dan jas miliknya. Meninggalkan Erlina terisak dalam tangisan seorang diri.
"Evan..." gumam Erlina bagaikan antara rela dan tidak, menyempurnakan dustanya.
__ADS_1
Bug!
Suara pintu di tutup terdengar. Namun pemuda itu tidak kunjung pergi, apa yang ditunggunya? Entahlah, hanya ingin membuktikan egonya. Dirinya mencintai Erlina wanita yang naif dan baik hati.
Tapi apa benar? Suara tangisan dari dalam sana terhenti. Semuanya tidak terdengar dengan jelas lagi. Berjalan duduk di dekat tangga darurat yang berada dekat area lift. Mengistirahatkan tubuh dan fikirannya, itulah yang dilakukan Evan.
Dirinya lelah, tapi harus kemana? Meraih phonecellnya menahan rasa sesak di dadanya. Ayah, ibu dan adiknya membencinya yang sudah meninggalkan Claudia seorang diri di altar. Satu-satunya yang dapat dihubungi adalah Claudia sendiri, sahabatnya. Satu-satunya orang yang terfikirkan, untuk mendengar seluruh ceritanya, berbagi tangis dan tawa menghibur dirinya.
Namun, nomor kontak yang enggan dihubunginya. Tertunduk tidak berdaya, menepuk-nepuk dadanya yang sesak. Ini salahnya, benar-benar kesalahannya. Tertunduk tidak tahu harus bagaimana.
Pulang pun rasanya enggan, setiap kata sinis yang keluar dari mulut orang tua dan adiknya penyebabnya. Hanya satu keyakinan untuk bertahan, Erlina. Tapi Erlina pun... mungkin selama ini hanya...
Banyak kata tanya dalam fikirannya yang kalut. Hingga perlahan matanya terpejam. Entah berapa lama dirinya tertidur dekat tangga darurat.
Tig!
Suara pintu lift yang terbuka terdengar. Fitra, atasannya di kantor keluar dari lift. Terlihat memegangi phonecell menghubungi seseorang.
"Aku sudah sampai. Baby, ingat pakai yang aku belikan!" Ucap Fitra berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.
Entah kenapa, mungkin sebuah firasat. Apa benar? Melihat segalanya dari dekat dinding sebelah kiri.
Wanita itu yang tadinya berpakaian manis dan sopan keluar. Kini mengenakan pakaian tipis dengan banyak tali. Setiap lekuk tubuhnya terlihat. Hanya beberapa utas tali yang menutupi area intinya. Bahkan bagian atasnya terekspos sempurna. Hanya tersensor kain setipis jaring nelayan.
Ini benar-benar gila bukan? Mereka berciuman di lorong. Bukan ciuman biasa, sebuah ciuman panas.
Dirinya terdiam dengan air mata mengalir. Kakinya terasa lemas. Erlina tidak mencintainya dari awal? Benar-benar hanya untuk merebut warisan milik orang tua Claudia? Dirinya hanya dimanfaatkan?
"Sudah membeli pengaman?" tanya Fitra, dengan jemari tangan memasuki pakaian tipis itu. Bergerak perlahan ke area bagian bawah, membuat Erlina gelisah. Jari yang bergerak pelan masuk tapi pasti.
"Sudah...satu kotak penuh..." Goda Erlina, menarik dasi Fitra, untuk masuk ke dalam apartemennya.
Tidak ada yang terjadi, Evan hanya tertawa dalam tangisannya. Dengan bodohnya dirinya mencintai seseorang begitu tulus, bagaikan anak kecil.
__ADS_1
Mengagumi Erlina yang mengatakan, jika Evan satu-satunya pria yang dicintainya. Hingga Erlina rela memberikan tubuhnya, hanya untuk Evan.
"Hah!" Geramnya dalam tangisannya. Ini menyakitkan, benar-benar menyakitkan. Apa ini cinta? Tidak ini penyesalan, sekretaris br*ngsek itu benar.
Perasaan menyakitkan yang tidak menyenangkan sama sekali. Tidak ada tempat baginya untuk bicara lagi. Menyandarkan punggungnya di dinding.
Saat-saat seperti ini, siapa yang diingatnya?
Fatamorgananya itu terlihat, mendekapnya dalam pelukan hangat."Aku akan terus menemanimu. Menjadi tempat untukmu pulang..." Itulah kata-kata yang biasanya diucapkan Claudia untuk menenangkannya.
Kala dirinya gagal mendapatkan beasiswa ke luar negeri, kala proyek yang dipegangnya bermasalah, kala kedua orang tuanya cekcok, termasuk kala adiknya tertangkap kepolisian akibat mengikuti balapan liar. Hanya wanita itu yang menenangkannya. Meringankan semua rasa sakitnya.
Daun kecil yang terbiasa dengan air hujan? Itulah dirinya. Terlena keindahan bunga (Erlina) hingga menepis semua kasih sayang hujan.
Tidak ada kata yang dapat diucapkannya kala fatamorgana itu menghilang. Dirinya ingin ini menjadi nyata.
Berjalan melangkah dengan fikiran kosong. Terhanyut dalam fikirannya sendiri kala menyetir mobilnya.
Jika difikirkan secara logika, Erlina akan memintanya merebut Claudia dari Michael. Setelah dirinya kembali bersama Claudia, maka Erlina akan kembali menangis mengatakan mencintainya. Sama seperti sebelumnya. Dirinya hanyalah boneka.
Ranjang? Ada beberapa orang yang menganggap aktivitas ranjang hanyalah keperluan biologis. Tapi tidak dengan dirinya, dirinya salah sangka. Mengira napsu dan cinta adalah hal yang sama.
Entah berapa jam dirinya menyetir, pada akhirnya suara ombak terdengar. Jalanan yang berkelok-kelok, tebing pinggir laut. Haruskah dirinya menabrak pembatas jalan dan mengakhiri hidup ini? Itulah yang ada di benaknya.
Namun.
Satu persatu kenangan masa lalu itu kembali. Kala dirinya yang mendapatkan nilai terbaik di SMU, tapi tidak mendapatkan beasiswa di universitas negeri. Dirinya bekerja mengambil orderan jahit, bertemu dengan Claudia yang selalu mengikuti dan membantunya.
Kala orang tuanya mengatakan akan bercerai, dirinya berusaha mengatasi perlahan. Saat adiknya hampir masuk penjara, dirinya juga mengusahakan semuanya. Sekarang keluarganya sudah dalam keadaan cukup tenang. Apa dirinya akan mengakhiri hidupnya hanya karena Erlina?
Gelang persahabatan yang hanya terbuat dari untaian benang dirabanya. Bukan karena Erlina, dirinya merindukan Claudia. Duduk menghentikan mobilnya di depan jurang. Menyandarkan punggungnya di kursi pengemudi.
"Apa Claudia menikah dengan pria itu karena menginginkan warisan kedua orang tuanya?" Gumamnya, merasakan sakit, setiap mengingat wajah pemuda yang bagaikan tersenyum mengejeknya. Merangkul bahu Claudia berlalu pergi.
__ADS_1
"Apa akan ada kesempatan jika aku bernegosiasi?" Senyumannya dalam tangisan.
Negosiasi? Apa yang ada dalam fikirannya? Menggantikan posisi Michael, menjadi suami yang hanya berdasarkan pada kepura-puraan juga tidak apa-apa. Dirinya sadar sudah cukup banyak menyakiti Claudia. Jika ...jika kesempatan itu ada dirinya akan menelan harga diri untuk mengemis cinta. Menjadi suami yang tidak dicintai lebih baik, dari pada melihat Claudia bersama pria lain.