
Pemuda itu mengenyitkan keningnya, wajahnya tersenyum melihat nama pemanggil. Dengan cepat mengangkat panggilannya.
"Siang,"sapaannya pada orang di seberang sana.
"Dimana Claudia aku ingin bicara dengannya!?" Suara seorang pria, mantan pacar yang menghadiri pernikahannya.
"Claudia? Dia sedang... keluar..." Jawaban jujur dari Michael.
"Jangan berbohong! Dia baru saja menghubungi Fransisca! Katakan padanya jangan mencampurkan urusan pribadi dan urusan pekerjaan." Evan yang tengah berada di kantor memijit pelipisnya sendiri.
"Jangan salah paham. Membatalkan perusahaan yang menyuplai adalah saran dariku. Aku hanya membantu pekerjaan istriku." Jawaban santai darinya, menusuk potongan buah mangga kemudian memakannya.
"Aku perlu bicara dengan Claudia..." Evan bersikeras.
"Dia kelelahan, terkadang aku iba padanya bagaimana seseorang dapat menyia-nyiakan wanita secantik dan sepintar Claudia hanya demi seekor ubur-ubur yang bertebaran di laut. Jujur saja, tadi malam benar-benar tidak terlupakan. Ditambah dengan hal yang terjadi di balkon dan meja makan pagi ini. Aku menyukainya dia harum. Kesimpulannya aku ketagihan untuk terus bersamanya. Karena itu jangan mengganggu bulan madu kami." Kalimat ambigu dari Michael.
Tentu saja, malam yang tidak terlupakan kala dirinya mengecup bibir istrinya yang tengah tertidur. Di balkon? Untuk pertama kalinya dirinya memangku Claudia. Sedangkan di meja makan tentu saja kala dirinya mengupas mangga saat menatap Claudia tengah bekerja. Inilah kehidupan pengantin baru yang tidak terpisahkan, bahagia melakukannya dimana saja.
Namun, Evan yang tengah berada di meja kerjanya dapat membayangkan segalanya. Bagaimana seringai senyuman keji pemuda buruk rupa itu mempermainkan Claudia di ranjang. Bagaimana Claudia dipaksa melakukannya di balkon bahkan meja makan.
Apa yang terjadi pada Claudia? Pria buruk rupa ini seperti menjeratnya. Menyiksa hidupnya sedikit demi sedikit. Hingga prilakunya berubah? Ini pasti kekerasan dalam rumah tangga. Tidak dapat dimaafkan, Claudia adalah wanita baik-baik, teman yang selalu mendukung dengannya sebelum hubungan mereka rusak.
"Diam! Aku tidak akan mengampunimu jika melakukan hal buruk pada Claudia!" Bentak Evan membuat Michael menjauhkan telinganya dari phonecell.
"Aku tidak melakukan hal buruk. Claudia dan aku saling mencintai, jika sudah saatnya tiba, kami bahkan berencana untuk mempunyai anak. Bayangkan keluarga yang bahagia, aku sebagai ayahnya membimbing sepasang anak kembar satu pria satu wanita. Bersama dengan Claudia piknik dan bermain." Jawaban santai dari Michael dengan mulut dipenuhi potongan mangga.
Benar-benar imajinasi yang indah baginya. Dirinya mungkin harus membujuk Claudia untuk tidur sambil berpegangan tangan dengannya. Ingin memiliki anak secantik istrinya dan setampan dirinya.
Namun, badai petir bagaikan ada dalam hati Evan saat ini. Semakin banyak pemuda itu bicara, maka semakin menyakitkan pula hatinya.
__ADS_1
Pemuda itu meneteskan air mata tanpa disadari olehnya."Itu tidak akan terjadi..." ucapan refleks dari Evan.
"Kamu bilang apa?" tanya Michael yang masih duduk santai di kursi meja makan.
"Itu tidak akan terjadi!" Teriaknya mematikan panggilan.
Emosi yang meluap-luap, apa yang terjadi padanya. Jemari tangannya gemetar meraih segelas air kemudian meminumnya. Tidak ada kata yang terucap dari bibirnya.
"Sialan!" teriaknya, menjatuhkan barang-barang yang ada di meja kerjanya.
Mengapa dirinya seperti ini? Membayangkan Claudia membangun keluarga baru, membayangkan wanita itu menghabiskan malam dengan pria lain. Ini benar-benar menyakitkan, apa yang terjadi pada dirinya.
Berusaha untuk tersenyum, mungkin ini hanya karena rasa empatinya sebagai teman. Orang yang dicintainya adalah Erlina. Tidak ada yang lain, meyakinkan dirinya sendiri.
Sebuah pesan masuk ke phonecellnya pesan dengan nama pengirim Erlina. Entah mengapa dirinya tidak seantusias sebelumnya untuk membaca.
'Ini hari aku tidak bisa ke tempatmu. Ada acara reuni yang harus aku hadiri.'
'Baik...'
Satu kata sebagai balasan dari Evan. Kekasih pertama bagian? Itulah Erlina, wanita yang mengajarinya betapa indahnya cinta. Memeluknya erat, membuatnya gugup dan berhasrat, kala wanita itu mengatakan berhubungan adalah perwujudan betapa dalamnya cintanya.
Entahlah...
Apa yang ada di fikiran Evan saat ini. Dirinya harus fokus bekerja, serta mengembangkan beberapa usaha miliknya. Ini demi kedua orang tua yang dikecewakan olehnya. Karena membatalkan pernikahannya dengan Claudia. Wanita yang sejatinya calon menantu idaman kedua orang tuanya.
Tangannya gemetar, ini sebuah keputusan yang diambilnya. Dirinya tidak akan menyesal, Claudia hanya sahabatnya, tidak lebih. Perasaannya pada Erlina lebih dalam, benar-benar dalam. Setidaknya itulah keyakinannya yang hanya pernah berhubungan dengan Erlina. Jika bukan cinta, lalu apa?
Terkadang pengalaman hidup tidak mutlak menentukan matangnya sebuah pemikiran. Dirinya hidup di kota, kerap melihat teman atau relasi bisnisnya menyewa lebih dari satu wanita penghibur. Ranjang? Itu dapat bukan berarti cinta, melainkan sebuah kepuasan semata...
__ADS_1
Tidak menyadari segalanya. Dirinya tetap berusaha berkutat dengan pekerjaannya. Walaupun hatinya masih terasa sakit, benar-benar berat.
*
Pengalaman hidup? Pria polos tanpa pengalaman hidup yang banyak pun mengetahui."Pria bodoh (Evan) yang menyukai ubur-ubur penipu (Erlina). Siapapun bisa tau dia hanya tipikal wanita yang serakah. Persis seperti tetanggaku, yang menggoda suami temannya sendiri. Sok lemah, sok paling teraniaya!" Geram Michael meletakkan phonecell Claudia kembali di atas meja.
Namun, dirinya mulai berfikir. Hanya berfikiran sejenak."Terimakasih Tuhan! Engkau sudah membuat mata pria itu buta. Hingga aku mendapatkan istri yang baik dan cantik!" Kalimat penuh syukur darinya. Tersenyum-senyum sendiri, membayangkan apa yang harus dilakukannya ketika istrinya pulang nanti.
Pemuda yang melangkah mengelilingi area villa. Melihat-lihat apa yang dapat dilakukan olehnya. Para pelayan di tempat ini terlihat benar-benar sibuk. Dirinya ingin membantu, tapi sebagai tuan pemilik villa tentunya tidak diijinkan.
Benar-benar diacuhkan semua orang. Hingga dirinya pada akhirnya, memikirkan cara cepat untuk memiliki pekerjaan. Menemui Awan, mungkin akan ada pekerjaan untuknya.
*
Area pasar yang benar-benar ramai. Dirinya berjalan di tengah hiruk-pikuk orang-orang yang berlalu. Mencari keberadaan Awan.
Matanya menelisik menatap ke arah satu-satunya toko perhiasan di tempat ini. Cukup ramai karena sekarang musim panen buah mangga.
"Awan!" Panggilnya penuh senyuman pada sang pemuda. Pemuda yang menoleh tengah menggoda pemilik toko sembako sebelah. Matanya menelisik, tersenyum pada Michael.
Mungkin karena cukup menyenangkan diajak bicara.
Gorengan serta kopi hitam menemani pembicaraan mereka. Tapi hanya Awan yang memakan gorengan, sedangkan Michael lebih memilih meminum minuman kemasan dan kue basah.
Menghela napas kasar.
"Kamu ada masalah!? Apa masalah ranjang? Itu... tidak dapat berdiri? Atau terlalu cepat keluar?" tanya Awan menerka-nerka.
"Berdiri lalu keluar..." Michael kembali menghela nafas, mengingat bagaimana Claudia berdiri dari kursi meja makan kemudian berjalan keluar."Aku ingin bekerja lebih keras..." lanjutnya, menginginkan pekerjaan dari Awan.
__ADS_1
"Mudah! Aku punya jamu, resep turun temurun! Aku jamin istrimu tidak akan bisa bangun dari ranjang!"