
Lembar demi lembar pakaiannya dibuka oleh Claudia. Ini hanya mimpi, begitu dirinya terbangun hari akan langsung pagi. Itulah yang ada dalam otaknya kini. Memang terseting seperti itu, akibat kerapkali mengalami mimpi yang sama. Dengan pria yang sama hadir di mimpinya.
Hingga kain segitiga itu tanggal juga, tidak ada lagi yang tersisa.
"Dia sedang mabuk...dia sedang mabuk..." Gumam Michael merasakan wanita ini duduk tepat di atas pinggangnya.
Apa dirinya boleh melakukan ini tanpa seijin Claudia?
"Ayolah! Kita sudah sering melakukannya bukan? Di balkon, kamar mandi, kamu bahkan pernah menutup mataku menggunakan dasi " Ucapan dari seorang wanita mabuk, mencium bibir Michael agresif.
Sensasi yang benar-benar gila. Tidak ada penolakan dari Claudia. Wanita itu yang memimpin segalanya. Sepasang lidah yang bertautan kala jemari tangan Claudia masuk ke celah setelan piyama Michael.
Tangan yang meraba di area dada, turun ke perut. Hingga benar-benar menggenggamnya, benar-benar tepat di bagian terlemah seorang pria.
Michael benar-benar tersentak, tubuhnya gemetar. Ini nikmat baginya, seperti kata Awan, secara naluriah dirinya ingin mencabik-cabik wanita ini. Rasa gemas ada dalam setiap nadinya. Tidak! Ini bukan hanya gemas, lebih dari itu.
Hingga Michael menurunkan ciumannya ke area sumber nutrisi anak mereka nanti. Hanya lenguhan yang terdengar, sekujur tubuh Claudia ikut gemetar.
Pemuda yang masih berada di area itu. Tidak mempedulikan anak mereka nanti akan mendapatkan sumber nutrisi atau tidak. Dirinya menikmatinya, semakin bersemangat kala Claudia melenguh.
"Aku punya anak! Tidak lebih tepatnya bayi!" Teriak orang mabuk itu, membuat Michael tersadar akan semua hal yang salah hari ini.
"Kenapa berhenti anak mama sayang!" Claudia malah tertawa, menarik rambut Michael agar melanjutkannya.
"Inilah kenapa nenek menasehatiku agar tidak menikah." Gumam Michael menghela napas kasar, membelai rambut Claudia. Senyuman terlihat di wajahnya, sebagai seorang suami siapa yang tidak ingin? Tapi dirinya cukup mengerti, wanita ini akan menangis keesokan paginya.
Menghela napas kasar, membalut tubuh Claudia menggunakan selimut. Cukup mudah sejatinya membalik posisi mereka.
"Anakku! Kenapa aku malah diangkat?" Ucap Claudia kala Michael mengangkat tubuhnya.
"Membersihkanmu dari bau alkohol. Kamu sungguh merepotkan..." Keluh pria itu tersenyum tulus. Tidak ada beban atau apapun sama sekali.
__ADS_1
Dirinya bukan tipikal pria seperti itu. Menyakiti orang lain? Benar! Itu yang akan dilakukannya, tapi tidak akan menyakiti Claudia yang dicintainya.
Senyuman terlihat di wajahnya. Membasuh tubuh wanita itu dalam bathtub. Wanita yang sesekali tertidur, bangun, kemudian tertidur lagi.
Apa anggota tubuh Michael tidak bereaksi? Tentu saja bereaksi, tapi terkadang rasa kasih sayangnya begitu besar pada wanita yang tersenyum ini. Tersenyum dalam keadaan mabuk berat.
Air? Terkadang itulah pemicunya, rasa sakit kepalanya timbul lagi. Seorang anak perempuan ada disana, seusia atau mungkin lebih muda darinya. Berlarian di dekat kolam.
"Michael! Mulai sekarang dialah tunanganmu. Seseorang yang akan menjadi istrimu. Itu keinginanmu kan? Jangan merajuk hingga tidak mau makan lagi. Ini hadiah ulang tahunmu yang ke 5." Seseorang mengatakan padanya. Sebuah ingatan acak, ayahnya. Orang itulah yang mengatakan padanya.
Apa itu? Sebuah ingatan? Tidak! Tidak ada hal seperti itu yang pernah terjadi dalam hidupnya. Ayahnya sudah meninggal sejak dirinya bayi, dan ibunya bekerja di Hongkong sebagai ART hingga jarang pulang. Itulah yang diceritakan oleh Berta.
Bibirnya bergetar berusaha untuk tetap tersenyum. Claudia, dialah istrinya tidak ada yang lain.
Tubuh yang diangkat kemudian dikeringkan olehnya perlahan. Memakaikan jubah mandi hotel, menyelimuti tubuh sang wanita mabuk.
"Aku mencintaimu. Apa yang bisa aku lakukan tanpamu..." Bisiknya di telinga Claudia.
*
Seorang wanita paruh baya kini memakai pakaian hitam. Ini adalah acara pemakaman salah satu rekan bisnis keluarga almarhum suaminya.
Mengikuti acara pemakaman hingga akhir. Matanya menatap ke arah salah seorang wanita yang juga hadir.
Tidak ada kata yang terucap, berjalan menuju mobilnya setelah acara pemakaman selesai.
"Bibi!" Panggil seorang wanita muda yang memang seumuran dengan putranya.
"Ada apa?" Senyuman mengembang di wajah Yuki Kashiwagi (ibu Michael), lebih tepatnya berpura-pura tersenyum.
"Terimakasih sudah membiayai kuliahku selama ini. Aku masih mengingat saat Michael dan paman Argon masih hidup. Ji...jika saja, Michael tidak meninggal akibat---" Kalimat wanita itu terhenti.
__ADS_1
Plak!
Satu tamparan dilayangkan Yuki, dirinya sudah tidak tahan lagi mendengarnya."Mulutmu lumayan lancang ya!?"
"Nyonya! Tidak seharusnya anda seperti itu pada---" Kalimat pemuda yang juga hadir itu disela.
"Kamu tidak tahu bukan? Wanita ini adalah cinta pertama putraku, selama belasan tahun selalu mengulang kata-kata yang sama setiap tidak sengaja berpapasan denganku. Ada alasan tersendiri aku membencinya. Insting seorang ibu, akan membenci wanita yang terlalu dicintai putranya." Sebuah kalimat yang diucapkan Yuki, membuat pria itu terdiam sejenak, mendekap tubuh kekasihnya erat.
"Selvia... wanita itu. Jika putraku masih hidup, aku yakin dia akan meninggalkanmu. Karena itu aku membencinya." Segurat senyuman terukir di bibir sang wanita paruh baya yang memasuki mobilnya.
Selvia terdiam, melirik ke arah kekasihnya yang ragu. Pria yang berasal dari keluarga cukup terpandang di negara ini. Itulah kekasihnya Shin, yang meninggal hari ini adalah kakek dari kekasihnya saat ini.
"Dia...aku mencintaimu..." Selvia menangis lirih bagaikan korban. Shin memeluknya erat, apa yang dapat dibanggakan dari pertunangan anak berusia lima tahun?
"Uang yang dihabiskan nyonya Yuki untuk pendidikanmu. Aku akan mengembalikannya." Ucap Shin menghapus air mata kekasihnya.
Selvia mengangguk, memeluknya erat di tengah hujan salju yang mulai turun seakan saling menguatkan. Menghela napas kasar, ada sekitar 8 orang cucu dari sang kakek tua yang meninggal saat ini. Apa warisan yang akan didapatkan Shin? Tentu itu tidak sepadan.
Andai saja paman Argon tidak mati, andai saja Michael tidak menyalahkan dirinya sendiri dan meninggal akibat sakit di usia 6 tahun. Ini tidak akan pernah terjadi, dirinya akan tetap menjadi tunangan Michael.
Cinta pertama? Apa itu ada? Sebuah kebohongan yang diambil dari kesalahpahaman. Membawa seorang gadis yang pada awalnya tinggal di panti asuhan, sempat diperlakukan bagaikan nona muda selama setahun, kala menjadi tunangan Michael. Itulah Selvia di masa kecilnya.
"Andai saja Michael tidak mati..." Hal yang begitu disayangkan oleh Selvia.
*
Sementara Yuki masih berada di dalam mobil. Dirinya terdiam menatap salju pertama yang turun di musim ini. Masih mengingat dengan jelas bagaimana suaminya ditemukan meninggal. Dengan Michael tergeletak tidak sadarkan diri bagaikan mencoba menyeret mayat Argon, berharap tubuh itu masih hidup dan segera mendapatkan pertolongan.
"Salju pertama musim dingin...aku jatuh cinta pada Argon di saat seperti ini juga. Karena itu jika aku dapat berharap, aku ingin Michael segera menemukan orang yang dikasihinya." Itulah doa tulus darinya.
Wanita yang kemudian membuka sebuah map, berisikan data profil beberapa wanita yang akan pantas menjadi calon menantunya. Sudah saatnya putranya kembali.
__ADS_1
Tawa terdengar dari dalam mobil yang melaju. Teganya mereka bekerja sama untuk menyingkirkan Argon dan Michael sekaligus. Sebagai menantu apa yang dapat dilakukannya pada mertuanya? Benar! Orang yang mencoba menyingkirkan almarhum suaminya berasal dari anggota keluarga suaminya sendiri. Karena itu dirinya selama ini menyembunyikan Michael. Membuat kematian palsu untuk putranya.