
Kode akses apartemen ditekannya, wajahnya masih terlihat tersenyum."Michael..." panggilnya.
Tidak ada jawaban pada panggilan pertama, dirinya berjalan melewati ruang tamu. Kembali memanggil pemuda itu."Michael!" Ucapnya lebih kencang membuka pintu kamar. Namun, tidak ada hasil, bahkan tempat tidur masih tertata rapi. Mencari di kamar mandi pun tidak ada gunanya.
Claudia memasukkan martabak yang dibawanya ke dalam microwave, usai mandi, gosok gigi berusaha membersikan ciuman playboy gila kemarin. Dirinya tidak boleh ketahuan sudah melakukan hal buruk dengan orang lain.
Wanita itu kini sudah memakai baju rumahan. Kaos kebesaran dan celana pendek, rambutnya tergerai setengah kering.
Ini hari minggu, jadwalnya hari ini berciuman, pergi berkencan ke taman hiburan, ciuman, makan siang, ciuman lagi, baru pergi ke bioskop, menonton film sambil sesekali berciuman, pulang ke rumah makan malam romantis, ciuman... kemudian... kemudian. Claudia tidak memikirkan sejauh itu, tapi jika Michael memintanya lagi, dirinya tidak akan menolak.
Namun, apa Michael tidak terlalu lama untuk olahraga di sekitar apartemen atau sekedar membeli sesuatu di supermarket.
Masih menunggu, martabak itu sedikit dicicipinya. Belum basi, dirinya cukup bersyukur menunggu pemuda itu datang. Memeluknya, menciumnya, duduk dalam pangkuannya, menyuapinya, kemudian berciuman lagi.
Astaga! Bagaimana bisa Claudia yang merupakan pecinta pria tampan dapat berubah menjadi seperti ini? Entahlah, dirinya benar-benar jatuh cinta pada kelembutan dan kata-kata manis yang tulus dari suaminya.
Wajahnya masih tersenyum-senyum sendiri. Tapi orang itu tidak kunjung datang juga. Suasana apartemen terasa semakin sepi. Mencoba menghubunginya, tapi panggilannya dialihkan, bahkan dimatikan.
Wanita yang mulai cemas, kembali mengirimkan pesan padanya. Pada awalnya tanda centang dua yang terlihat, pertanda pesan telah terkirim, tapi tetap tanpa balasan sama sekali.
'Sayang kamu dimana? Aku merindukanmu.'
Itulah pesan kedua yang dikirimkan Claudia, tersenyum-senyum sendiri. Mungkin karena dirinya kali ini tulus menyukai Michael.
Cukup lama menunggu balasan. Mungkin aku juga mencintaimu, mungkin seperti itu balasannya. Tapi apa benar? Sebuah pesan yang cukup panjang.
'Claudia, pernikahan ini hanya berlangsung setahun bukan? Aku tetap mencintaimu, karena itu aku harus pergi demi dirimu. Ibuku sudah pulang, aku akan mengikutinya sementara waktu. Aku tidak akan dapat menghubungimu. Tapi aku akan mengawasimu dari jauh. Walaupun, kamu tidak pernah mencintaiku, tapi ketahuilah kamu selalu berada dalam hatiku. Aku akan segera menemuimu, setelah menyakinkan ibuku, aku berjanji.'
Claudia membulatkan matanya, tangannya gemetar membalas pesan dengan cepat. Jujur dirinya ketakutan saat ini. Suaminya mengetahui segalanya, rencana pernikahan yang hanya akan berlangsung setahun.
'Michael, aku mencintaimu!'
Pesan yang dikirimkannya sungguh-sungguh tanpa kebohongan, tanda centang dua biru terlihat pertanda pesan itu dibaca. Namun, tidak ada balasan sama sekali seakan Michael tidak percaya lagi dengan apapun yang dikatakan olehnya.
__ADS_1
'Michael kamu dimana sekarang!?'
Kali ini tanda centang satu pertanda pesan bahkan tidak terkirim. Mencoba menghubunginya percuma, nomor tersebut sudah tidak aktif.
"Michael..." Gumam Claudia, terduduk seorang diri.
Dimana harus mencarinya? Menghapus air matanya mencoba menghubungi Berta. Tapi seperti Michael, nomor tersebut tidak aktif sama sekali.
"A...aku ditinggalkan?" Gumamnya, tidak ada kata yang terucap lagi. Sesak, ini menyakitkan. Bukan hubungan yang berlangsung lama, tapi terlalu singkat untuk kata perpisahan.
Apa yang terjadi? Kenapa harus seperti ini? Apa karena kejadian kemarin? Michael mengetahui segalanya?
"A...aku..." Gumamnya gemetaran, benar-benar ketakutan. Dirinya bingung harus bagaimana.
Mungkin suaminya pulang ke desa, itulah yang ada dalam fikirannya. Menyambar jaket dan kunci mobil, tidak peduli apapun lagi. Dirinya harus mengejarnya. Menjelaskan padanya bagaimana perasaannya berawal, dari sebuah kepura-puraan menjadi perasaan yang nyata kini.
Wanita yang menekan tombol lift dengan cepat. Tidak ada yang dapat dihubunginya lagi selain Tara sahabatnya.
"Ada apa!? Ini hari minggu, bisa biarkan aku bangun siang?" tanya seseorang di seberang sana dengan nada malas.
"Ta... Tara, Michael pergi. Di...dia tau akan diceraikan dalam setahun. Ja...jadi..." Kalimat Claudia disela.
"Aku akan segera ke sana. Tetap tenang, jangan bunuh diri, menjadi janda tidak selalu buruk." Motifasi dari sahabatnya mematikan panggilan.
Claudia hanya menunduk terdiam, kala pintu lift terbuka, dirinya segera memasuki mobil. Menunggu kedatangan Tara. Tidak mungkin rasanya dapat menyetir dalam keadaan emosional seperti ini.
Tapi, entah kenapa ini menyakitkan. Benar-benar menyakitkan, dirinya harus menjelaskan segalanya. Tidak boleh kehilangan Michael kali ini.
"Agghhh...." erangannya dalam tangisan. Tidak dapat menyalahkan siapapun. Ini benar-benar adalah salahnya.
Apa tidak ada satu kesempatan lagi? Itulah yang ada dalam benaknya. Hingga Tara yang bahkan belum mencuci wajah dengan rambut acak-acakan tiba, memasuki mobilnya.
"Apa yang terjadi?" tanyanya pelan. Melihat keadaan sahabatnya yang begitu kacau. Wanita yang menyandarkan punggungnya pada kursi penumpang bagian depan. Memejamkan matanya sejenak, walaupun air mata masih tidak dapat ditahannya.
__ADS_1
"Michael pergi, dia mengetahui segalanya." Gumamnya tanpa ekspresi.
"Claudia aku bertanya sekali lagi, apa kamu mencintainya?" Tara menghela napas kasar, menggenggam jemari tangan sahabatnya.
"Aku mencintainya..." Jawaban dari Claudia, tanpa ekspresi sama sekali."A...aku ingin dia terus bersamaku."
Tara menghela napas kasar. Bahan saat dengan Evan sahabatnya tidak sampai seperti ini.
"Kenapa? Kenapa kamu mencintainya?" Tara kembali bertanya, sesuatu yang tidak masuk akal baginya. Lain halnya jika Claudia mengetahui wajah asli Michael.
"Hanya dia yang tulus, aku mengejar Evan selama belasan tahun, berakhir dengan kekecewaan. Dia membuatku tau, lebih indah dicintai daripada hanya mencintai..." Sebuah jawaban dari Claudia.
"Kita akan mencarinya! Pria tampan! Aku akan menemukanmu untuk Claudia yang patah hati!" Teriak Tara menginjak pedal gas mobil Claudia.
"Bodoh... temukan Michael...aku menginginkannya." Hanya itulah kalimat yang diucapkan Claudia.
Namun, Tara tidak menjawab sama sekali. Wajahnya tersenyum, kali ini Claudia menemukan seseorang yang benar-benar mencintainya. Seseorang dengan penampilan tidak mengecewakan. Bukan orang kaya? Pendidikan hanya sebatas SMU? Tenang saja, Tara dapat mengorbitkan Michael menjadi selebriti pendatang baru.
Semangat bagaikan pejuang kemerdekaan untuk bertemu pria tampan. Kali ini dirinya akan merobek lapisan gelatin itu dari wajah Michael. Tangan Tara benar-benar sudah gatal untuk melakukannya.
*
Kemana tujuan mereka? Tentu saja villa milik Claudia. Termasuk dalam wilayah desa tempat Michael berasal. Sudah malam kala itu.
Bertanya pada warga sekitar tentang rumah Michael dan Berta. Salah seorang warga mengantar mereka pada rumah yang dari luarnya hanya terlihat gubuk biasa.
Ada sedikit harapan disana. Namun, kala telah sampai langkah mereka terhenti sejenak, mendengar penuturan orang yang mengantar mereka.
"Semenjak Michael menikah, nenek Berta tidak menempati rumah ini lagi. Beberapa hari yang lalu ada yang datang juga. Ibunya Michael yang menjadi TKI di Hongkong. Katanya rumah ini mau dirobohkan." Ucap sang wanita paruh baya yang mengantar mereka.
"Apa dia bilang Michael dimana?" tanya Claudia penuh harap.
Wanita paruh baya itu menggeleng. Tapi semakin antusias dengan gosip."Kata orang yang mengaku ibunya Michael itu, Michael akan bercerai. Apa kalian ada masalah?" tanyanya pelan.
__ADS_1