Topeng Suami Buruk Rupa

Topeng Suami Buruk Rupa
Bab 48. Paksaan


__ADS_3

Berusaha menjawab dengan lebih tenang lagi. Bukankah dirinya memang berusaha untuk dicintai oleh Claudia? Tapi, apa dirinya benar-benar tidak diijinkan datang agar Evan dan Claudia dapat bersama?


"Penyakit menular? Apa hubungannya denganku? Kamulah yang bersenang-senang dan dipuja banyak wanita." Sinis Claudia menatap ke arah kerumunan wanita yang bersiap membela putra tunggal orang yang akan membeli sebagian saham perusahaan keluarga ini.


Michael tertawa kecil, menghela napas kasar."Setidaknya aku hanya ingin bermain di ranjang dengan satu wanita."


"Baguslah!" Claudia berusaha tersenyum, kembali duduk. Tidak ingin membuat keributan lebih lanjut.


"Tidak sekarang, tapi kamu akan berada di ranjangku secepatnya..." Senyuman menyungging di wajah pemuda yang melangkah pergi. Diikuti oleh Erlina serta putri beberapa pengusaha.


Sedangkan Claudia yang mendengarnya terbatuk-batuk. Menatap tajam ke arah pemuda yang melangkah pergi."Dasar! Psikopat sialan!"


Teriaknya benar-benar kesal, pria yang membuatnya tidak dapat berkata-kata. Matanya menelisik, berharap tidak ada satupun orang yang mengenalinya. Tidak ingin Michael mendengar sedikit saja gosip menyimpang tentang dirinya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Evan melihat kondisi Claudia yang emosional.


"Tidak apa-apa, aku harus pergi mencari angin..." Jawaban dari Claudia mulai berjalan ke luar dari ruangan pesta, sembari memijit pelipisnya sendiri.


Sedangkan Yuki melihat segalanya, senyuman semakin menyungging di wajahnya. Ini semakin menarik saja.


"Permisi..." Ucapnya tersenyum, meninggalkan lawan bicaranya.


Melangkah mendekati putranya yang kini masih berada di antara kerumunan wanita pengganggu. Tidak satupun pembicaraan mereka yang dirinya tanggapi bahkan kala ada yang berniat menyuapinya, pemuda itu hanya menatap sinis. Hingga suasana canggung yang terasa.


Inilah putranya jika sudah menemukan sesuatu yang berharga baginya tidak akan menyerah dengan mudah. Seperti 22 tahun lalu, seorang anak yang merengek untuk menikah padahal usianya masih 5 tahun. Tidak makan atau minum, itulah andalannya dulu membuat Argon terpaksa mengadakan pertunangan putranya di usia dini.


Dan kini? Memang tidak mogok makan atau minum. Namun, prilaku yang lebih posesif dan obsesif. Sang ibu yang kini berada di samping putranya membuat para wanita itu menyingkir.


"Kamu lihat sendiri kan? Wanita itu tidak dapat dipercaya." Suara bisikan dari ibunya.


Sedangkan pemuda itu hanya fokus menatap ke arah istrinya yang meninggalkan ruangan tempat pesta berlangsung. Ibunya benar, Claudia tidak dapat dipercaya sama sekali.

__ADS_1


"Ibu sudah mengatakannya padamu. Walaupun kamu dapat hidup bersama dengannya, kehidupan yang damai dan sederhana. Sampai kapan itu akan berlangsung tiga bulan? Satu tahun? Dua tahun? Dia bahkan tidak bersedia tidur denganmu. Itu artinya ujung dari pernikahan ini adalah perceraian." Senyuman menyungging di wajah Yuki. Tidak ada jawaban atau pembelaan sama sekali dari putranya yang memang tidak pernah memiliki ambisi.


"Setelah bercerai lalu apa? Akan ada pria kaya dan tampan yang menjadi pendampingnya. Menyentuh tubuhnya setiap malam. Sementara Micky ibu sayang...kamu memilih tinggal di desa dengan kerumunan sapi." Lanjut Yuki dengan senyuman semakin mengembang.


"Tidak ada yang boleh menyentuhnya," wajah Michael tersenyum.


"Tidak ada? Pria yang tidak memiliki kekuasaan sepertimu, apa yang dapat diharapkan?" tanya sang ibu pada putranya.


"Micky... untuk menyingkirkan semua pria yang mendekati istrimu, kamu memerlukan kekuasaan. Setidaknya setara almarhum ayahmu. Jika memiliki kekuasaan seperti ayahmu, kamu dapat mengikatnya di ranjang, hanya memberinya makan agar tetap hidup, jangan ijinkan dia keluar dari kamar selangkah pun. Kamu juga dapat menyingkirkan pria-pria yang mencoba mendekatinya." Kalimat demi kalimat, untuk menciptakan putranya yang dulu. Siapa yang menginginkan putranya menjadi orang baik?


Akan lebih banyak gangguan nantinya. Lebih baik memiliki putra yang keji, daripada melihat putranya bernasib sama dengan Argon.


"Ibu siapa sebenarnya kita?" Pada akhirnya pertanyaan itu terlontar juga.


"Akan ibu ceritakan, tapi tinggalkan Claudia sementara. Agar putra ibu tersayang memiliki kemampuan yang cukup nantinya. Ibu berjanji, walaupun dia tidak bersedia, kamu akan dapat mengurungnya, mengikatnya atau berbuat semaumu..." Racun otak dosis tinggi bagaikan disuntikkan pada putranya.


Pemuda yang mengepalkan tangannya, mengangguk menyetujui segalanya. Bagaimana seorang pemuda lugu, memiliki cinta tulus, bertipe green flag, berubah dalam sekejap menjadi tipe red flag.


"Ini bagus!" Gumam Yuki, menyadari jika Evan keluar sekitar 10 menit lalu menyusul Claudia terlebih dahulu dibandingkan dengan Michael.


Akan terjadi pertunjukan yang bagus, benar-benar bagus. Apa tujuan Yuki? Entahlah...


*


Wanita yang menenangkan diri di gazebo. Seharusnya dirinya datang bersama Michael saja. Setidaknya tidak akan kesepian seperti saat ini.


Meminum Vodka, mulai menyandarkan punggungnya, menatap ke arah bintang. Adakah tempat beristirahat untuknya? Jika pulang dirinya mungkin dapat beristirahat di pangkuan Michael.


Menikmati makanan buatannya, kemudian menceritakan harinya yang melelahkan. Dirinya ingin segera pulang. Tapi entah kenapa rasa kesal itu ada setiap bertemu dengan pemuda yang selalu dipanggil Micky itu.


Bagaimana dapat menyimpulkan dirinya berselingkuh hanya dengan berpegangan tangan saja? Kembali meminum Vodka nya dengan cepat, hingga gelas yang dibawanya tandas.

__ADS_1


Menelan ludah kasar, bagaimana dirinya dapat bermimpi beberapa kali tidur dengan pemuda yang bahkan baru dikenalnya saat ini. Sebuah mimpi konyol yang gila. Lebih dari itu, mungkin sudah saatnya membuat malam yang indah dengan Michael.


Kala itulah Evan datang kemudian mulai duduk di sampingnya."Tidak apa-apa membuat pertengkaran seperti itu dengan investor? Dia akan jadi salah satu pemegang saham."


"Aku tidak peduli. Jika rumor kita memiliki hubungan tersebar. Maka aku mampus!" Kalimat dari Claudia menghela napas berkali-kali.


Evan tertawa kecil."Mampus!?" tanyanya.


Claudia mengangguk."Jika suamiku mendengar dan mempercayainya bagaimana? Jika dia mengajukan perceraian aku dapat menyewa pengacara yang mahal untuk mencegahnya. Tapi hubungan kami tidak akan seperti dulu lagi."


Jemari tangan Evan mengepal, apa Claudia benar-benar menyukai pria itu? Pertanyaan yang kini ada di benaknya.


Berusaha untuk tersenyum."Jika bisa aku ingin memutar waktu dan tidak pernah menjalin hubungan dengan Erlina."


"Kenapa?" tanya Claudia tidak mengerti.


Evan menghela napas kasar."Dari awal segalanya hanya napsu dan kebohongan. Kamu ingat kata-katamu di hari pernikahan kita? Hanya memanfaatkanku agar kamu tidak dapat menikah. Serta segala aset almarhum kedua orang tuamu jatuh ke tangan pamanmu."


Claudia yang sudah setengah mabuk tertawa kecil."Akhirnya kamu sadar juga, sudah membajak kebun yang longgar."


"Aku bodoh..." Evan ikut tertawa, tapi hanya sejenak, tawanya perlahan menghilang."Aku iri padanya. Michael...apa aku dapat menggantikan posisinya? Tidak apa jika hanya menjadi suami di atas kertas. Tapi lebih dari itu, aku tidak bisa melihatmu bersama dengan pria lain."


"Aku bodoh..." lanjutnya.


"Apa maksudmu?" tanya Claudia tidak mengerti sama sekali. Mungkin pengaruh alkohol menjadi penyebabnya dirinya kurang dapat berkonsentrasi.


"Aku mencintaimu..." Evan meraih tengkuknya, memejamkan matanya. Sedangkan Claudia membulatkan matanya, baru menyadari tindakan sahabatnya ini.


Bibir yang akan bersentuhan.


Tapi tubuh wanita itu ditarik dengan cepat. Direngkuh, dipaksa untuk berdiri. Benar-benar gerakan yang cepat.

__ADS_1


"Wanita murahan yang berselingkuh..." Kalimat yang diucapkan Michael, mencium bibir Claudia secara paksa.


__ADS_2