Topeng Suami Buruk Rupa

Topeng Suami Buruk Rupa
Bab 65. Ingatan


__ADS_3

Yuri menyesap segelas teh di hadapannya. Rumah mertuanya menjadi tempatnya berada saat ini. Wanita elegan yang duduk menatap ke arah lukisan keluarga. Ingin rasanya dirinya merobek lukisan tersebut.


"Yuri!" Seorang wanita tua terlihat diikuti oleh putri tersayangnya.


Dua orang yang mulai tersenyum, lebih tepatnya pura-pura tersenyum duduk di hadapannya.


"Yuri lama tidak pulang, bagaimana perjalanan bisnismu?" Tanya Yuanita (adik almarhum Argon).


"Baik..." Yuri sedikit melirik interior rumah ini kembali. Wajahnya kembali tersenyum, memakan kue kering di hadapannya tanpa ada rasa canggung dan ragu.


"Yuri, kenapa kamu merahasiakan keberadaan Michael. Mengatakan Michael sudah meninggal. Kamu tidak tau betapa sakit hatinya perasaan ibu---" Kalimat Kenanga (Mertua Yuri) disela.


"Sakit hati?" tanya Yuri dengan senyuman yang menyungging di wajahnya."Sakit hati tapi mengumumkan cucu kesayangan kalian sebagai penerus?"


"Yuri! Ini semua juga milik putraku Argon! Wajar saja, jika Michael tidak ada, semuanya menjadi milik keponakannya. Lagipula Michael kita tersayang tidak memiliki pendidikan yang tinggi seperti Andara (sepupu Michael)!" Sanggah Kenanga.


"Tapi Michael memiliki darahku dan Argon. Jangan lupa setengah aset adalah milikku dan setengah lagi milik Argon. Sedangkan kalian? Kalian hanya kebetulan memiliki kartu keluarga yang sama dengan almarhum suamiku." Senyuman sinis menyungging di bibirnya.


Prang!


"Menantu durhaka! Argon tidak akan menyukai kata-kata kasarmu pada ibu dan adiknya!" Wanita tua itu membanting cangkir ke lantai hingga pecahannya berserakan.


"Apa yang kalian lakukan beberapa bulan lalu sebelum Michael muncul, berbeda dengan sekarang. Beberapa bulan lalu, kalian memohon untukku, agar menjadikan Andara sebagai putraku sendiri. Tidak perlu menarik dan memisahkan aset, tetap menyatukan dengan milik almarhum Argon. Tapi setelah kemunculan Michael sikap kalian berubah? Apa karena ada sesuatu yang disembunyikan---" Sebuah kalimat yang sengaja digantung. Melirik ke arah wajah mereka yang pucat dengan tangan gemetar.


"35 tahun lalu, Argon hanya buruh imigran di negara tempatku berasal. Tapi dia bersunguh-sungguh, berlutut di hadapan ayahku yang kaku untuk menikahiku. Berjanji akan menjagaku selayaknya ayahku menjagaku. Kami mulai hidup hemat setelah keluar dari rumah. Membangun usaha dari modal yang dipinjamkan ayahku. Merangkak sekian tahun." Yuri meneteskan air matanya tertunduk mengingat segalanya.


"Yuri! Tapi Andara sudah seperti anak bagimu. Pendidikannya juga tinggi. Michael harus belajar lebih banyak padanya dulu." Kenanga menghela napasnya, terlihat emosi yang terpendam disana.

__ADS_1


"Pernahkah ibu mertua mencemaskan Argon dan Michael? Aku sengaja mengalihkan topik tentang pewaris, tapi kalian menjadi sensitif seperti ini." Yuri tersenyum, benar-benar tersenyum entah kenapa.


"Ti... tidak! Bagaimana kondisi Michael. Dia cucu ibu jadi---" Kalimat Kenanga disela.


"Untuk sementara waktu keluar dari rumah ini." Kalimat tegas dari Yuri.


"Apa maksudmu! Rumah ini juga milik kakakku(Argon)!" Deru napas yang memburu, bagi Yuanita wanita ini benar-benar keterlaluan.


"Kakak? Kenapa kalian tiba-tiba berpura-pura baik. Argon hanya anak angkat bukan? Kenapa kalian menyembunyikannya? Apa agar aku tertipu? Sayangnya beberapa tahun ini aku melakukan penyelidikan tentang siapa yang sudah membuat suamiku mati dengan mengenaskan." Senyuman picik itu, Yuri berusaha menahan diri mengepalkan tangannya.


Janda satu anak? Itulah statusnya saat itu. Kala menemukan mayat suaminya yang mendingin, ditambah putranya yang entah mengapa mengalami trauma psikologis bagaikan orang tidak waras. Hanya Michael yang dimilikinya, karena itulah Yuri sengaja menyembunyikan putranya.


Tidak akan menunjukkan keberadaan putranya. Kecuali pelaku telah tertangkap. Kenanga dan Yuanita berusaha menguatkannya kala itu, adik dan ibu dari almarhum suaminya.


Tapi tidak! Tidak mungkin keluarga suaminya lah yang merencanakan semua ini. Setidaknya itulah dalam anggapannya dulu. Hingga menemukan fakta, Argon bukanlah anak kandung, melainkan hanya anak angkat yang bahkan tidak disayangi di masa mudanya.


Benang merah yang mulai terhubung. Penculikan Michael yang terjadi beberapa kali sebelum kematian Argon. Argon yang tidak ingin menyelidiki lebih lanjut tentang kejadian yang menimpa putranya, bagaikan terkesan melindungi tersangka.


Apa yang sebenarnya terjadi? Tapi dari tingkah laku kedua iblis ini dapat disimpulkan merekalah otak dari segalanya.


"Berani-beraninya kamu menuduh kami!?" Kenanga menitikkan air matanya, bagaikan seseorang yang paling terluka di dunia ini. Menyembunyikan rasa kesalnya.


"Yang jelas, rumah ini terlalu sempit untuk anak dan menantuku jika harus berbagi dengan kalian. Jadi, tinggalkan tempat ini." Kalimat demi kalimat yang membuat mereka semakin menyimpan dendam.


"Ayo ibu! Kita tinggal di apartemen saja! Nanti Dodik (Suami Yuanita) akan aku hubungi supaya langsung ke apartemen saja!" Yuanita menghela napas berusaha bersabar.


Kala mereka bangkit satu kalimat tajam lagi keluar dari mulut Yuri."Satu lagi, jangan bawa apapun dari rumah ini."

__ADS_1


Tidak tahan lagi, Yuanita berjalan cepat, hendak menampar Yuri. Tapi dengan cepat pula Yuri menepisnya.


"Kakak ipar! Kamu berubah! Dulu kamu mengatakan akan menjaga kami menggantikan almarhum kakak (Argon). Tapi mana buktinya sekarang?" Teriaknya berlinang air mata. Benar-benar mengundang simpati hendak mencari titik lemah Yuri yang mudah luluh dengan dalih keluarga.


"Buktinya? Suamimu melakukan penggelapan uang perusahaan tapi aku hanya memberikan surat peringatan. Membangun usahanya sendiri, usaha yang pada akhirnya bangkrut itupun modal dariku. Termasuk bekerja sama membunuh suamiku... haruskah aku menghabisi kalian?" tanya Yuri, masih tetap setia tersenyum.


Plak!


Satu tamparan dilayangkannya pada Yuanita pada akhirnya. Benar-benar menahan emosinya yang memuncak. Tapi tidak ada bukti sama sekali. Bahkan Michael tidak mengingat apapun, sedangkan Selfia masih bungkam.


"Pergi! Jika tidak pergi sebelum putraku datang aku akan menghabisi kalian di tempat ini. Sekarang juga!" Tangannya bergetar, betapa sulitnya menahan emosi setelah dapat menerka-nerka apa yang terjadi.


Keluarga suaminya sendiri adalah pelakunya dengan dikendalikan oleh orang luar. Tidak ada bukti tapi sebuah prasangka. Segalanya bertepatan dengan runtuhnya salah satu kerjasama bisnis.


"Kamu benar-benar kejam! Tega menuduh kami yang tidak bersalah. Kamu akan menyesalinya." Kalimat demi kalimat yang diucapkan mertuanya berjalan meninggalkannya seorang diri di rumah yang begitu besar.


Tidak ada kata yang terucap, dirinya hanya diam merenung dalam tangisan. Apa mereka benar-benar pelakunya? Tidak ada bukti pasti. Namun tingkah laku mereka kala dirinya menuduh benar-benar terlihat.


Yuri menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak, tidak ada seorang pun yang dapat dipercaya olehnya saat kematian Argon. Ayahnya juga tinggal jauh darinya, hanya berkunjung sesekali saat itu.


Karena itulah, ibu mertua dan adik iparnya telah dianggap sebagai keluarga olehnya. Menghapus air matanya, penyelidikan pada awalnya hanya tentang konflik-konflik kecil suaminya dengan beberapa saingan bisnis.


Tapi segalanya kini diketahuinya. Penculikan Michael yang terjadi beberapa kali, ibu mertua dan iparnya yang memberikan informasi pada pelaku tentang keberadaan putranya. Tidak menutup kemungkinan, kematian Argon juga sama.


*


Suara deru mesin mobil terdengar, tangan seorang pemuda melingkar di pinggangnya."Ibu! Aku sudah membawa Claudia kemari."

__ADS_1


__ADS_2