
Berta menghela napas kasar menatap ke arah taman depan villa. Mungkin ini tempat yang lebih baik untuk Michael, sebelum kedatangan nyonya besarnya.
Tempat yang aman bersama dengan orang yang dicintai tuan mudanya.
"Nenek!" Sapa Michael, duduk di samping Berta. Area taman depan villa.
Berta menghela napas kasar."Michael, mulai sekarang kamu akan tinggal dengan Claudia. Ingat semua isi buku dan pelajaran yang nenek berikan. Jika bisa bantu Claudia diam-diam! Ini hanya sementara, setelah ibumu datang, Claudia yang akan tinggal bersama kita."
"Nenek tidak ikut tinggal denganku?" tanya Michael, menegang jemari tangan Berta.
Berta menggeleng."Anda sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihan. Saya akan tinggal bersama anda setelah ibu anda kembali. Tapi jika ada hal yang anda perlukan temui saya di alamat ini." Ucapnya kembali mengucapkan kalimat formal, memberikan sebuah kartu nama.
"Nenek akan pindah?" tanya Michael dengan mata berkaca-kaca. Jemari tangannya mengepal, perlahan air mata itu mengalir juga.
Berta mengangguk, tidak dapat menahan rasa harunya. Seorang anak yang dirawatnya semenjak usia enam tahun. Memeluk tubuh Michael erat."Kamu jangan terlalu merindukan dan mencemaskan nenek. Hiduplah dengan baik."
"Bu...bukan begitu! Nenek!" Teriaknya terisak-isak, mungkin mereka tidak akan bertemu dalam waktu yang cukup lama.
"Nenek menyayangimu..." Kalimat dari Berta.
"Masalahnya trio sapi dan om kerbau bagaimana!?" Pertanyaan konyol darinya yang memang hanya memiliki mereka sebagai tempat curhat.
Plak!
Untuk pertama kalinya Berta yang terlanjur haru memukul punggung Michael. Benar-benar kesal rasanya saat dirinya sudah terbang ke atas awan karena rasa sedih harus dijatuhkan ke dasar jurang oleh bocah ini.
Mengatur napasnya, berusaha untuk tenang dan lebih profesional. Memang perlu kesabaran ekstra untuk menghadapi pemuda yang terlalu lugu.
"Begini sapi-sapi dan kerbau itu kita jual di tempat pemotongan saja." Tegas sang nenek.
"Tidak bisa begitu! Aku yang memelihara dan memandikan mereka dari kecil! Cuma mereka yang tidak jijik untuk bergaul denganku. Mereka sapi-sapi dan kerbau yang baik!" Michael tertunduk, benar-benar merasa kehilangan.
__ADS_1
Akan lebih menyenangkan jika Michael memiliki peliharaan kucing anggora, atau anj*ng Siberian Husky. Bisa dibawa kemana-mana, tapi ini tiga ekor sapi dan seekor kerbau? Terkadang dirinya menyesal menyelaraskan hidup dengan gaya pedesaan. Andai saja dulu dirinya sekalian membelikan kuda putih mungkin Michael akan terlihat lebih keren saat ini.
"Iya! Akan ada yang mengurus mereka. Nenek janji!" Berta bersungut-sungut kesal.
Michael bangkit sesaat, mengecup kening Berta."Nenek akan tetap menjadi nenek yang aku sayangi. Aku tidak pernah dapat melawan perintah nenek, selalu mempercayai yang nenek katakan. Jadi aku tidak akan bisa melarang nenek. Tapi cucumu ini akan selalu ada untukmu."
"Cucuku yang manis..." Berta tersenyum, inilah Michael yang diasuhnya sedari kecil. Memiliki hati yang lembut, walaupun terkadang kesulitan mengendalikan sifat posesifnya.
Cucunya? Itulah setidaknya yang ada dalam hati Michael. Walaupun Berta selalu menjaga jarak, menyayanginya sebagai cucu sekaligus tuan mudanya.
*
Ada kalanya persimpangan jalan terlihat kala semua harus pergi. Melambaikan tangan menatap sang nenek menaiki taksi. Sedangkan Santos mengendarai mobil pribadi, pria yang berkata akan datang sewaktu-waktu untuk melihat keberadaan mereka.
Dua orang yang tertegun, entah kenapa Michael kali ini menggenggam jemari tangan Claudia erat. Hanya Claudia yang dimilikinya saat ini, dan itu karena pilihannya. Untuk pertama kalinya, membantah kata-kata sang nenek.
Hati yang terasa sakit kala dirinya telah ditinggalkan. Namun, segalanya akan terhapus perlahan menjadi senyuman kala dirinya akan bertemu kembali dengan Berta.
Jemari tangan Claudia terangkat, benar-benar harus menganggap pria ini sebagai adik laki-lakinya. Membalas pelukannya, menepuk punggungnya pelan.
"Ha... hanya kamu yang ada saat ini. Karena itu jangan tinggalkan aku. Tolong! Hanya lihat aku..." Pintanya terdengar benar-benar manis tidak berbahaya sama sekali.
"Aku berjanji..." Kalimat yang mungkin suatu hari nanti akan disesali Claudia.
*
Ini adalah hari pertama pernikahan mereka. Apa yang biasanya dilakukan pengantin baru? Tentu saja berada dalam kamar seharian. Tapi tidak dengan Claudia, wanita itu tengah melihat satu persatu desain interior yang dikirimkan pihak supplier.
Perusahaan tidak boleh serta merta diserahkan pada pamannya. Itulah prinsipnya, tidak ingin adanya penyimpangan dana nantinya.
Jemari tangannya bergerak cepat. Matanya fokus membandingkan desain dari beberapa tim untuk memilih supplier mana yang sesuai. Berikut dengan data yang didapatkannya dari laporan proyek sebelumnya.
__ADS_1
Pada akhirnya dirinya menghela napas, menjadi lebih objektif saat ini, menghubungi seseorang."Fransisca, ini aku hubungi bagian desain. Katakan gunakan perusahaan lain. Perusahaan yang mereka pilih desainnya tidak cocok."
"Tapi ini perusahaan supplier pemenang tender yang dipilih pak Evan." Seseorang di seberang sana terlihat khawatir.
"Tema disini family dengan banyak ruangan dan tidak berbahaya untuk anak-anak. Tapi furniture disini tidak ada yang sesuai! Malah seperti pengantin baru. Jika dia protes, katakan saja, jangan mengendalikan perusahaanku sesuai kemauannya! Dia hanya bawahan!" Tegas Claudia membuat wanita diseberang sana bergidik ngeri.
Sedangkan Michael kebetulan melintas, seorang pengangguran yang tidak tahu harus melakukan apa. Mengenyitkan keningnya wajahnya tersenyum.
"Di dekat sini, ada yang menjual sekaligus memproduksi furniture. Jika waktunya cukup lebih baik kamu pesan saja ke pembuat secara langsung. Buat kesepakatan bisnis dengan pengerajin dari pada mengandalkan supplier. Mungkin kamu dapat membuka cabang anak perusahaan baru..." Usulan dari pemuda yang sedari tadi duduk disana sambil mengupas mangga.
Claudia membulatkan matanya. Bukan usulan yang buruk juga. Terkadang pria lugu yang tersenyum tulus padanya ini pintar juga.
"Sayang... jangan terlalu banyak berfikir, pelan-pelan saja. Nanti tekanan darahmu naik, kerutan akan tercipta di keningmu...aaa..." Michael menyuapi sepotong mangga padanya menggunakan garpu.
Menghela napas kasar, mengunyah sambil berfikir lebih tenang. Dirinya dapat datang sendiri, ribuan ide terlintas kala dirinya tidak panik. Mungkin mencari beberapa orang kepercayaan untuk menangani furniture akan lebih baik. Dibandingkan dengan mengambil dari supplier yang mematok harga satu setengah hingga dua kali lipat.
"Aku harus pergi!" Ucap Claudia bangkit tidak ingin membuang-buang waktu.
"Tunggu dulu!" Michael menghentikannya, menarik tangannya kemudian mengecup keningnya."Selamat berjuang istriku..."
Kalimat yang kembali membuat hati Claudia tidak karuan. Benar-benar keterlaluan serangan pria ini. Tapi dirinya tidak boleh kalah! Dirinya bukan budak cinta! Tapi Michael lah yang budak.
"Jaga hatimu suamiku...jangan berikan pada orang lain..." Claudia mengedipkan sebelah matanya.
Membuat pria itu tertegun, bagaikan terkena serangan jantung. Wanita yang pergi dengan senyuman manisnya. Dirinya sudah takluk dari awal.
Duduk seorang diri sambil melihat koran. Mencari pekerjaan, dirinya tetap harus bekerja. Ingin menjadi orang yang dapat diandalkan bagi Claudia.
Hingga.
Upin dan Ipin inilah dia! Kembar seiras itu biasa! Upin dan Ipin ragam aksinya, kau disenangi siapa jua...
__ADS_1
Suara dering phonecell milik Claudia terdengar. Dengan nama pemanggil Evan.