Topeng Suami Buruk Rupa

Topeng Suami Buruk Rupa
Bab 22. Tidak Akan Diceraikan


__ADS_3

Kala satu persatu lapisan gelatin itu diangkat, beserta dengan make up efek khusus yang dibersihkan. Wajah rupawan itu terlihat sempurna.


Sang dokter menelan ludahnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Berusaha konsentrasi kali ini mengobati luka pada bagian pelipis. Walaupun dirinya benar-benar tidak mengerti sama sekali, mengapa pemuda ini dengan sengaja menyembunyikan wajahnya.


Hingga pada akhirnya kala luka itu baru selesai diobati Michael terbangun.


"I...ini di villa?" Gumam Michael dengan kepala yang masih terasa sedikit sakit, matanya menelisik mengamati area sekitar. Kamar dirinya dan Claudia, itulah tempatnya berada saat ini.


"Iya, saya dihubungi untuk mengobati anda." kalimat sopan dari dokter Sopian.


Pemuda itu meraba wajahnya. Lapisan gelatin sudah diangkat."A...apa Claudia melihat wajahku?"


Sang dokter menghela napas kemudian menggeleng."Istri anda tidak melihatnya. Tapi kenapa---"


Kalimat sang dokter disela."Ini karena dia tidak menyukai pria tampan. Pada awalnya aku hanya mengikuti kata-kata nenekku, menutupi wajahku dengan luka palsu. Tapi setelah bertemu Claudia aku ingin menunjukkan wajahku."


"Lalu?" Sang dokter mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Aku tidak berani. Bagaimana jika aku ditinggalkan setelah dia melihat wajah asliku." Jawaban penuh senyuman dari Michael.


"Lucu! Tidak menyukai pria tampan! Istriku malah menyuruhku operasi plastik agar kerutan di wajahku menghilang." Sang dokter tertawa kecil.


"Claudia memang sedikit berbeda..." Michael ikut tertawa.


Berusaha mengambil koper kecil dengan kode kunci yang berada di kamar mandi. Pemuda itu melakukannya kurang dari 10 menit. Dengan letak luka pada bagian wajah sama persis. Kenapa begitu cepat? Sudah terbiasa melakukannya menjadi penyebabnya. Make up efek khusus yang begitu sempurna.


Hingga sang dokter sampai terpana, tersenyum kecil melihat perbedaan wajah yang gila-gilaan. Dari pria dengan kutukan menjadi seperti pangeran, kini kembali menjadi pria bagaikan dengan kutukan lagi.


"Lukamu tidak terlalu dalam. Mungkin kamu tidak sadarkan diri hanya karena efek syok. Tiba-tiba menerima serangan. Karena itu aku tidak akan meresepkan banyak obat." Sang dokter menghela napas kasar, menulis pada secarik kertas dengan cepat.


"Tolong! Jangan katakan pada Claudia tentang wajahku. Jika aku diceraikan bagaimana? Aku tidak punya modal untuk bertahan hidup di dunia yang dingin tanpa cinta ini..." Kalimat lebay darinya, meminta pada sang dokter dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Kamu masih punya modal! Wajahmu! Dengan menjadi selebritis, banyak wanita yang akan bermimpi menghangatkan ranjangmu. Ditambah uang yang akan kamu dapatkan untuk sekedar iklan atau syuting..." Sang dokter kembali tertawa sambil memegangi perutnya.


"Dok! Saya serius!" Pinta Michael.


"Baik! Baik! Aku tidak akan mengatakannya tapi ingat obati pelipismu dengan baik. Agar wajahmu tidak ada bekas lukanya. Itu modal terbesar darimu setelah bercerai nanti, karena ketahuan tampan..." Goda sang dokter lagi, benar-benar ingin tertawa berguling-guling rasanya melihat situasi saat ini.


"Tolong..." Michael menghela napas kasar, mengeluarkan kartu ATM yang diberikan neneknya.


"Aku tidak akan mengatakannya. Jangan cemas. Simpan uangmu! Karena aku jamin, suatu hari nanti saat Claudia melihat wajahmu, dia tidak akan membiarkanmu keluar rumah." Sang dokter menepuk bahunya melangkah keluar meninggalkan Michael yang kembali berbaring penuh kecemasan.


*


Air matanya masih mengalir hingga kini. Bagaimana jika Michael tiba-tiba menjadi idiot setelah mengalami luka pada bagian kepala? Atau mungkin kebutaan jika mengenai syaraf mata. Berbagai fikiran buruk ada dalam benaknya.


"Hi ... hilang ingatan? Gegar otak? Atau mungkin koma. Seharusnya aku membawanya ke rumah sakit..." Gumaman Claudia menyalahkan dirinya sendiri.


Kreak!


"Bagaimana keadaannya? Apa sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit!?" tanya Claudia ketakutan.


"Otaknya mengalami kerusakan karena virus." Sang dokter menghela napas kasar.


"Ke... kerusakan?" Tanya Claudia dengan air mata mengalir.


"Otaknya memang sudah rusak dari awal karena virus cinta. Dia tergila-gila pada wanita tidak waras sepertimu!" Sang dokter tertawa kencang, dokter yang sudah menjadi dokter keluarganya selama puluhan tahun, itulah dokter Sopian.


"Dok! Aku serius! Dia tidak apa-apa kan?" Tanya Claudia panik.


"Selain mentalnya yang sudah terganggu, karena sudah menjadi budak cintamu, selebihnya tidak apa-apa. Keadaannya cukup baik. Lukanya tidak terlalu dalam. Mungkin dia tidak sadarkan diri hanya karena terkejut saja." Jelas Sopian, kemudian berucap dengan suara kecil pada Claudia."Dia masih cukup sehat, bahkan jika kamu ingin melecehkannya malam ini."


Claudia enggan meladeni, berjalan memasuki kamar setelah mengirim sejumlah uang ke rekening sang dokter.

__ADS_1


Suara pintu dibuka kemudian kembali tertutup terdengar. Mata wanita itu menelisik mengamati keadaan suaminya.


Pria yang duduk di tepi tempat tidur sembari tersenyum hangat padanya.


"Michael..." Claudia berlari dengan sengaja menjatuhkan dirinya dalam pelukan suaminya.


Tidak ada kata yang terucap. Hanya sekedar senyuman hangat dari sang pemuda yang membalas dekapan hangatnya.


"Aku kira kamu akan mati!" Gumamnya dalam tangisan.


"Aku tidak akan rela mati. Jika aku matipun aku tetap akan mengikutimu sebagai hantu." Suara yang benar-benar terdengar indah dari sang pemuda dengan wajah rusak.


"Jangan bercanda...jika kamu mati, maka---" Claudia menghentikan kata-katanya sejenak. Kenapa dirinya begitu peduli pada nyawa Michael? Justru jika Michael mati, dirinya tinggal berpura-pura menangis. Mendapatkan warisan dari orang tuanya, tanpa kecurigaan pengacara. Lalu menjadi janda kaya, dengan stok pacar yang menumpuk.


"Maka apa? Tapi aku bersyukur, aku yang terluka, jika kamu yang terluka, atau mati. Mungkin aku akan memutuskan untuk mati bersamamu." Michael masih mendekap tubuhnya erat.


Gila! Sebuah tembakan! Tikaman! Bahkan anak panah! Seluruh nadinya tertembus. Pria sebaik ini tidak boleh mati. Spesiesnya sudah terancam punah, patut untuk dilindungi. Karena itulah Michael tidak boleh mati. Dia akan menjadi adik angkat yang baik setelah bercerai nanti.


"Maka...aku akan mengurus pemakamanmu." Jawaban datar dari Claudia.


"Aku tidak akan mati, kecuali kamu mati terlebih dahulu. Aku tidak akan rela, kamu bersama pria lain." Kata-kata manis yang membuat gula menjadi caramel, mencairkan coklat padat. Gila! Ini benar-benar gila! Orang ini bahkan dapat membuat Claudia berteriak dalam hatinya.


Tidak ada kata-kata untuk menghadapi gombalan pemuda ini. Memutar otaknya pun, otaknya sudah terasa kelu. Hingga hanya satu kata yang diyakininya membuat semuanya imbang dalam permainan. Kamu harus mencintaimu, tapi aku tidak boleh mencintaimu.


"Aku juga..." Kalimat yang diucapkan Claudia.


Entah kenapa dirinya yang ada dalam pangkuan Michelle perlahan memejamkan matanya. Bersamaan dengan sang pemuda.


"Ini hanya penghiburan padanya karena rasa bersalahku." Alasan Claudia dalam hatinya.


Sepasang bibir itu menyatu perlahan. Wanita yang mengalungkan tangannya pada leher Michael. Lidah yang bagaikan menyatu, mengantarkan sensasi rasa panas perlahan.

__ADS_1


__ADS_2