
Begitu cantik? Sebuah kalimat pujian yang membuat dirinya tidak karuan. Menghela napas kasar, berusaha bertindak senormal mungkin. Dirinya tidak mungkin jatuh cinta pada pria dengan pendidikan rendah, tidak punya apa-apa, ditambah dengan wajahnya yang rusak.
Tapi bukankah seperti wawancara pertama, kala Claudia bertanya apa yang dimilikinya selain rumah? Michael berkata punya cinta. Modal terbesar yang sejatinya membuat Claudia tanpa sadar berciuman dan berpelukan dengan yang mulia suami.
Gila bukan? Tapi harus diingat ini adalah tragedi cinta bertepuk sebelah tangan. Jadi hanya Michael yang cinta, sedangkan Claudia tidak, hanya pura-pura cinta. Cemburu juga, Claudia yang selalu memiliki emosi stabil tidak pernah cemburu pada Tara ataupun Mariana. Ingat! Claudia tidak pernah sekalipun cemburu.
"Ayo kita, a... ambil beberapa foto lagi..." Claudia tergagap, dirinya hanya bercanda. Tapi tidak tahu situasinya akan menjadi seperti ini. Pemuda yang bangkit, meraih phonecell mengambil beberapa foto dengannya, kemudian mengirim foto pada Santos dan Berta.
Sesi pengambilan foto untuk menipu semua orang selesai. Setidaknya itulah yang ada dalam benak Claudia.
Tapi pemuda ini tiba-tiba berjongkok di hadapannya."Naiklah!" pintanya, menginginkan Claudia naik ke punggungnya.
Perlahan dengan ragu wanita itu naik, ke atas punggung Michael. Ada rasa damai tersendiri kala menyandar di punggung kokoh itu. Angin membelai rambut panjangnya.
Tangannya masih menegang sehelai ilalang, seakan itu adalah tongkat mainannya. Bagikan kembali ke masa kecil? Itulah dirinya saat ini. Tersenyum tanpa beban sedikitpun.
"Kamu suka makan apa?" tanya Michael ragu.
"Aku menyukai nugget dan sosis dengan saus tomat." Jawaban jujur dari Claudia, makanan ringan. Bukan makanan mewah restauran.
"Aku akan mengingatnya, karena kita akan hidup bersama hingga tua nanti..." Kalimat dengan kata-kata hangat dari seorang pemuda yang lebih muda darinya.
Perlahan Claudia mencoba memejamkan matanya. Detik demi detik yang benar-benar damai. Tidak seperti pria-pria lain yang mendekatinya dengan menggebu-gebu. Pemuda ini begitu nyaman, manis dan lembut, bagaikan tiramisu.
"Em..." Hanya itulah jawaban dari Claudia mengiyakan.
"Claudia..." Suara Michael kembali terdengar.
"Apa?" Tanya Claudia pelan.
__ADS_1
Angin berhembus perlahan, sinar matahari masih terlihat. Menggendong wanita ini di punggungnya. Pemuda yang tersenyum, menikmati setiap detik ini.
Tidak ada rasa bosan untuk bertanya padanya."Apa kamu mencintaiku?"
"Tentu, aku mencintaimu..." Jawaban dari Claudia. Wanita yang dalam fikirannya berdusta pada Michael. Namun, dusta yang indah baginya, terasa lega dalam dada setiap kali mengatakannya. Ini hanya dusta, tapi kenapa dapat seindah ini setiap mengatakannya?
"Aku bahagia, hari pertama bertemu denganmu. Wanita elegan yang bicara dengan tegas dan penuh perhitungan. Hari kedua bertemu denganmu, menolak semua orang, tapi menerimaku, mengatakan jatuh cinta pada pandangan pertama padaku. Hanya karena aku lucu. Bagaimana aku bisa tidak jatuh cinta padamu?" Senyuman menyungging di wajah Michael. Sebuah senyuman yang tidak dapat dilihat oleh Claudia. Tapi dia mengetahuinya, pemuda ini benar-benar tengah tersenyum.
Bagikan jaring laba-laba yang menjerat Michael. Mungkin itulah yang terjadi, jaring laba-laba indah yang tidak ingin dilepaskan oleh sang kupu-kupu. Membiarkan sang laba-laba memakan dagingnya.
Tapi, siapa yang akan terjatuh pada akhirnya? Setiap detik ini begitu indah.
"Aku akan menjadikannya adik angkatku setelah bercerai nanti. Tinggal dengan nyaman bersamanya. Kemudian aku akan menikahi pria mapan dan tampan." Batin Claudia mulai tertidur perlahan.
"Aku ingin memiliki rumah kecil denganmu. Mungkin mempunyai sepasang anak, laki-laki dan perempuan. Jika tidak melakukannya (berhubungan) sampai akhir, juga tidak apa-apa. Tidak memiliki anak juga tidak apa-apa. Tapi aku tidak ingin ditinggalkan olehmu..." Kalimat yang diucapkan Michael, tidak terdengar oleh Claudia. Wanita yang telah tertidur nyenyak.
Michael tersenyum menyadarinya. Masih menggendong tubuh Claudia di punggungnya. Sungguh hari yang indah, kala angin membelai wajah mereka.
Terlelap menyambut mimpinya. Sebuah mimpi yang begitu indah. Mungkin benar-benar damai menyambut hatinya.
Dalam mimpi yang indah, dirinya tertawa bersama seseorang. Bercanda di atas tempat tidur, membicarakan hari lelahnya.
Siapa? Apa itu Michael? Entahlah, tapi sesuatu yang membuatnya nyaman. Namun, hanya sejenak, kala seseorang itu bangkit duduk di tepi tempat tidur.
"Sayang." Panggil Claudia memeluk sang pemuda dari belakang.
Tapi tidak ada jawaban, pemuda itu menepisnya. Pemuda yang tidak dikenal olehnya."Kita akhiri saja ..." ucap orang itu.
"Akhiri?" Claudia mengenyitkan keningnya, terasa sebuah kecemasan dalam dirinya.
__ADS_1
"Iya...kita akhiri saja." Pemuda itu menoleh ke arahnya terlihat wajah dan pakaian Michael berlumuran darah segar.
"Mi... Michael?" Gumamnya dengan air mata mengalir. Menatap pemuda berwajah buruk itu mulai bangkit.
Kala bibirnya kelu untuk berucap, berusaha bangkit tidak menginginkan kepergian tempat ternyaman baginya. Namun seseorang mencegahnya.
"Claudia, kamu tidak mencintainya kan? Aku kembali untukmu..." Kalimat yang ucapkan Evan, menarik pergelangan tangannya.
"Mi... Michael!" Teriak Claudia menyadari bayangan Michael perlahan sirna. Wajah yang sedikit tersenyum itu menghilang bagaikan menjatuhkan dirinya dalam bias cahaya yang lenyap perlahan.
"Hah...hah...hah..." Dirinya mencoba menghirup napas dalam-dalam. Matanya baru saja terbuka, setelah terbangun dari tidurnya.
Mengamati keadaan di sekitarnya. Benar! Ini dalam mobil, dirinya dan Michael kini tengah berada dalam perjalanan pulang menuju villa.
Pemuda yang tersenyum padanya."Sayang, apa kamu memimpikanku? Apa mimpi yang indah? Tadi kamu memanggil namaku beberapa kali saat tidur. Apa bermimpi tentang anak kita? Kita bermain bersama?"
"I...iya..." Claudia tersenyum canggung sejenak. Menghela napas berkali-kali, berusaha menenangkan fikirannya. Dirinya sering bermimpi aneh karena kalimat demi kalimat pria sialan ini. Untung baik... dirinya menjadi sayang padanya. Calon adik angkatnya. Tapi yakin setelah bercerai akan menjadi adik angkatnya? Entahlah...apa yang ada dalam fikiran wanita ini. Tidak menginginkan keberadaan Michael sebagai suami setelah setahun pernikahan. Tapi juga tidak ingin kehilangannya.
"Apa yang kamu impikan? Apa anak kita ada dua, perempuan dan laki-laki?" tanya Michael antusias.
"I...iya!" Dusta Claudia lagi.
"Aku ingin mereka memiliki wajah secantik dirimu." Ucap Michael tiba-tiba, mengecup pipi Claudia. Pemuda yang tersenyum canggung menatap ke arah jendela. Mengetahui sang supir mengamati mereka dari kaca spion bagian dalam.
Sedangkan Claudia membulatkan matanya. Meraba pipinya sendiri, tidak! Dirinya tidak puas sama sekali! Ini tidak benar! Hanya pipi!? Apa pria ini sudah gila!? Mungkin itulah yang ada dalam benaknya. Kala dirinya menarik Michael kembali.
Mencium bibir pemuda itu bagaikan seseorang yang kehausan. Lidahnya bahkan menerobos masuk ke dalam mulut suaminya.
"Ini gila! Supir sedang mengamati kita! Tapi aku ingin..." batin Michael, mulai masa bodoh.
__ADS_1
Sedangkan Claudia tidak menyadari segalanya. Fikirannya kelu, entah kenapa dirinya bagaikan merindukan pemuda ini. Hanya mimpi? Mimpi bagikan kenyataan yang terjadi.
Sang supir menghela napas kasar."Cium saja trus! Putar, jilat, lalu celup! Jangan lupa susunya diminum!" Batin sang supir mengingat sebungkus Oreo dalam tasnya.