Topeng Suami Buruk Rupa

Topeng Suami Buruk Rupa
Bab 37. Rumus Tidak Masuk Akal


__ADS_3

Michael menghela napas kasar, berusaha bersabar."Di hotel mana kalian menginap?" tanyanya.


"Cempaka putih, kamar Bu Claudia 23 B. Tapi sekarang kami masih di area club'malam, ruangan VVIP 327. Bu Claudia sedang dirangkul saya cemas..." Ucap seseorang di seberang sana.


"Aku akan kesana! Jangan biarkan dia disentuh. Jika tidak, aku sendiri yang akan membuat perhitungan dengan kalian." Sebuah ancaman dari Michael mematikan panggilannya.


Tidak dapat berbuat apapun. Dirinya segera mengambil dompet dan turun masih memakai setelan piyama dengan sandal rumahan berbentuk kelinci yang lucu. Ingat! Michael tidak punya mobil, apalagi bisa menyetir. Dia tidak seperti pemeran utama pria yang langsung mengambil kunci mobil sport, kemudian melaju bagaikan mengikuti balapan liar.


Kehidupan begitu lambat baginya, kala menunggu bis yang menurut jadwal akan melintas 10 menit lagi. Kala dirinya naik, ada beberapa wanita dan pria yang berada di dalam bus, menatap ke arahnya yang terlihat cemas. Pria tampan, rambut acak-acakan, senyuman menggoda, bentuk tubuh dibaluti piyama berwarna biru Dongker dengan motif Doraemon, ditambah sandal selop rumahan berbentuk bulu kelinci.


Astaga! Menggemaskan! Bukan citra pria cool seperti di film-film tapi citra malaikat lugu nan polos. Membuat semua wanita yang ada disana tidak dapat mengalihkan pandangannya.


"Sayang!" Bentak salah seorang penumpang pria yang membawa pacarnya.


"Sebentar!" Wanita itu malah mengambil gambar Michael diam-diam. Kapan lagi dapat melihat wajah artis dunia nyata.


Artis? Bahkan artis sinetron stripping kalah jauh dari malaikat polos ini. Benar-benar citra pria baik yang melekat.


Tidak memperhatikan segalanya, yang ada di otak Michael adalah tubuh Claudia yang disentuh sembarangan oleh pria lain.


Dirinya ingin segera sampai, hotel yang sejatinya berjarak tidak jauh dari apartemen. Mungkin alasan sebenarnya Claudia menginap tidak ingin dirinya bertemu dengan siapapun yang mengantar Claudia pulang nantinya.


Tapi apa bisa dikata. Yang mulia suami sudah hampir tiba. Akan menyeret yang mulia istri pulang.


*


Apa yang sebenarnya terjadi? Beberapa karyawan dan karyawati ada di sana. Mereka tidak banyak minum seperti Claudia yang harus bersulang berkali-kali dengan klien.


Klien mereka sudah pulang sedari tadi. Mengapa? Ini semua adalah rencana mereka, akan menguak siapa sebenarnya suami Bu Claudia. Mata-mata wanita itu yang melaporkan setiap kesalahan karyawan.


Ada beberapa kandidat anak baru dalam fikiran mereka. Manager bagian produksi, staf marketing yang baru, atau mungkin anak baru dari staf keuangan. Mengapa? Hanya mereka yang cukup tampan untuk menjadi kandidat suami Claudia yang terkenal memiliki selera tinggi.


"Aku taruhan staf bagian produksi!" Tegas seorang karyawati berkacamata.


"Tidak! Sudah jelas-jelas manager! Bu Claudia pasti akan memilih calon suami dari kasta kalangan atas!" Seorang karyawan dengan potongan rambut mangkok antusias.


Mereka berlima tengah berada di ruangan VVIP club'malam tersebut. Membuat Claudia benar-benar tidak sadarkan diri karena mabuk adalah tujuan mereka. Dengan begitu mata-mata di perusahaan akan terungkap. Agar mereka lebih waspada menghadapinya.

__ADS_1


Menunggu? Itulah yang mereka lakukan. Apa yang ada di banyangkan mereka? Pria dewasa, keren, mapan dan cerdas. Setidaknya setingkat dengan Evan, pria yang membuat seorang Claudia mengemis cinta.


Phonecell milik Claudia kembali berdering dengan nama pemanggil yang mulia suami. Dengan cepat salah satu karyawati mengangkatnya.


"Aku sudah ada di depan club'malam. Bagaimana dengan Claudia?" Pertanyaan seseorang dari seberang sana.


"Jangan! Jangan sentuh Bu Claudia lagi!" Sang karyawati berpura-pura panik. Ingin pemuda itu segera masuk.


Dan benar saja, panggilan dimatikan.


Jantung mereka berdegup cepat walaupun tidak jatuh cinta. Menunggu, siapa sebenarnya mata-mata di antara para staf dan manager.


Kala gagang pintu mulai bergerak, ketegangan terjadi. Mereka sudah bersiap dalam segala kondisi. Seperti apa wajah makhluk yang suka mengadu itu.


Hingga pada akhirnya pintu terbuka juga. Pria dewasa? Citra menyeramkan? Semuanya lenyap dalam sekejap. Seorang pemuda berdiri di sana. Pada awalnya menatap dingin, tapi pada akhirnya tersenyum manis kala melihat Claudia tertidur dengan pakaian lengkap.


Seorang pemuda memakai piyama biru dongker kontras dengan kulit putihnya. Siapa bilang citra bad boy selamanya memikat?


Pemuda dengan wajah menawan membuat para wanita dewasa itu bagaikan memiliki insting untuk melindungi. Ingin hatinya dipermainkan oleh pemuda ini.


"Sungguh pemandangan yang menyegarkan!"


"Umurmu berapa? Apa kamu masih mahasiswa?"


"Astaga!"


"Gila!"


Itulah yang diucapkan kelima orang itu. Namun pemuda itu masih tersenyum membawa pisau kecil di tangannya. Pisau yang tidak begitu besar, dipinjamnya pada bartender. Akan digunakannya untuk mengirim orang yang menyentuh istrinya ke akhirat.


"Selamat malam...saya suami Claudia. Bisa saya membawa istri saya pulang?" tanyanya, penuh sopan santun bagaikan pria baik tidak berdosa.


"Si... silahkan!" Ucap karyawati berkacamata gugup.


Michael mendekat, mengamati keadaan Claudia dengan seksama. Tidak tersentuh sama sekali, jadi ini hanya kebohongan.


"Maaf! Kami hanya penasaran seperti apa suami Bu Claudia." Karyawan dengan potongan rambut berbentuk mangkok berucap.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, tapi kalian beruntung." Michael masih tersenyum hangat, memberikan pisau kecil yang dibawanya pada sang karyawan."Kembalikan pada bartender. Katakan aku minta maaf sudah berniat membunuh orang dengan pisau miliknya."


"Mampus!" Satu kata dalam benak kelima orang itu menjabarkan semuanya. Pria berwajah baik hati ini, tidak berjiwa bersih.


Mengangkat tubuh Claudia, setelah mengalungkan tas pada bahunya. Michael menghentikan langkahnya sejenak."Nama kalian Irwan, Ira, Santi, Sukma, Darja. Aku mengingat semuanya dan selalu mengawasi kalian."


Kelima orang yang menelan ludah kasar. Orang ini benar-benar bekerja di kantor. Tapi mereka tidak pernah melihat wajah ini sama sekali. Jika ada orang seperti ini di kantor, maka mungkin satu kantor akan membicarakannya dengan cepat. Pria tampan yang paling populer, bahkan melebihi Evan. Tapi sayangnya bagaikan seorang psikopat.


Kala Michael telah pergi, kelima orang itu hanya dapat tertegun.


"Di...dia siapa?" Tanya pria berpotongan rambut mangkok.


"Jika ada pria setampan itu di kantor aku pasti sudah tau!" Teriak karyawati berkacamata.


"Apa kita akan dipecat?" tanya karyawati lainnya.


"Kita akan menjadi sasaran pembunuh berantai..." Karyawan lain menjawab dengan wajah pucat pasi.


*


Tidak ada pilihan lain, jarak untuk pulang ke rumah lumayan jauh dirinya juga harus menaiki bis. Karena itu Michael memutuskan untuk naik ke lantai tiga gedung tersebut. Tempat kamar hotel yang telah di reservasi oleh Claudia.


Kesulitan membuka pintu? Dirinya menurunkannya sejenak. Kemudian membuka pintu, mengangkatnya kembali masuk.


Tidak disangka, istrinya benar-benar mabuk. Tubuh itu diletakkannya di atas tempat tidur. Namun, tanpa disadari mata Claudia terbuka.


"Kamu muncul di mimpiku lagi." Gumam Claudia menatap wajah pemuda yang biasa terlihat dalam mimpinya.


"Mimpi? Claudia Ini---" Kalimat Michael terhenti. Kala Claudia menarik tangannya.


Menjatuhkannya dalam posisi kini Claudia yang duduk di atas tubuhnya."Jangan pura-pura tidak tahu. Kita sudah biasa melakukannya bukan? Bahkan terakhir kali kamu menggunakan borgol di tanganku. Tetap menghujamku walaupun aku berkata sudah lelah."


Claudia mulai membuka pakaiannya sendiri. Wanita yang mengira ini hanyalah mimpi akibat pengaruh alkohol. Mimpi yang sering mendatanginya, dimana pria dengan wajah ini, kerap melakukan hal panas dengannya.


Wajah ini? Benar! Pria dalam mimpinya adalah orang ini.


"Apa yang terjadi!?" Teriak Michael.

__ADS_1


__ADS_2