
"Undangan?" Claudia menghela napas kasar. Tidak memungkinkan bagi pamannya untuk menyerang atau mempermalukan dirinya di depan umum. Tapi bagaimana dengan Michael?
"Apa ini rencana obat penambah gairah? Tidak! Mungkin mereka akan mempermalukan Michael dengan menuduhnya sebagai pencuri. Bagaimana jika mereka mengirim wanita lain untuk menggodanya bercerai!? Ini suamiku tercinta! Suamiku tersayang yang terlalu polos! Bagaimana mereka berfikir untuk dapat menggodanya!" Itulah hal yang ada dalam otak Claudia saat ini.
"Aku akan pergi sendiri. Rahasiakan dari suamiku. Bagaimana jika ada wanita cantik yang menggodanya untuk bercerai denganku? Suamiku tidak boleh ikut hadir!" Sebuah tekad dari Claudia.
"Ini menyedihkan..." Gumam Fransiska, mengingat bagaimana majikannya yang berselera tinggi kini terlihat cemburu, over protektif pada makhluk sejenis singa laut.
*
Senyuman merekah di wajahnya kala seorang kurir membawakan undangan untuknya. Menghela napas kasar membayangkan bagaimana dirinya akan datang bersama dengan Claudia.
Ini sudah jam pulang kantor, berjalan menuju lapangan kosong tempat biasanya dirinya akan pulang satu mobil dengan Claudia.
Tidak ada yang berubah, seperti biasanya Claudia berada di sana, telah menunggunya. Sudah saatnya dirinya mengenal keluarga besar Claudia lebih jauh.
Menaiki mobil dengan cepat, undangan itu masih berada di tangannya hingga saat ini.
"Sayang....aku merindukanmu." Kalimat dari Claudia mengecup bibirnya sekilas.
"Aku juga," jawaban dari Michael penuh senyuman.
Tidak pernah bepergian kemanapun selama tinggal dengan istrinya di kota. Hanya berkutat pada apartemen dan kantor. Mungkin undangan keluarga ini adalah acara pertama yang akan mereka hadiri bersama. Dalam artian, kencan...
"Kamu mendapatkan undangan?" tanya Claudia mulai melajukan mobilnya.
Michael mengangguk dengan cepat."Nenek mengirimkan uang padaku. Mungkin aku akan memakainya dulu, kemudian mengembalikan saat gajian. Aku akan membeli setelan jas untuk acara ini. Jadi---.'
"Tidak perlu datang, acara ini tidak penting sama sekali." Ucap Claudia berusaha untuk tersenyum.
"Tidak penting? Tapi keluarga dan relasi bisnis akan diundang. Aku hanya ingin mengenal orang-orang yang dekat denganmu." Michael menghela napas kasar, berharap istrinya akan senang dengan kehadirannya.
"Acaranya akan membosankan. Tidak ada yang penting disana. Hanya beberapa orang yang berpidato, atau menyombong. Lebih baik kamu diam di rumah saja. Aku akan membelikan makanan kesukaanmu, saat perjalanan pulang." Tawaran Claudia.
Namun Michael menggeleng."Jika mengenal keluargamu mungkin akan lebih menyenangkan."
"Apa kamu tidak ingin mengakuiku sebagai suamimu?" batinnya.
"Michael, tetap diam di rumah. Besok hari minggu, kita bisa berbelanja dan mendekorasi apartemen bersama." Claudia tersenyum padanya, menggenggam jemari tangan suaminya.
Pemuda itu tertunduk sejenak."Kali ini saja, aku boleh ikut kan?" tanyanya.
"Evan juga hadir, tapi aku tidak boleh? Apa karena aku akan diceraikan setelah setahun?" Kalimat yang tidak disampaikan olehnya. Mengetahui segalanya namun tidak dapat berbuat apapun.
__ADS_1
"Michael, aku tidak ingin kamu sakit jika bergadang atau---" Claudia menjelaskan pelan, namun kalimatnya disela.
"Aku akan meminum vitamin, aku tidak mudah sakit jadi---"
"Aku bilang kamu tidak boleh datang! Tinggal diam di rumah! Ok!?" bentak Claudia dengan nada suara tinggi. Wanita yang melepaskan genggaman tangannya dari Michael, memijit pelipisnya sendiri.
"Aku akan tinggal di rumah." Pada akhirnya pemuda itu tersenyum, mengepalkan tangannya. Mengetahui segalanya, tidak berpendidikan tinggi, memiliki wajah buruk, status sosial rendah. Claudia tidak mungkin mencintai seseorang sepertinya.
Di saat-saat seperti ini, dirinya merindukan hari yang damai. Membawa beberapa buku, serta sapi dan kerbaunya ke ladang. Kota dengan polusi yang terlalu menyengat baginya.
Berta benar, tidak seharusnya dirinya menikah. Tapi... dirinya tetap menginginkan wanita yang dari awal tidak mencintainya.
"Apa yang Michaelku sayang inginkan? Chicken katsu, beef steak..." Claudia berusaha seperti biasanya. Dirinya memang terlalu keras. Tapi ini demi kebaikan suaminya yang lugu.
"Mungkin martabak. Aku tidak pernah memakannya." Jawaban dari Michael penuh senyuman.
*
Seperti sudah diduga olehnya. Wanita itu begitu cantik kala menatap ke arah cermin. Memakai gaun hijau tua begitu kontras dengan warna kulitnya.
Riasan tidak begitu tebal digunakan olehnya, beberapa aksesoris, serta tas kecil. Michael terdiam sejenak, pemuda itu tertegun sembari tersenyum.
"Cantik..." gumamnya.
Michael mengangguk, memeluk tubuh Claudia."Ini hanya milikku. Aku tidak ingin orang lain memilikinya."
"Ya... ini hanya milikmu." Goda Claudia, mengalungkan tangannya. Mendekati bibirnya pelan, entah kenapa dirinya benar-benar bahagia.
Rasa itu dimulai lagi, kala aliran darah begitu cepat menyebar ke seluruh tubuhnya. Ciuman yang begitu intens, seakan pemuda ini takut akan kehilangannya.
Apa Claudia adalah miliknya? Mungkin itulah yang ada dalam fikiran Michael saat ini. Terpaku antara keraguan, merasakan tapi tidak memilikinya. Hingga tautan itu terlepas.
"Apa lipstikku berantakan?" tanya Claudia.
Michael menggeleng."Apa ini lipstik mahal?" tanyanya, tersenyum.
*
Pada akhirnya mobil itu melaju juga, meninggalkan seorang pemuda yang menatap kosong tanpa ekspresi. Pemuda yang terdiam dalam keraguan sesaat.
Kala itulah dirinya hendak berjalan menaiki lift. Namun, segalanya dihentikan, seorang wanita paruh baya menaiki lift yang sama.
"Sayang..." panggilnya.
__ADS_1
"Ibu?" Michael mengenyitkan keningnya, tersenyum memeluk seseorang yang memang hanya ditemuinya setahun dua kali. Seorang wanita yang memakai kacamata hitam dan topi yang lebar."Ibu membawakan oleh-oleh?" tanya sang anak yang manja.
Yuki menggeleng."Tidak! Tapi sebaiknya kita bicara di tempat lain."
Michael mengangguk, menekan tombol lift menuju unit apartemen yang ditempatinya dan Claudia.
Yuki? Wanita paruh baya yang terlihat menawan di usianya yang hampir mencapai kepala lima. Bentuk tubuh ideal, merangkul putranya, bagaikan kakak beradik.
Dua orang yang berjalan menelusuri lorong. Segalanya sudah didengarkan oleh sang ibu. Satu persatu tentang cerita Berta bagaimana putranya menikahi seorang wanita yang berusia lima tahun lebih tua.
Menghela napas kasar, ini pilihan putranya. Seorang anak yang tidak mengetahui betapa kerasnya hidup.
Senyuman menyungging di wajahnya, melirik sedikit ke arah kamera pengawas yang berada di lorong. Kemudian mengecup kening putranya.
"Ibu aku sudah dewasa! Ini memalukan!" Gerutu Michael.
"Sudah dewasa tapi meminta oleh-oleh drone? Apa kamu ingin mengintip apa saja yang dilakukan istrimu?" Gurauan dari sang ibu, bersamaan dengan kode akses yang berhasil ditekan. Memasuki apartemen yang cukup luas.
Apartemen bernilai tinggi, perabotan yang cukup berkelas.
Namun Yuki memijit pelipisnya sendiri."Dulu ibu rela kamu tinggal di kandang ayam (rumah yang disediakan Yuki di desa). Tapi setelah menikah kamu malah tinggal di kandang kambing."
Benar-benar pendapat Yuki membandingkan kehidupan putranya. Masih jelas diingatannya, bahkan kamar itu masih kosong hingga kini.
Kamar putranya ketika berusia lima tahun bahkan lebih luas daripada satu unit apartemen ini. Menikah dengan keluarga baik-baik? Itulah yang dikatakan Berta.
Teh mulai disajikan oleh putranya. Putranya yang seharusnya belajar tentang bagaimana berbisnis malah mengerjakan pekerjaan rumah? Tidak! Ini gila!
"Ibu sudah memikirkannya baik-baik, bagaimana jika kamu tinggal dengan ibu? Situasi ibu sudah cukup baik saat ini," ucapnya memulai pembicaraan.
"Aku sudah menikah. Sudah cukup nyaman dengan keadaan saat ini." Jawaban dari Michael.
"Kalau ibu katakan dapat merubahmu menjadi lebih baik? Ibu berjanji, kamu akan mendapatkan apapun yang kamu inginkan." Kalimat serius dari seorang ibu yang hanya menemui putranya setahun dua kali.
"Tidak, aku tidak memiliki ambisi, aku sudah cukup senang dengan kehidupanku saat ini." Jawaban penuh senyuman dari Michael.
"Jika tiba-tiba istrimu menceraikanmu bagaimana?" Pertanyaan dari sang ibu, dirinya harus menarik Michael segara.
"Aku akan kembali tinggal di desa." Michael menghela napas kasar.
Senyuman memudar dari wajah Yuki. Sudah diduga olehnya, putranya akan tumbuh menjadi seseorang yang tidak memiliki ambisi. Namun ada kalanya ambisi itu diperlukan.
"Mau pergi ke sebuah pesta dengan ibu? Tapi ibu ingin anak ibu melepaskan ini." tanya Yuki, melepaskan salah satu lapisan gelatin di kulit wajah putranya, ingin menunjukkan pada putranya. Apa itu ambisi untuk memiliki, dan bagaimana sebuah kepercayaan dapat dikhianati.
__ADS_1
"Pesta?"