Topeng Suami Buruk Rupa

Topeng Suami Buruk Rupa
Bab 54. Player


__ADS_3

Tepat pada pukul 6 sore, mobil miliknya melaju meninggalkan area perkantoran. Menghela napas berkali-kali, lagi-lagi harus kembali ke rumahnya.


Lebih tepatnya rumah yang kini ditempati oleh pamannya. Belakangan ini keadaan perusahaan semakin tidak stabil. Micky berpihak pada pamannya dalam setiap rapat pemegang saham. Membuat posisi direktur utama saat ini terdesak hanya mengikuti perintah mereka seperti boneka.


Claudia sendiri? Sebagai pemegang saham terbesar dirinya tidak memiliki hak bicara terlalu banyak. Pasalnya pemegang saham lain berpihak pada Micky. Pada akhirnya keputusan dipegang oleh Wendy.


Calon suami Erlina? Sudah pasti itulah Micky. Jika tidak begitu bagaimana bisa, Micky mengambil keputusan bagaikan orang bodoh untuk berpihak pada Wendy.


"Sejauh mana rencana playboy gila itu..." Gumam Claudia kehabisan kata-kata, menginjak pedal gasnya lebih dalam.


*


Bug!


Pintu mobil ditutupnya, memasuki ruangan, beberapa pelayan terlihat sibuk. Setengah rumah ini tetap merupakan miliknya, warisan dari sang kakek pada almarhum ayahnya.


Beberapa pelayan menunduk padanya, tapi di belakang sudah terlihat jelas mencibirnya.


Tidak ada yang dapat dilakukan olehnya. Benar-benar pamannya yang bodoh, suap, korupsi, bahkan memasukkan keponakannya yang bodoh sebagai manager. Tapi anehnya Micky masih berpihak pada Wendy.


Memasuki ruangan lebih dalam, meja makan masih ditata hingga kini. Sedangkan seorang penata rias terlihat baru turun dari lantai dua. Persiapan gila-gilaan, setelah beberapa bulan Micky pada akhirnya bersedia hadir di acara makan malam rumah ini.


Penata rias yang pastinya baru selesai mendandani Erlina. Dan benar saja, beberapa saat kemudian sepupunya itu berjalan menuruni tangga. Cantik dengan tata rias cukup tebal, memakai gaun pesta yang dengan sengaja memperlihatkan belahan dadanya. Mungkin ingin menawarkan ASI pada Micky nantinya. Gaun yang menjuntai panjang tapi terbuat dari bahan transparan, menunjukkan bagian dalam gaun yang hanya menutupi tubuh bagaikan tok mini.


Dalam artian gaun ini tertutup, tapi terbuka. Sedangkan Claudia sendiri tidak begitu peduli, duduk di sofa ruang tamu, menggeser-geser layar tabnya. Wanita yang masih memakai pakaian kantor, bahkan belum mandi sama sekali.


"Hai...udik..." Kata hinaan dari Erlina.


"Hai murahan." Claudia balik menghina.


"Bukan murahan, aku hanya terlalu pintar memilih pria. Caramu naik status sosial dengan bekerja, membuat wajahmu keriput lebih awal. Sedangkan aku? Caraku naik status sosial dengan memiliki suami yang dapat diandalkan." Celetuk Erlina penuh senyuman.


"Begitu? Tapi siap-siap sakit hati. Wajah playboy seperti Micky entah berapa wanita yang tidur dengannya." Kalimat serius dari Claudia.

__ADS_1


"Tidak peduli, karena hanya aku yang dicintainya. Dia bahkan mengirim asistennya pada rapat pemegang saham untuk membela ayahku kan? Dia hanya mencintaiku, itulah yang terpenting..." Erlina tersenyum pada sepupunya.


Claudia mengenyitkan keningnya."Jadi berapa kali kamu pernah tidur dengan Micky?"


"Berkali-kali, hampir setiap minggu." Dusta Erlina tidak mau kalah.


"Setiap minggu? Itu artinya masih tersisa 6 malam dalam seminggu untuk tidur dengan 6 perempuan berbeda." Kalimat menusuk tapi tidak berdarah dari Claudia. Wanita yang kembali konsentrasi pada pekerjaannya.


"Micky tidak seperti itu!" Bentak Erlina.


Hingga seseorang yang mereka tunggu tiba-tiba masuk. Pemuda yang mendengar semua pembicaraan mereka.


"Micky..." Erlina mendekat, mencoba bergelayut manja padanya. Tapi dengan cepat Michael menepisnya.


Berjalan mendekati Claudia yang tengah duduk. Sedikit berbisik padanya."Rupanya kamu menganggapku terlalu tinggi. Tidur setiap hari dengan 7 perempuan berbeda? Bagaimana jika 7 perempuan itu dipersempit menjadi satu? Satu perempuan yang tidak akan dapat keluar dari kamar."


"Tutup mulutmu!" Claudia menatap tajam, seakan mengerti dengan ancaman pria di hadapannya.


"Tutup mulut?" Michael tertawa kecil."Memohon padaku untuk membawamu ke ranjangku, maka aku akan menutup mulutku."


Sedangkan Erlina mengepalkan tangannya."Jangan pernah menggoda milikku!" ancaman darinya, berjalan cepat menyusul langkah pemuda yang sering dipanggil Micky tersebut.


Apa sebenarnya alasan Micky bersedia hadir? Tentu saja, asalkan Claudia hadir maka dirinya juga akan hadir. Itulah mengapa Erlina kesal sampai saat ini. Apa sebenarnya yang digunakan Claudia untuk menggoda Micky? Entahlah...


Sedangkan Claudia sendiri mengepakkan tangannya kesal, mencoba untuk bersabar. Entah kapan Michael akan kembali padanya. Jujur! Dirinya merindukan suaminya yang manis.


Mengenyitkan keningnya, dari belakang postur tubuh dan tinggi Micky memang sama seperti Michael. Tapi perbedaan mendasar ada pada sifatnya, Michael lembut bagaikan lelehan ice cream caramel. Tawanya bagaikan lonceng milik malaikat, setiap perhatiannya bagaikan tercermin kebajikan disana. Sedangkan Micky? Jujur saja sudah seperti setan baginya. Setiap kepribadian playboy yang kasar bagaikan red wine memabukkan tapi merusak ginjal. Ancamannya bagaikan menaiki wahana halilintar, membuat ingin muntah.


Dirinya merindukan Michael, saking rindunya terkadang berfikir punggung mereka benar-benar mirip. Walaupun Micky sudah seperti setan dimatanya. Setan gila yang selalu membantu pamannya dan Erlina.


*


Tata letak meja bagaikan telah diatur. Erlina duduk di sebelah Micky, sedangkan Claudia berada di seberang mereka.

__ADS_1


Wendy sendiri berada di kursi yang berada di antara mereka. Sang asisten hanya diam dan duduk di sebelah Micky, mulai makan dengan tenang.


"Jadi apa sudah dapat melupakan pria (Evan) dari masa lalumu?" tanya Micky tiba-tiba, mengiris daging di hadapannya.


"Tentu saja tidak, dia (Michael) terlalu baik untuk dilupakan. Bukan seperti seseorang yang dengan mudah berganti pasangan." Geram Claudia, memakan tomato cherry di hadapannya.


"Berganti pasangan? Jika aku benar-benar sering berganti dan mengidap penyakit menular. Aku pastikan kamu dan pria dari masa lalumu (Evan) akan menderita penyakit yang sama." Lagi-lagi kalimat ambigu itu keluar dari mulut Micky."Sampah dengan sampah? Tapi anehnya aku tertarik pada sampah..." lanjutnya.


"Micky! Jangan fikirkan dia, bagaimana jika setelah ini kita minum bersama." Erlina bergelayut manja.


"Minum bersama sana! Aku sarankan di hotel, sewa kamar yang paling mahal. Karena jagung basi memang cocok dengan tanah longgar." Suara tawa sinis Claudia terdengar.


"Sungguh! Seorang istri yang pandai membuat suaminya naik darah." Batin Praha (asisten Michael).


Micky menepis tangan Erlina, wajahnya tersenyum."Paman, rapat pemegang saham besok, aku ingin menurunkan direktur utama saat ini. Apa paman sudah siap untuk menjabat?"


Kalimat yang sungguh berani membuat Claudia terbatuk-batuk setelah meminum segelas air."Apa yang kamu---"


Pemuda itu mengigit bagian bawah bibirnya sendiri. Menyenangkan menbuat Claudia sampai di tahap ketakutan."Apa yang aku lakukan?"


"Tentu saja melakukan apa yang harus aku lakukan. Memberikan lebih banyak pupuk untuk akar yang busuk (memberikan kekuasaan pada orang yang salah, agar lebih mudah menguasai perusahaan keluargamu)!" Kalimat yang dapat dimengerti oleh Claudia.


Begitulah hal keji yang dilakukan Micky untuk menguasai dua perusahaan sekaligus dalam waktu singkat, memperalat keserakahan manusia. Dalam hal ini memanfaatkan keserakahan pamannya.


"Seluruh pemegang saham sudah berpihak padaku. 52% saham milikmu? Percuma saja, suntikan modal pada proyek sebelumnya dapat aku tarik. Jika kamu menentang keputusanku maka perusahaan akan ada dalam bahaya. Paman Wendy punya kemampuan lebih baik dari direktur utama yang sekarang. Benar kan paman?" Ucap sang pemuda picik, tersenyum pada Claudia.


"Iya! Erlina akan menjadi istri yang baik untukmu nanti. Terimakasih sudah mendukung paman..." Bagaikan mendapatkan lotre, tentu saja ini sebuah keberuntungan besar bagi Wendy. Mengira semua ini didapatkannya karena pesona putrinya.


Sedangkan Claudia menatap tajam pada Micky. Musuh tersulit yang akan dihadapinya, cara terbaik menjual saham sebelum, sang paman menghancurkan perusahaan milik keluarganya.


Senyuman menyungging di wajah Michael."Claudia ada saatnya dimana perempuan yang begitu arogan pun harus menunduk.


"Apa maumu?" pertanyaan dari Claudia.

__ADS_1


Tidak ada jawaban sama sekali, pemuda itu melangkah pergi dalam senyuman. Cepat atau lambat tanpa diminta Claudia akan menyerahkan dirinya. Ini benar-benar semakin menyenangkan.


__ADS_2