
Berfikir lebih banyak lagi tentang hubungannya dengan Michael. Setelah kepergian Tara yang murka, dirinya mulai berbaring di sofa memikirkan segalanya.
Wajah Michael yang rusak, semuanya dapat diingat olehnya. Apa sebaiknya membawa ke dokter kulit? Tapi jika wajah Michael lebih tampan, maka Tara... atau akan ada wanita lainnya yang mendekat. Seperti yang terjadi pada Evan.
Jantungnya berdegup lebih cepat, darahnya berdesir hebat setiap mengingat senyuman itu. Menelan ludahnya kasar, pemuda yang menyajikan makanan hangat padanya bagaikan sebuah keluarga utuh impiannya. Bagaimana perasaan Michael? Bagaimana jika pemuda itu pergi? Berbagai hal-hal rumit mengganggu fikirannya.
Hingga satu pesan tiba-tiba masuk ke phonecellnya menbuat hatinya tidak karuan.
'Aku mencintaimu, istriku selalu menjadi yang tercantik.'
"A...aaa!! Aku jatuh cinta! Mampus! Aku menyukainya!" Gumam Claudia setelah membaca pesan dari Michael. Tidak tahu bagaimana bagaikan ayam yang sudah dilukai lehernya, dirinya tidak memiliki pilihan selain takluk menjadi santapan pemuda itu.
'Aku juga mencintaimu. Kamu sudah makan?' Pertanyaan basa basi darinya melalui pesan singkat.
Menunggu balasan dengan hati berdebar-debar. Membuka dengan cepat kala sebuah pesan masuk."Operator." Gumamnya kecewa.
Suara ketukan pintu yang benar-benar mengganggu terdengar. Claudia menghela napas kasar. Benar-benar mengganggu waktu berharganya saja.
"Masuk!" Ucapnya.
Kala pintu terbuka, pemuda itu terlihat. Pernah mendengar istilah tai kucing rasa coklat? Mungkin begitulah, tanpa dukun yang mempuni, tanpa kekayaan dan wajah tampan. Pria itu terlihat lebih mendebarkan dari pada biasanya.
Mengatur posisi duduknya wanita itu ingin menjaga image.
"Aku segera kemari setelah kamu mengirim pesan. Aku merindukanmu." Kalimat penuh senyuman dari pria yang baru berpisah beberapa jam lalu dengannya.
Sruk!
Bagaikan pedang kembali menancap tajam di dasar hatinya. Dirinya bahagia hanya dengan kalimat itu.
"Ja... jadi? Apa yang harus kita lakukan?" tanya wanita itu gugup.
__ADS_1
"Apa?" Michael tersenyum."Aku mencintaimu, merindukanmu setiap detik." Pemuda yang hanya mencium keningnya tapi membuat wanita cantik itu tidak karuan. Bagaikan ikan yang baru ditangkap jaring nelayan.
Memastikan perasaannya, apa dapat sesenang ini hanya dengan mencium keningnya? Bagaimana jika lebih, apa akan lebih bahagia?
"Boleh berciuman?" tanya Claudia.
Pemuda yang mulai duduk di sampingnya, menarik Claudia dalam pangkuannya. Perlahan jarak itu terkikis habis, lidah sang pemuda menerobos masuk.
Sensasi yang gila bukan? Ingin rasanya Claudia menertawakan dirinya sendiri. Memangnya kenapa jika suaminya buruk rupa? Ini menyenangkan, dirinya ingin serius terhadap pernikahannya. Memiliki keturunan dengan pemuda ini, mungkin akan terasa menyenangkan.
Pemuda yang sedikit lebih berani menggigit lehernya pelan.
"Aku harus kembali." Michael tiba-tiba mengakhiri segalanya. Tidak ingin lagi menerima tamparan dari Claudia, bukan karena rasa sakit akibat sebuah tamparan. Namun lebih pada menghargai keputusan istrinya.
Ini dirasakan olehnya, kembali diterbangkan. Rasa suka Claudia yang meningkat, tapi entah kapan dirinya akan kembali dijatuhkan. Apa Claudia sudah mencintainya? Kata tanya yang akan selalu tersimpan. Menunggu keputusan Claudia nantinya.
"Aku masih haus..." Wanita itu malah kembali mendekati Michael. Memojokkannya di pintu ruangan. Berjinjit mencium bibirnya agresif.
*
"Bu Claudia! Bu Claudia! Bagaimana dengan pendapat saya?" tanya seorang manager bagian pemasaran mengejutkannya dari lamunan.
"Aku ingin lagi..." gumamnya tidak sengaja.
"Ingin lagi?" Fransiska, sekertaris Claudia mengenyitkan keningnya. Bertanya pada atasannya.
"Ekhm... maksudnya, aku ingin anda membuat perencanaan lebih baik lagi!" Kalimat yang tiba-tiba diucapkan Claudia, sembari membaca sekilas tumpukan kertas di hadapannya.
"A...apa yang perlu saya revisi!?" tanya sang manager bagian pemasaran.
"Sial! Aku tidak bisa konsentrasi kan!? Dasar! Suami tidak berbakti! Masuk ke fikiranku, jangan saat bekerja!" Batin Claudia membaca lebih cepat, melingkari poin-poin yang salah. Untung dirinya dianugerahi otak yang cerdas. Jika tidak betapa malunya setelah manager bagian pemasaran menjelaskan dirinya belum mengerti.
__ADS_1
"Bagian yang harus direvisi sudah aku lingkari. Perbaiki dengan perencanaan yang lebih matang. Ini tidak efektif..." Jawaban dari seorang wanita karier cantik penuh kharisma.
"Baik Bu!" Pria itu pada akhirnya meninggalkan ruangan. Pada saat yang sama Claudia menghela napas kasar, melirik ke arah Fransiska yang menahan tawa.
"Kenapa!?" tanya Claudia memijit pelipisnya sendiri.
"Bukan apa-apa, tapi jika saya boleh jujur anda tersenyum-senyum sendiri sambil melihat persentasi manager bagian pemasaran. Sampai-sampai orang itu salah tingkah!" Jawaban dari Fransiska membuat Claudia menatap tajam.
Wanita yang menghela napas kasar. Dirinya memerlukan asupan nutrisi otak jika seperti ini. Pekerjaan yang masih menumpuk, cukup banyak. Benar-benar banyak, dirinya harus lembur.
"Hubungi office boy bernama Michael. Malam ini aku akan lembur, harus ada yang melayaniku." Perintah Claudia.
"Baik, tapi kenapa office boy, biasanya anda meminta pak Evan yang membantu pekerjaan anda?" Sekretaris itu kembali bertanya, cukup aneh baginya. Seorang office boy bulak-balik ke ruangan atasannya setiap jam makan siang.
Menyipitkan matanya, belakangan ini banyak karyawan yang dipecat, maupun manager yang pindah posisi. Atau terjadi mutasi, mengenyitkan keningnya sejenak."Apa dia mata-mata anda?" tanyanya.
Claudia mengangguk, membenarkan, meminum segelas air putih dingin di mejanya.
"Lalu gosip tentang suami anda yang katanya super tampan memasuki perusahaan?" tanya sang sekretaris lagi. Dirinya benar-benar penasaran tentang gosip tersebut.
Terlebih lagi, mendengarnya sendiri dari karyawan yang pernah melihat suami Claudia. Bagaikan mahasiswa, bentuk tubuhnya dapat dikatakan benar-benar sempurna, wajahnya? Jangan ditanyakan lagi. Wajahnya dapat mengalihkan dunia wanita yang melihatnya.
Senyuman mematikan, prilaku bagaikan psikopat membawa pisau mengancam membunuh mereka. Membayangkannya saja membuat Fransiska menelan ludah kasar. Apa karena itu Claudia yang selalu mengagumi pria tampan menikah? Sudah menemukan yang lebih memukau dibandingkan dengan Evan?
"Itu hanya gosip!" Claudia tertawa kecil, menghela napas kasar."Saat itu yang masuk ke ruangan VIP club'malam supir taksi online yang mengantar suamiku. Setelahnya baru suamiku sendiri yang mengantar ke hotel." Itulah deduksi Claudia tentang hal yang terjadi. Mengapa? Gosip suaminya tampan mungkin memang kemungkinan berasal dari kesalahpahaman yang masuk akal. Dan ini teori yang paling masuk akal baginya.
"Lalu?" Fransiska mengenyitkan keningnya.
"Office boy yang baik hati, sopan, ramah, selalu menyajikan kopi untukmu adalah suamiku tercinta..." Ucap Claudia penuh senyuman dan rasa lega, mengakui perasaannya.
Tapi tidak bagi Fransiska, bagaikan petir menyambar dalam dirinya. Ini gila! Claudia penggemar pria tampan, menikah dengan... dengan... makhluk sejenis monster? Salah! lebih tepatnya menikah dengan aktor FTV dengan judul wajah rusak bernanah akibat tidak pernah membayar pinjaman online.
__ADS_1
"Be... begitu...?" Ucapnya masih syok, namun sesaat kemudian menghela napas."Paman anda menghubungi, katanya besok anda harus pulang. Ada acara makan malam dengan salah satu orang penting yang baru datang dari Jepang. A...ada pesta penyambutan, karena dia tiba-tiba membeli saham dari para pemegang dengan nilai yang cukup tinggi."