
...Apa yang mendasari dalamnya perasaanku padamu? Karena kamu orang pertama yang menemukan kelebihan dibalik kekuranganku....
...Bagaikan pedang yang menembus seluruh nadiku. Begitulah aku mencintaimu dalam setiap nafasku....
Michael.
"Aku tidak tau! Yang aku tau Michael mungkin menjadi cleaning service club malam! Hanya itu!" Ucap Awan cepat, pemuda yang terlihat benar-benar gugup.
"Hanya pemilik toko emas dan laundry? Jika aku mau, aku bisa menginjak usahamu! Jangan mempengaruhi Michael lagi!" Ancaman dari Claudia, mendorong tubuh Awan.
Pemuda itu masih gemetar hingga saat ini. Bagaimana bisa Michael dapat tahan tinggal dengan wanita seperti itu. Wanita bar-bar liar, yang bagian luarnya terlihat lemah tidak berdaya.
Bug!
Suara pintu mobil ditutup dengan kasar terdengar. Mobil sport yang melaju dengan kecepatan tinggi. Menjelajahi beberapa club'malam yang terdapat di daerah ini. Lebih tepatnya dimulai dari club'malam yang berada di pinggiran kota. Berjarak sekitar 2km.
Sedangkan Awan menelan ludahnya kasar. Menghela napas kasar, mengingat selera Michael yang aneh. Tapi tidak heran juga, istri pria itu bagaikan Tsunade dalam serial Naruto. Dari luar lembut, cantik, anggun, tapi kasar luar biasa.
"Rita, janda kampung sebelah memang lebih baik..." gumamnya, memutuskan kemana dirinya akan pergi malam ini. Ingat! Pria ini monogami yang sudah memiliki pasangan, wanita mandiri yang bekerja di kota. Hanya saja dirinya terlalu kesepian jadi bermain korek api tanpa mengetahui konsekuensinya saat pacarnya pulang nanti.
*
Satu? Tidak beberapa club'malam didatanginya. Cukup banyak terdapat di daerah pinggiran kota. Mungkin agar menghindari razia.
Area yang dipenuhi dengan orang mabuk dan bau asap rokok serta alkohol. Tempat yang tidak pernah dirinya datangi seumur hidupnya, baru pertama kalinya menginjakkan kaki di tempat terkutuk ini. Itupun hanya untuk mencari keberadaan Michael.
Dirinya akan menangkap dan menyeretnya pulang. Tempat ini tidak bagus untuk anak pengonsumsi susu seperti Michael. Tapi nihil, keberadaan pemuda itu bagaikan tertelan bumi.
Menghubunginya? Dirinya belum menyimpan nomor pribadi suaminya. Hanya kembali menelusuri itulah yang dilakukannya.
Hingga club'malam keempat yang didatanginya. Kala hari semakin larut, hingar bingar di dalam sana terdengar.
Matanya menelisik, berkeliling lebih dalam. Melewati bar bagaikan mencari seseorang.
"Cantik, boleh kenalan? Nanti kakak traktir..." Ucap seseorang pria mungkin berusia 27 tahunan mendekatinya.
__ADS_1
Bug!
Wanita itu menendang tulang keringnya dengan cukup kencang. Membuat sang pemuda memegangi kakinya yang sakit.
"Adik kecil! Usiamu paling di bawah 30an. Usiaku 33 tahun, kenapa aku harus memanggilmu kakak? Seingatku ibuku tidak pernah melahirkanmu..." Claudia mengenyitkan keningnya.
"Wanita kurang ajar!" Pria itu hendak menyerang. Tapi dengan cepat Claudia menendang selangkangannya.
Tidak dapat berdiri, tidak dapat berkata-kata hanya dapat menikmati sensasi ngilunya. Rasa sakit, kebas, mengalir dari bagian bawah ke seluruh tubuhnya. Pria itu hanya dapat meringis memegangi sesuatu yang cukup berharga untuk membuat keturunannya kelak.
"Aku sedang kesal. Karena ada wanita dengan body bagus, membawa suamiku. Apa hubungan mereka? Apa suamiku mulai berkencan? Karena itu aku emosional! Maafkan aku melampiaskan emosiku padamu." Claudia tersenyum tidak bersalah, mengeluarkan lima lembar uang dengan gambar tokoh proklamator."Gunakan uangnya untuk mengobati 'itu'. Walaupun mungkin uangnya tidak cukup. Tapi ini niat baikku, jika memerasku meminta lebih. Maka lain kali akan aku potong hingga habis."
Wanita keji, berjalan pergi dengan senyuman menghilang. Mencari keberadaan Michael, membuat pria itu dan orang-orang yang menyaksikan ketakutan setengah mati. Tau kenapa sekarang Evan hanya menganggap Claudia teman?
Karena wanita itu terlalu mendominasi bagaikan pria. Memiliki sisi kasar dan sadis, sebab itulah Evan lebih memilih Erlina yang rapuh. Tapi terkadang memiliki seseorang yang sudah diketahui luar dalamnya (Claudia) lebih baik daripada bersama seseorang yang baru dikenal, menyembunyikan sisi piciknya (Erlina).
Semua orang yang melihat kejadian memilukan itu mengenyitkan keningnya. Bahkan ada yang memegang pangkal pahanya. Ngilu? Itulah perasaan semua orang menatap sang pemuda yang belum bisa bangkit juga.
Claudia kembali melangkah penuh arogansi tingkat tinggi. Tidak seperti biasanya, dirinya kali ini akan menangkap Michael.
"Bawa dia ke kamar belakang! Aku yang sewa! Lalu panggil dokter!" Perintahnya pada seorang pria.
Wanita dengan bentuk tubuh yang bagus, membawa Michael dalam keadaan terluka ke dalam kamar? Benar-benar cari mati orang ini.
Melangkah dengan pasti, dirinya tidak marah ataupun cemburu. Hanya saja belum saatnya menjadi janda, akibat kematian suaminya.
Karena itu.
Brak!
Tendangan gaya berputar, peraduan lompatan dan tendangan dengan sasaran pada bagian wajah. Tidak ada istilah jambak-jambakkan atau tampar-tamparan dalam kamus Claudia. Langsung bantai saja.
"Kamu siapa!?" bentak Mariana yang memegangi bagian pipinya, berwarna ungu tua, dengan sedikit luka di sudut bibirnya, ditambah dengan sedikit bengkakan yang terlihat.
Puh!
__ADS_1
Baru menyadari salah satu giginya rontok akibat satu tendangan wanita ini.
"Sakit! Tolong aku..." teriaknya.
"Diam! Atau aku bisa melaporkan tindakan kalian pada suamiku pada kepolisian!" Bentak Claudia, melirik ke arah Michael yang masih tidak sadarkan diri. Dengan luka di bagian pelipisnya.
Tidak ada jawaban sama sekali. Menghela napas kasar, merasa lega sekaligus cemas, menatap sang pemuda yang belum sadarkan diri.
"Kamu! Aku akan membayarmu! Bawa suamiku ke dalam mobil!" Perintah Claudia mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah.
Karyawan club'malam yang awalnya mengikuti perintah Mariana, kini mengikuti perintah Claudia, mengangkat tubuh itu mengikuti langkah sang wanita.
Mata Claudia sedikit melirik ke arah Mariana."Hati-hati aku dapat menyewa orang untuk menghancurkan hidupmu."
Ancaman yang benar-benar nyata, membuka Mariana menelan ludahnya kasar. Penawaran yang diberikan Erin memang menggiurkan tapi tidak sepadan dengan harga sebuah nyawa.
Rasa cemas ada dalam dirinya memegangi pipinya yang bengkak akibat satu tendangan.
*
Claudia yang tengah menyetir kini sedikit melirik ke arah Michael. Mata pria itu masih saja terpejam. Bagaimana jika dia mati? Itulah yang ada dalam benak Claudia saat ini, meraba wajah Michael.
Ada rasa cemas tersendiri, dirinya pada akhirnya menghubungi dokter untuk datang ke villa.
Dalam beberapa puluh menit perjalanan dirinya sudah sampai. Beberapa pelayan membantunya memindahkan Michael. Bersamaan dengan itu sang dokter juga telah sampai.
Dirinya hanya dapat menghela napas menunggu di luar kamar terlalu enggan untuk masuk. Ada perasaan bersalah, mempermainkan hati pria itu. Hingga ke tahap Michael mempersiapkan diri melakukan sesuatu untuk kebahagiaannya.
Bekerja di club'malam sebagai cleaning service?
"Bodoh! Kenapa tidak pakai saja uang di rekeningmu..." Gumamnya menitikkan air matanya.
*
Sang dokter mulai mendekat, hendak mengobati Michael. Tapi ada yang aneh kala alkohol yang digunakannya untuk mengobati pelipis, tidak sengaja menetes pada luka di wajahnya.
__ADS_1
"A...apa ini? Luka di wajahnya palsu?" Gumam sang dokter menarik lapisan gelatin satu demi satu.