
"A...aku ini memalukan." Jujur Claudia menatap ke arah Michael.
Pemuda yang menghela napas kasar. Melepaskan kemeja yang dipakainya."Pakai ini sementara," ucapnya yang juga tidak menemukan pakaian ganti.
Mata wanita itu menelisik kulit di balik kemeja itu benar-benar mulus. Dengan lekukan otot indah bagaikan pahatan dewa Yunani. Menelan ludah kasar."Andai saja wajahnya tidak rusak, mungkin sudah menjadi selebritis terkenal," batinnya, segera melarikan diri setelah mengambil pakaian laknat dan kemeja milik Michael.
Menutup pintu dengan cepat, melepaskan gaun pengantinnya. Hari ini benar-benar melelahkan, setidaknya aroma mawar ini menenangkan untuknya.
Fikirannya berkelana tentang hal-hal yang terjadi hari ini. Wajah Evan masih ada dalam benaknya, tidak ada penyesalan sama sekali dari raut wajahnya. Hal yang membuat dirinya yakin, sudah terlalu jenuh untuk mengejar cintanya.
Membasuh wajahnya, sejenak menenggelamkan dirinya dapat bathtub. Apa mati setelah dikhianati menyenangkan? Oksigen terasa menipis dalam otaknya, membuatnya tidak dapat berfikir sesaat.
Kala itulah hal yang melegakan diingatnya, bagaimana orang itu (Michael) melindunginya. Senyumannya, membuat wajah menjijikkan itu terlihat normal. Dirinya tidak jijik lagi?
"Hah! Hah! Hah!"
Claudia menghirup napas dalam-dalam setelah mengeluarkan kepalanya dari dalam air bathtub. Mengusap wajahnya beberapa kali. Menghela napas kasar."Aku merasa bersalah sudah membuatnya jatuh cinta..." gumamnya, tersenyum.
Siapa yang akan terjebak permainan? Michael sendiri sudah takluk dan menyerah dari awal. Sedangkan Claudia benar-benar tidak jatuh views pada Michael, walaupun jantungnya berdegup cepat, walaupun ciuman meremehkanku masih terbayang-bayang sampai sekarang. Dirinya sudah bertekad akan hidup melajang selama-lamanya.
"Setelah setahun aku akan bercerai dengannya. Kemudian menjadi pemimpin perusahaan. Dikelilingi banyak pria tampan yang mengejar cintaku." Kalimat darinya penuh rasa imajinatif. Apa yang ada di bayangan Claudia? Wanita yang memiliki status tinggi, para pria menempel bagaikan lem. Membawakan bunga, memijit bahunya, menyuapinya dengan anggur. Gila! Sungguh kehidupan yang indah.
Benar-benar imajinasi yang tinggi. Tidak terfikirkan olehnya Michael akan ada di kelanjutan hidupnya nanti.
*
Tapi hal yang tidak terbayangkan terjadi kemudian. Dirinya memakai selimut tebal, dengan bagian dalam mengenakan pakaian laknat, dilapisi kemeja yang kebesaran dari ukuran tubuhnya. Tertidur lebih awal, tidak menunggu yang mulia suami sama sekali.
Sementara Michael baru saja keluar dari kamar mandi. Hanya mengenakan celana panjang tanpa atasan. Pemuda yang juga mulai masuk ke dalam selimut.
Memiliki istri? Itu tidak pernah ada dalam imajinasinya sama sekali. Tidak ada wanita yang bersedia dekat dengannya. Mengingat dirinya yang tidak memiliki pekerjaan ditambah dengan lapisan gelatin, serta tata rias di wajahnya ini.
__ADS_1
Tidak memakai, atau lebih tepatnya belum memakai riasan sama sekali. Wajah rupawan berbaring di sampingnya tanpa disadari Claudia.
Jemari tangan sang pria terulur, membelai pipinya."Cantiknya..." gumamnya tersenyum.
Kala itulah secara alami segalanya bergerak, dirinya mendekat, menjilati bibir wanita di hadapannya. Mengecupnya pelan, benar-benar perlahan. Mata wanita itu sedikit terbuka, mungkin mengira ini hanyalah mimpi.
Dirinya membuka mulut, membalas pangutan bibir pasif. Hingga pada akhirnya kembali tertidur."Menikahimu, adalah hal terindah..." gumam Michael penuh senyuman. Memeluk mempelai wanitanya yang tertidur lelap.
*
Sinar matahari telah memasuki jendela kamar saat itu. Dirinya merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Pada akhirnya hari ini terlewati juga. Menyambut pagi tersenyum cerah dengan secangkir kopi itulah rencananya mengawali cuti panjangnya dari pekerjaan.
Hingga aroma caffein benar-benar tercium. Matanya menelisik, menatap seorang pemuda yang tengah menata meja di kamar tersebut. Memakai setelan pakaian santai berwarna putih. Rambut hitam terurai lembut, wajah yang rusak? Seakan dirinya melupakan segalanya. Sudah terbiasa melihat wajah tersebut. Wajah suaminya.
Adakah pria yang tidak akan marah, karena sama sekali tidak dapat menyentuh pasangannya di malam pertama? Ada, itulah Michael, suaminya tidak marah atau menuntut sama sekali. Malah terlihat bahagia, di hari pertama pernikahan mereka.
"Manisnya! Jika bercerai nanti akan aku jadikan dia adik angkatku!" batin Claudia menatap ke arah sang pemuda, yang menyiapkan meja serta menata sarapan di balkon kamar.
Balkon kamar tidur berhadapan langsung dengan tempat parkir.
Dirinya melangkah manja, bagaikan pengantin baru yang telah melakukan malam pertama. Memeluk Michael yang berada di balkon dari belakang."Selamat pagi sayang..."
Deg!
Jantung pemuda polos itu berdegup cepat. Menerima tikaman cinta tiba-tiba dari belakang. Dilengkapi dengan kata sayang, inikah yang dinamakan jatuh cinta? Dirinya bagaikan menjadi pemilik dunia.
Sedangkan Santos yang berada di bawah sana tengah memanaskan mesin mobilnya melihat segalanya. Menoleh pada kemesraan pasangan yang diyakininya telah melakukannya tadi malam. Hal yang membuat Claudia semakin menjadi-jadi.
"Duduklah!" Claudia memaksa Michael duduk. Kemudian naik ke pangkuan sang pemuda.
"Suapi aku..." ucapnya manja.
__ADS_1
Dirinya pasrah kalau begini, menyuapi Claudia perlahan. Bahkan mengelap bibir sang wanita yang terkena sedikit saus.
"Aku menyukainya..." Claudia bersandar manja pada dada bidangnya.
"A...apa yang harus aku lakukan!?" Batin pria yang mengalami puber terlambat itu.
"Claudia aku mempunyai firasat buruk. Sebaiknya kamu turun dari pangkuanku atau setidaknya jangan terlalu banyak bergerak." Ucap Michael dalam kondisi darurat. Merasa ini nyaman tapi semakin panas dan gelisah pula dirinya.
"Kenapa?" Claudia mengenyitkan keningnya tidak mengerti. Sesekali melirik ke arah Santos yang berada di tempat parkir.
"Bu...bukan apa-apa. Aku pernah membaca ini di salah satu buku. Ada yang disebut sebagai hormon testosteron, akan bekerja jika ---" Kalimat Michael terhenti, Claudia sudah turun dari pangkuannya dengan cepat.
Merasakan tempat duduknya tidak stabil, akibat ada yang tegak tapi bukan keadilan, ada yang menonjol tapi bukan bakat, ada yang besar tapi bukan harapan, ada bulat bagaikan tekad.
Wajah Michael sedikit memerah, terlihat menahan rasa malunya. Pria berwajah rusak itu bahkan menunduk menjambak rambutnya sendiri frustasi betapa memalukannya di hadapannya Claudia.
"A...aku harus mandi dulu!" Ucap wanita itu gugup. Dirinya sudah keterlaluan kali ini pada seorang pemuda polos. Benar-benar canggung rasanya.
"A...aku juga harus ke lantai satu!" Ucap Michael pada akhirnya ikut melarikan diri.
Dirinya benar-benar tidak tahu harus apa untuk melegakan rasa aneh ini. Berjalan keluar hendak pergi. Saat itulah Claudia menghentikannya.
"A...aku pernah membaca artikel. Mandi air dingin!" Ucap Claudia, kabur dengan alasan hendak mandi.
Michael terdiam sesaat, mencari kamar mandi lain di villa tersebut. Menyalakan shower bahkan tanpa membuka pakaiannya.
Dirinya benar-benar malu, air matanya mengalir bercampur dengan derasnya air shower. Kenapa dirinya begitu memalukan di hadapan wanita yang dicintainya.
Claudia akan berfikir bahwa dirinya begitu menjijikkan. Ini untuk pertama kalinya dirinya resah seperti ini. Mengingat-ingat kembali. Benar-benar sial! Wanita yang ada dipangkuannya, hanya itulah yang ada di fikiran busuknya.
"Ha... haruskah aku mencabik-cabiknya..." gumamnya dengan perasaan campur aduk.
__ADS_1