Topeng Suami Buruk Rupa

Topeng Suami Buruk Rupa
Bab 30. Seperti Pangeran


__ADS_3

"Aku tidak akan mendekati Claudia, sesuai taruhan kita. Tapi akan ada pria-pria lainnya lagi. Selain itu aku hanya bersimpati padanya yang dipermainkan." Hanya itulah yang diucapkan oleh Titan, melangkah keluar dari kamar. Dirinya memang tidak bermaksud sama sekali untuk merebut Claudia.


Sedangkan Michael mengepalkan tangannya. Nada suaranya sedikit bergetar."Jika dia meninggalkanku, hanya perlu mengurungnya agar tidak pergi. Menuruti semua yang diinginkannya. Agar dia mencintaiku."


"Aku merinding mendengarnya..." Titan tertawa kecil. Pemuda yang begitu aneh baginya. Namun, ini mungkin akan cukup menyenangkan menyaksikan segalanya.


*


Claudia menghela napas kasar."Tidak bisa seperti ini!" Gumamnya hendak bangkit, cemas tentang suaminya yang mungkin akan memiliki ketertarikan menyimpang. Ingat! Wanita ini bukan bulol, bucin tolol. Hanya saja dirinya cemas dengan Michael hingga berbagai pemikiran aneh ada dalam benaknya.


Bersamaan dengan itu pintu terlihat dibuka seseorang. Titan berdiri di sana sembari tersenyum."Aku kalah!" ucapnya tertawa cukup kencang.


Setara? Itulah menurutnya tentang rupa asli orang ini.


"Ada yang lebih tampan darimu?" tanya Claudia dengan bibir bergetar.


"Bisa dibilang begitu..." Jawaban dari Titan meminum secangkir teh di hadapannya.


"Tidak bisa begitu! Kita sudah memiliki perjanjian! Jika kamu tidak menikah dengan Claudia maka, video---" Kalimat Wendy disela.


"Video? Aku akan mengatasinya, dengan caraku. Michael aku jatuh cinta padamu..." Ucap Titan tiba-tiba mengedipkan sebelah matanya membuat paman dan keponakannya itu merinding.


Sedangkan Michael mengenyitkan keningnya."Omong kosong!" Hanya itulah yang diucapkan olehnya. Tipikal pria yang hanya suka bercanda dan memprovokasi, itulah Titan. Mungkin...


Dengan cepat Claudia bergerak, mencium pipi Michael secepat kilat."Dia ini milikku!" tegas Claudia.


Titan tertawa dengan kencang. Hendak berjalan keluar menepuk bahu Michael."Mengendalikan hati wanita terkadang mudah juga terkadang sulit. Tapi saat kamu sudah dikecewakan sekali. Saranku, carilah yang lain..."


Hal yang hanya dijawab dengan senyuman oleh Michael. Selebriti? Siapa sebenarnya orang menyebalkan ini.


"Lain kali paman akan datang lagi..." Kalimat yang diucapkan sang paman pada keponakannya. Berjalan berlalu mengikuti langkah kaki Titan.


"Aku lelah hari ini, bagaimana jika kita langsung tidur saja. Membuat anak (tidur sambil berpegangan tangan)..." Ucap Claudia.

__ADS_1


"Kamu mencintaiku kan? Mari kita lakukan, membuat anak (berhubungan)..." Michael berusaha tersenyum, benar-benar meragukan hati istrinya. Ragu? Tidak! Istrinya dari awal memang tidak mencintainya.


*


Malam semakin menjelang kala itu. Dirinya terdiam menunggu di atas ranjang Claudia yang tengah membersihkan dirinya. Tidak sedikit pun fikiran buruk yang terlintas dalam benak Michael.


Tidak sedikit pun, hanya rasa kesepian. Dirinya sudah berusaha selama ini. Menginginkan untuk dicintai, apa Claudia mencintai orang lain?


Mengambil album foto yang terletak dalam laci, dirinya mulai membuka tiap helai masa lalu istrinya.


Fotonya dengan Claudia? Tidak ada satupun disini. Keterpaksaan? Mudah untuk diceraikan? Mungkin itulah yang menjadi landasan Claudia untuk menikahinya.


Rasa kesepian, padahal dia ada dekat dengannya. Apa yang sebenarnya dicari Michael? Air matanya mengalir. Foto di phonecell? Semuanya dihapus setelah di kirim pada Santos dan Berta.


Titan benar! Dirinya lah yang sebenarnya lari dari kenyataan. Fatamorgana yang cukup indah, dirinya menginginkan ini menjadi nyata.


Dadanya terasa sesak dalam setiap air mata yang mengalir. Cinta pertamanya, itulah Claudia.


Walaupun berbagai foto yang terlihat bahagia. Menyunggingkan senyuman manis, memegang jemari tangan Evan."I... itu hanya masa lalu." Gumamnya.


Wanita yang keluar telah lengkap memakai piyama."Sayang..." ucapnya penuh senyuman.


Senyuman yang dibalas oleh Michael."Apa kamu mencintaiku..." kata yang tidak diucapkan olehnya kali ini, berjalan mendekati Claudia.


"Michael?" tanya Claudia tidak mengerti dengan perubahan raut wajah pemuda itu.


Tidak ada jawaban sama sekali. Pemuda yang mendekat dalam ruangan gelap. Air matanya tidak terlihat sama sekali oleh Claudia.


Merasa tubuhnya tiba-tiba direngkuh sang pemuda. Mendekatkan bibir beraroma mint itu. Lidah yang menerobos terasa agresif. Ada yang berbeda. Mengapa Michael dapat seperti ini?


"Michael?" Ucap Claudia lagi, merasakan tangan sang pemuda memasuki piyamanya.


"Aku mohon... pernikahan ini bukan kebohongan bukan? Kamu mencintaiku." Lagi-lagi kalimat yang tidak diucapkan sama sekali oleh Michael. Dirinya tidak begitu mempercayai Claudia lagi. Hanya mempercayai apa yang dilihatnya. Apa yang akan Claudia lakukan.

__ADS_1


Ciuman terus berlanjut, hingga tangan pemuda itu membuka kancing kemeja Claudia.


"Michael hentikan!" Claudia memisahkan bibir mereka.


"Jangan bilang hentikan... Karena itu artinya kamu mengakui kebohonganmu." Itulah yang ada dalam benaknya kini, menyimpan segalanya. Karena berucap pun hanya sebuah dusta yang akan terucap dari bibir istrinya.


Ciuman yang turun ke area leher dan tengkuk. Claudia menginginkan ini, tapi dirinya terlalu bingung. Tidak boleh seperti ini, karena setahun lagi mereka akan bercerai. Tidak boleh ada anak diantara mereka.


Plak!


Wanita yang mendorong Michael, menamparnya dengan sekuat tenaga. Hingga jemari tangan wanita itu memerah.


"Michael, maaf. Ta...tapi yang kamu lakukan tadi itu salah. Kamu tidak ingin menyakitiku kan? Karena itu---" Kalimat dari Claudia disela.


Ruangan yang begitu gelap. Hanya lampu tidur yang tidak begitu terang sebagai sumber cahaya. Tidak dapat mengetahui entah berapa banyak air mata yang mengalir.


Hanya suara hangat seperti biasanya yang terdengar."Maaf, aku mengerti. Tidurlah..." hanya itulah yang diucapkan Michael. Pemuda yang mulai berbaring, menatap ke arah langit-langit ruangan.


Apa neneknya benar, tidak seharusnya dirinya menikah? Perasaan yang tidak pernah berbalas. Tamparan yang terasa menyakitkan? Tidak dirinya malah lebih mencemaskan jemari tangan Claudia.


Apa tangannya sakit saat menamparnya? Bukan itu yang lebih penting. Apa Claudia bahagia? Menyakitkan tinggal dan berpura-pura tersenyum dengan pria yang tidak dicintainya.


Cinta pertama... Apa jatuh cinta dapat semenyakitkan ini? Pertanyaan yang ada dalam benaknya. Berusaha memejamkan matanya, melarikan diri dalam kegelapan. Menjadikan tidur sebagai tumpuan untuk melupakan segalanya. Segala yang terjadi hari ini. Mungkin lebih menyenangkan jika dapat tertidur selama-lamanya.


Wanita itu masih gemetar hingga kini, memakai skincare entah sudah berapa lapis yang ada di wajahnya. Body lotion juga sudah, melihat ke arah cermin memastikan tidak ada pergerakan.


Tangan pemuda itu yang menjalar pada kulit perut dan punggungnya masih terasa. Ciuman yang lebih indah daripada biasanya. Bibirnya yang membuat tanda di leher bagaikan binatang buas. Sekujur tubuh merinding terasa menghangat merasakan segalanya.


Ditambah jika Michael dibiarkan membuka kancing kemejanya. Maka dirinya tidak akan dapat menahan godaan untuk melakukannya. Gila! Kenapa pria muda ini begitu agresif. Jantungnya bagaikan mau keluar dari tempatnya.


Tangannya gemetar, ada rasa bersalah dalam dirinya. Tidak seharusnya dirinya menampar Michael."Aku salah..." gumamnya menutup wajahnya menggunakan tangan.


Sejenak mulai bangkit, melangkah membelai wajah Michael. Mengecup kening pria yang tertidur, itu."Maaf... adikku yang seperti pangeran..."

__ADS_1


__ADS_2