Valen For You

Valen For You
Club


__ADS_3

Club malam bukan tempat yang asing untuk Alden. Dia sudah terbiasa dengan suasana riuh dan juga orang-orang yang mengunjungi club. Segala macam orang dan kebejatannya berkumpul jadi satu dalam tempat kerja Alden ini.


Tentu saja ini bukan pilihan hidup yang terbaik, tapi Alden bukan Sam yang jenius. Dia bisa merangkap menjadi dokter sekaligus hacker. Alden hanya pria biasa, dan dari keturunan orang biasa. Jadi, inilah yang dapat Alden kerjakan sekarang. Alden tidak peduli dengan pandangan orang terhadapnya, karena yang terpenting saat ini adalah menghidupi istri dan juga calon anaknya.


"Den, lo darimana aja sih? Baru keliatan." Seorang wanita menepuk pundak Alden yang sedang membuat cocktail untuk pelanggan di depannya.


"Gue ada masalah keluarga dan baru aja nikah, Mil." ucap Alden dengan berteriak.


"Serius, Den?" "Wah, selamat ya, Den..pasti gadis itu punya mental yang kuat." ejek wanita yang berseragam sama dengan Alden itu.


Wanita itu adalah Milka, teman Alden di Club ini. Dia anak yang enerjik, cekatan, dan tomboy. Milka sudah mengenal Alden selama 4 tahun ini, jadi dia tahu betul bagaimana perangai Alden yang emosional dan keras kepala.


"Sialan lo, Mil." Alden meninju lengan Milka pelan.


"Lo harus kenalin gue sama istri lo." ucap Milka sambil mengusap lengannya yang pegal karena meskipun tidak menggunakan tenaga, tindakan Alden tadi cukup membuat Milka sakit.


"Gue gak akan membiarkannya pergi ke club ini."


"Wah..Anda protektif juga ya.." "Pasti istri lo itu cantik." Milka senang sekali menggoda Alden.


"Jika tidak cantik, mana mau aku menikah dengannya?" Alden tersenyum sendiri membayangkan wajah Valen. Baru meninggalkan wanita itu 5 jam saja, Alden sudah kangen padanya.


"Lihat, kelompok sosialita itu.. Mereka suka sekali berfoya-foya. Apa sebenarnya pekerjaan suami mereka? Gila aja uangnya ga habis-habis." Milka berdecak kagum melihat beberapa wanita berkelas masuk ke dalam club dan langsung menuju ruangan VIP.


Alden tadinya hanya menoleh sesaat dan tidak mau ambil pusing. Tapi ketika melihat Sandra dan Zoe, dia kembali memandang mereka sambil melotot. Dia tentu bukan mempermasalahkan Zoe atau Sandra yang notabene adalah teman Valen, tapi Alden melihat Valen ikut serta bersama mereka.


Seketika tangan Alden terkepal. Bisa-bisanya Valen berada di club.


"Den, gelasnya." Milka menyadarkan Alden yang ternyata sudah meremas gelas di tangannya sampai pecah. Ini bukan yang pertama kali untuk Alden meremukkan gelas dengan satu tangannya. Jadi Milka lebih khawatir dengan gelasnya daripada tangan Alden.


"Biar aku yang layani mereka." Alden merebut lap di tangan Milka. Dia mengusap pecahan kaca yang tersisa di tangannya dengan lap milik Milka.

__ADS_1


"Haduh, semoga dia tidak membuat ulah di hari pertamanya bekerja." ucap Milka lirih sambil memandang kepergian Alden.


Alden sampai pada ruangan VIP. Pandangannya tidak lepas dari Valen yang tertawa dengan gembira bersama teman sosialitanya.


"Kalian mau pesan apa?" tanya Alden dengan sinis.


"Eh, Alden." pekik Sandra. Dia berdiri bersebelahan Alden. "Ini pacar Valen yang tadi kita bicarakan gaes." Sandra memperkenalkan Alden dengan semangat.


"Wah, ganteng banget sih. Lo memang beruntung Val, dapetin dia. Udah kaya, ganteng, rendah hati pula." puji wanita yang duduk di sebelah Valen.


"Kenapa rendah hati?" celetuk Zoe.


"Ya, buktinya dia masih mau bekerja rendahan, padahal perusahaannya banyak." sambung Sandra.


Valen tersenyum kecil. Dia tidak berani menatap Alden yang tampaknya marah besar pada Valen.


"Apa kalian ke sini mau bergosip?" sindir Alden.


"Kenapa aku?" protes Valen. Dia sudah membayar mahal makanan di restoran tadi. Tentu saja dia tidak mungkin membayar minuman mereka juga. Uang yang di transfer Zoe tidak akan cukup.


"Ya, dia yang akan membayar." kata Alden dengan tatapan membunuh. "Saya akan segera kembali dengan minuman yang anda pesan."


Alden berlalu, meninggalkan para wanita sosialita yang terlihat senang karena di traktir oleh Valen.


Valen berpikir keras. Bagaimana dia bisa membayar semua ini? Kenapa Alden malah mendukung ucapan temannya yang tidak tau diri itu?


Zoe tau kegelisahan Valen. Dia memberi pesan pada Valen untuk tidak khawatir. Valen membalas pesan Zoe dengan anggukan kepala.


"Silahkan, ini whisky terbaik di club kita." Alden menaruh satu botol whisky di meja dengan kasar.


"Lo jangan pergi dulu. Minum dulu di sini bersama kami." Sandra menarik tangan Alden yang hendak pergi lagi setelah membawa pesanan mereka.

__ADS_1


Dia mendudukkan Alden di sebelah Valen yang sejak tadi hanya diam saja.


"Kalian sangat cocok. Benar kan gaes?" Sandra sangat puas melihat kedua pasangan itu duduk berjejeran.


Yang lain mengangguk setuju.


"Sekarang, kita perlu merayakan keberhasilan Valen yang sudah mendapatkan pacar seperti Alden." seru Sandra. Dia menuangkan pada semua sloki yang ada di meja.


Alden menengok pada Valen yang telah menerima sloki dari Sandra.


"Gaes, sudah.. Valen sudah minum soju tadi. Dia tidak akan kuat minum lagi." Zoe mencoba menghentikan Sandra yang terlalu bersemangat. Tapi, ucapan Zoe yang membelanya jadi seperti boomerang untuk Valen.


Alden melotot ketika Zoe bilang Valen sudah minum soju.


Keringat dingin Valen mulai bercucuran keluar. Perutnya kembali mual lagi dan kepalanya pusing. Valen memegang tangan Alden karena dia merasa sudah tidak dapat menahan desakan dalam perutnya.


'Hoek' Valen memuntahkan isi perutnya tepat di badan Alden.


"Valen!" bentak Alden.


Valen menatap Alden, tapi pandangannya kabur.


"Valen, kamu tidak apa-apa?"


"Valen."


"Val."


suara-suara yang memanggil Valen itu terdengar semakin jauh, karena Valen sudah pingsan.


Alden segera menggendong Valen keluar melewati teman-teman Valen yang tampak panik juga.

__ADS_1


"Den, aku antar kalian ke rumah sakit." Zoe mengikuti Alden dari belakang. Zoe tentu tau kemana Alden akan membawa Valen.


__ADS_2