
Sam mencari keberadaan Valen sampai ke tempat parkir. Dia melihat deretan mobil, dan pandangannya berhenti pada mobil mewah bewarna silver. Tidak sulit bagi Sam mengenali mobil Zoe, karena dia pernah melihat mobil Zoe di instagram milik Valen.
Sam melongok ke mobil. Valen tampak sudah sadar, tapi dia masih lemas.
"Val, kamu baik-baik saja?" Sam mengecek nadi Valen.
"Sam, Alden di mana?" tanyanya panik.
"Dia baru saja keluar dari IGD. Aku bantu kamu menemuinya." Sam membawa Valen dengan cara menggendongnya. Dia yakin Valen belum kuat untuk berjalan.
Valen hanya pasrah saja saat Sam menggendongnya. Pikiran Valen saat ini hanya ingin melihat Alden.
Tidak sampai 10 menit, mereka sampai di ruangan VVIP. Meskipun Alden sudah membuat kekacauan, Sam tidak mungkin mengabaikan Alden.
Di dalam ruangan, Zoe sedang duduk di pinggir ranjang sambil memegang tangan Alden.
"Alden." teriak Valen seraya menghampiri Alden. Zoe berdiri, lalu segera menyingkir supaya Valen bisa duduk.
"Alden...kamu kenapa bisa begini, Den?" tangis Valen pecah melihat kondisi Alden yang masih belum sadar.
"Anda boleh pergi, Zoe." ucap Sam pada Zoe yang masih berdiri sambil memandangi Alden.
"Aku tidak bisa pergi, Valen membutuhkanku." "Lagipula Alden terluka gara-gara.." Zoe menghentikan ucapannya ketika teringat janjinya pada Alden yang tidak akan memberitahukan soal pekerjaan pria itu pada Valen.
"Valen adik iparku, jadi aku yang menemaninya." Sam tetap kekeh mengusir Zoe.
__ADS_1
Zoe mengambil tas di nakas, lalu pergi tanpa berpamitan pada Valen. Valen masih menangis sambil menciumi tangan Alden. Jadi, pamit pun percuma. Wanita itu tidak akan mendengar dan hanya berfokus pada suaminya.
Sam menunggu di belakang Valen, takut terjadi sesuatu pada wanita yang sedang hamil itu.
"Alden itu kuat seperti baja hitam. Kamu jangan terlalu cemas." hibur Sam. Dan kenyataannya, Alden memang pria yang kuat. Dia bisa bolak balik masuk rumah sakit, juga selalu melewati masa kritis. Jika kucing punya 9 nyawa, Alden lebih dari itu.
"Bagaimana tidak khawatir? Aku gak mau kalau anak aku lahir tanpa ayahnya." kata Valen sambil terisak.
"Val, dia, beruntung karena lukanya tidak menembus organ dalam. Jadi, Alden akan segera sadar."
Valen menengok ke arah Sam. Dia mencoba percaya pada kakak iparnya itu. Bagaimanapun juga Sam adalah dokter terbaik dan jenius. Jika dia berkata seperti itu, artinya Alden memang akan segera sadar.
"Thanks, Sam." ucapnya singkat.
"Tidak. Aku yang selalu menyusahkannya." ucap Valen jujur. Selama ini Valen lah yang kesulitan beradaptasi dan tidak mampu hidup sederhana.
"Val, sorry tapi kali ini aku belum bisa membantu Alden."
"Tidak apa-apa Sam. Aku senang kamu sudah mau menolong Alden." Valen mencoba tersenyum walaupun perasaannya saat ini porak poranda.
"Aku akan pergi dulu. Jika Alden sadar, tolong kabari perawat. Dokter lain akan menangani Alden." Pamit Sam.
Valen mengangguk. Dia tidak akan meminta lebih dari Sam.Yang penting sekarang adalah menunggu Alden sampai pria itu sadar.
"Den, cepat sadar Den. Aku sangat membutuhkanmu." Valen memegang tangan Alden begitu erat. Pantas saja sejak tadi perasaannya tidak enak. Ternyata Alden mengalami musibah dan harus berakhir seperti ini.
__ADS_1
"Mom.." suara itu menyadarkan Valen.
"Alden, kamu sudah sadar?" Valen bangun dari kursinya. Dia segera menekan tombol untuk memanggil dokter.
"Mom.. kamu di sini mom?" ucap Alden pada Valen. "Aku sangat merindukanmu." "Kenapa kamu pergi begitu lama, Mom?" mata Alden berkaca-kaca sambil memandangi Valen.
"Den, ini aku.. Valen." Valen menggenggam tangan Alden yang kini malah menangis.
"Mom.. aku tidak ingin di sini. Kita pergi saja keluar negeri."
"Den, kamu bicara apa sih?" Valen mulai takut dengan Alden yang melantur kemana-mana.
Tidak lama Dokter Lukas datang. Dia langsung mengecek Alden yang masih bicara sendiri.
"Dia kenapa, Dok?"
"Dia hanya masih dalam pengaruh obat bius. Jadi dia berhalusinasi." ucap Dokter Lukas menenangkan Valen.
"Dia akan segera sadar." "Kalau panasnya tinggi, kamu panggil saya lagi." Dokter Lukas menepuk pundak Valen, lalu dia berlalu dari ruangan VVIP.
"Den,, ini aku, Valen. Istrimu." Valen membelai rambut Alden seperti anak kecil yang menenangkan anaknya. Valen tentu tau masa lalu Alden yang kehilangan Mom nya karena sakit kanker. Dan sampai saat ini Alden tidak tau siapa Dad aslinya. Pasti Alden sedang merindukan orangtua aslinya itu.
Alden menggenggam lengan Valen dan Valen membiarkan Alden seperti itu, sampai dia tenang.
"Cepat sadar, sayang."
__ADS_1