
"Zoe, Alden itu adalah kakak mu."
Deg. Zoe membeku di tempatnya. Pendengaran Zoe masih bagus. Dia tidak mungkin salah dengar karena Steve mengatakan dengan suara yang keras.
"Dad, apa Dad lagi nge prank?" ucap Zoe dengan suara tercekat. Dia tidak percaya sama sekali dengan lelucon Daddy nya itu.
"No. Dad serius." Steve mengeluarkan sebuah kotak yang penuh dengan foto Mira. Dia meminta Sam untuk mengambilkan foto Alden waktu kecil. Sam terpaksa menuruti Steve karena Steve memaksanya siang dan malam sampai Dokter itu bosan.
"Ini pacar Dad. Dad melakukan kesalahan, sehingga dia hamil. Tapi Dad tidak mau tanggung jawab dan menikah dengan Mommy kamu." Steve berusaha menjelaskan masa lalunya dengan terperinci.
"Lalu, Alden.."
"Ya, dia anak Mira. Mira memberikan Alden untuk menjadi anak Ben Sebastian."
"Ini ga mungkin, Dad." Zoe menggelengkan kepalanya dengan heran. Dia masih mencerna ucapan Steve. Tapi, jika di jejer kan, Alden kecil memang mirip dengan Steve.
"Zo, karena itu jangan dekati Alden." ucap Steve dengan penuh penyesalan.
"Dad, kenapa bisa jadi seperti ini?" Zoe mulai menangis.
Steve memegang tangan Zoe. Semua adalah kesalahannya. Tapi, waktu tidak bisa diulang. Steve sudah kehilangan Mira dan juga Mommy Zoe. Kini hanya tinggal Alden dan Zoe. Steve sangat berharap jika kedua anaknya bisa menerima keadaan ini dan juga bisa saling menjaga. Steve tau umurnya tidak akan lama lagi. Dia sudah memiliki banyak komplikasi penyakit. Jadi dia tidak ingin terlalu berharap banyak.
"Zoe, maafkan Dad. Dad harus beritau ini padamu, sebelum semua terlambat."
"Apa Alden sudah tau?" tanya Zoe setelah dirinya cukup tenang. Pantas saja Steve begitu baik pada Alden. Dia melihat perbedaan perlakuan Alden dengan karyawan lainnya. Ibarat Indomie, Alden itu spesial pake kornet dan telor.
"Belum. Dad takut Alden tidak bisa menerima ini." Suara Steve bergetar. Siang malam dia memikirkan Alden. Yang ada di otaknya hanya Alden saja. Steve membuatkan pesta kemarin, sebenarnya juga untuk Alden. Seandainya Alden tau, Steve akan sangat bahagia.
"Zoe juga gak bisa menerima ini, Dad."
__ADS_1
"Ya, Dad tau itu berat. Kamu baru saja, bertemu dengan Alden dan kamu juga menyukainya. Tapi, berusahalah untuk menjadi adik yang baik."
Zoe diam. Dia mendengarkan Steve baik-baik. Selama ini dia selalu kesepian di rumah karena tidak ada kakak atau adik. Tapi, ketika Steve mengatakan jika Zoe memiliki seorang Kakak, Zoe malah tidak senang.
"Zo.. satu lagi.."
"Dad... Apa lagi yang Dad sembunyikan?" rengek Zoe. Dia sudah tidak mampu jika mengetahui rahasia besar lagi. Rasanya Zoe marah pada Steve. Tapi melihat pria itu yang juga hampir menangis, Zoe mencoba sekuat tenaga menahan emosinya.
"Tolong bantu Alden temukan Valen."
"Valen?"
"Ya, Valen sakit. Tapi orangtuanya menyembunyikan Valen. Siapa tau kamu bisa cari informasi soal itu. Kamu kan sahabat dekat Valen."
"Zoe gak mau, Dad." tolak Zoe secara terang-terangan. "Jika Zoe tidak bisa, mendapatkan Alden, maka Valen juga tidak bisa mendapatkannya."
"Zoe!" bentak Steve. Steve yang sejak tadi menahan dadanya yang sakit, kali ini tidak bisa menahannya lagi. "Cepat panggil Dokter Lucas." Ucap Steve seraya mencari obatnya di laci meja.
"Dok, tolong ke rumah sekarang. Dad sakit. Cepat." ucapnya tidak jelas.
"Aldeeeeeen!" pekik Zoe setelah menutup teleponnya.
Steve yang mendengar Zoe memanggil Alden segera berhenti mencari obatnya yang entah di mana. Steve malah beralih pada foto-foto yang berada di meja. Steve mengumpulkan foto itu dan memasukkan sembarangan ke lacinya.
Tepat saat Alden masuk, Steve akhirnya pingsan.
"Kenapa Tuan Steve?" Alden segera mengecek keadaan Steve. Dia memegang nadi di tangan Steve juga mengecek nafas di hidungnya. Nadinya begitu lemah.
"Kita bawa saja ke dokter sekarang."
__ADS_1
Alden membawa Steve keluar dari ruangannya, diikuti oleh Zoe di belakang.
*
*
*
Dokter Lucas menjelaskan jika Steve terkena serangan jantung ringan. Dia sudah memanggilkan Samuel dan meminta Alden-Zoe menjaga Steve di ruangan VIP.
Dari sepanjang perjalanan, Zoe tidak kunjung berhenti menangis. Dia menyesal karena Steve seperti ini setelah mendengar ucapannya. Seharusnya Zoe iyakan saja permintaan Steve.
"Nona, sudah tenang. Sam adalah Dokter spesialis jantung terbaik." hibur Alden.
"Den,," Zoe memeluk Alden yang berada di sampingnya. "Aku takut Dad kenapa-napa." kata Zoe sesenggukan.
Alden awalnya ingin menyingkirkan Zoe dari tubuhnya. Tapi, dia mengurungkan niat saat melihat Steve yang terbaring lemah di ranjang. Zoe pasti panik karena Steve lah satu-satunya keluarga yang dia miliki. Alden mengerti perasaan takut Zoe. Itu sama seperti perasaannya waktu kehilangan Mira.
"Ehem."
Suara deheman itu membuat Alden menengok ke arah belakang. Sam sudah berdiri di belakangnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Tapi, Sam tidak banyak bicara. Dia berfokus memeriksa keadaan Steve dan memutuskan untuk tidak mengomentari Alden yang sedang berpelukan dengan Zoe.
"Sebaiknya pasien istirahat total dan jangan mengurus banyak kerjaan. Juga jaga pola makannya. Dia pasti begini karena makan sembarangan." pesan Sam pada Zoe setelah memeriksa keadaan Steve.
Zoe melepaskan pelukannya. Dia baru sadar jika ada orang lain di ruangan itu selain dirinya dan Alden.
"Baik Dok. Terimakasih." ucap Zoe pada Sam yang memandangnya dengan tatapan sinis.
Sam ingin cepat-cepat berlalu dari hadapan mereka. Waktu Dokter Lucas memberitahunya jika Steve sakit dan, harus di periksa, sebenarnya Sam tidak ingin pergi. Tapi, Sam harus profesional dan tidak boleh mencampurkan urusan pribadinya dengan pekerjaan.
__ADS_1
"Sam, tunggu." cegat Alden.