Valen For You

Valen For You
Bisa melewati ini


__ADS_3

Valen hampir saja melempar ponselnya ketika melihat video yang dikirim oleh nomer asing. Video berdurasi 5 menit itu menampilkan bagaimana kemesraan Zoe dan Alden di sebuah koridor. Dia mengelap wajah Alden, juga makan bersama dan tersenyum pada suaminya. Dan di detik terakhir, Zoe juga memeluk Alden. Ini sungguh gila. Valen tidak dapat membendung air matanya. Dia tidak bisa menerima hal ini dengan akal sehat.


"Pria kurang ajar." pekiknya.


Suster bergegas menilik Valen ke kamarnya. Dia baru saja makan siang jadi dia pergi keluar dari kamar. Tapi belum 5 menit, suster pribadi Valen mendengar teriakan dari arah kamar majikannya itu.


"Nona, tenang Nona." Suster itu duduk di pinggir ranjang sambil menenangkan Valen. Dia bahkan memeluk Valen supaya wanita itu bisa lebih tenang.


"Apa terjadi sesuatu?" tanyanya lagi.


"Dia bersama wanita lain." curhat Valen dengan sesenggukan. "Aku bodoh sekali."


"Apakah suami anda?"


Valen mengangguk lemah. Dia memberikan ponselnya pada suster yang sudah menjadi sahabatnya itu selama Valen bersembunyi.


"Nona, mereka cuma makan siang bersama." ucap Suster Valen dengan yakin. Dia harus membantu Valen supaya Valen tidak stress dan tidak menambah beban pikirannya.


"Mereka memang mencurigakan sejak dulu. Aku gak nyangka kalau Alden begitu mudah berpaling." Valen masih sangat emosional. Dia bahkan sampai mencengkram tangan susternya dengan kencang.


"Nona.. sebaiknya anda bertemu dengan suami anda dan jelaskan keadaan ini." saran suster Valen dengan prihatin. Dia sangat mengerti kenapa Valen kabur. Dia begitu cinta pada Alden hingga tidak bisa membiarkan Alden bersedih jika kehilangan salah satu dari dirinya atau anaknya. Setiap hari Valen bahkan selalu bertanya pada Suster soal Alden. Valen sangat berharap bertemu dengan Alden, tapi dia tidak bisa merealisasikannya.


Berita hari ini jelas saja membuat Valen stress. Suami yang dia sayangi itu malah bersama dengan sahabatnya sendiri. Padahal Valen sendiri sedang berjuang untuk bisa selamat dengan bayinya.

__ADS_1


"Aku gak mau.. Alden sudah selingkuh dan dia gak bisa dimaafkan." teriak Valen dengan nada tinggi. "Seharusnya sejak awal aku gak perlu pertahankan pernikahan ini."


"Nona.. sabar sebentar lagi setidaknya sampai baby-nya lahir." "Jangan ambil keputusan terburu-buru." "Anda belum dengar penjelasan dari suami anda atau Wanita itu."


"Aku akan telepon pengacara untuk kirim surat cerai."


Valen merebut ponsel di tangan suster, lalu menekan nomer pengacara keluarganya.


"Nona, anda pikirkan dulu hal ini. Aku rasa ini hanya salah paham." sampai detik terakhir, suster Valen masih mencegah dia menelepon pengacara.


"Halo.. Valen.. kenapa kamu menelepon?" telepon sudah tersambung.


Valen terdiam. Dia malah menangis lagi, bukannya bicara dengan pengacaranya.


'Tut..Tut..' Valen mematikan ponselnya. Dia tidak sanggup untuk melakukan itu. Alden memang luar biasa merampas hati dan pikiran Valen. Sejak pertama mereka pacaran, Valen tidak lagi tertarik dengan pria lain. Di mata Valen hanya ada Alden seorang. Dia tidak peduli jika Alden itu bad boy. Dia tidak peduli jika orang tuanya melarang Valen untuk dekat dengan Alden.


"Anda harus tenang nona. Kasihan baby nya jika anda seperti ini. Dia pasti juga merasa sedih." hibur suster itu lagi. "Saya janji akan cari tau soal ini untuk anda." "Saya akan telepon Nyonya Ester."


Valen sedikit lebih tenang setelah mendapat jaminan dari susternya. Dia mulai bisa berpikir dengan jernih.


"Sekarang anda istirahat dulu. Perkembangan janin sudah semakin baik. Mungkin dokter bisa lakukan operasi 1 bulan lagi. Jadi sabar lah Nona."


"Ya,,thanks Suster." "Aku juga sudah lelah dengan ini." Valen merasakan kehamilan ini begitu panjang dan menguras tenaga dan emosinya.

__ADS_1


"Anak anda pasti begitu kuat seperti anda." Suster mengelus punggung Valen yang sudah tidak menangis lagi. Dia tau dengan baik tentang kisah Valen-Alden dan juga latar belakang keduanya.


"Ya, aku Valencia. Aku bisa melewati ini semua."


*


*


*


Satu bulan kemudian setelah melihat video itu, Valen sudah mulai bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Dia melakukan kegiatan seperti biasa tanpa memikirkan soal Alden. Dia terpaksa harus menyingkirkan sosok Alden karena tiap kali nama Alden muncul di otaknya,Valen langsung menangis dan ingat jika kemungkinan Alden itu selingkuh dengan Zoe.


Valen bisa mengatasi itu dengan hobi barunya yaitu merajut. Ya, meskipun terdengar kuno, tapi hobi barunya itu terbukti bisa mengalihkan pikirannya.


'Ting..tong..' suara bel apartemen berbunyi.


Valen melihat jam di tangannya. Jam 6 sore. Pasti Bram dan Ester yang datang.


Valen beranjak dari ranjang untuk membukakan pintu. Suster sedang keluar sebentar untuk mencari obat. Jadi Valen harus bergerak untuk menyambut Bram.


Valen merasakan tubuhnya sudah berat sekali. Karena tidak melakukan apapun, berat badannya jadi naik secara drastis. Kakinya juga sudah bengkak.


"Dad.. Mom.." suara Valen hilang di udara ketika melihat seseorang berdiri di depannya.

__ADS_1


__ADS_2