
Sementara itu di mobil Jason, Valen belum berhenti menangis juga. Total sudah 2 jam sejak kembali dari restoran, dan Valen terus menangis tanpa bicara apapun.
"Val, nanti lo sakit kalau nangis terus gini." bujuk Jason. Dia sebenarnya ingin memeluk Valen, tapi dia tidak berani karena Valen adalah istri orang.
Ya, Jason lebih ke arah memperhatikan kebutuhan Valen dan emosinya daripada menggunakan skin ship. Dia hanya berani untuk memegang tangan, dan tidak lebih dari itu.
"Apa Alden selalu seperti ini, Val?" tanya Jason pelan.
Dan sesuai dugaannya, Valen tidak menjawab pertanyaan Jason yang sebenarnya sudah dapat di jawab meskipun tanpa kata darinya.
"Seandainya aku lebih dulu bertemu denganmu, pasti kamu tidak akan seperti ini." ucap Jason penuh arti.
"Jas, aku harus bagaimana?" Valen akhirnya bersuara juga.
Harus bagaimana? Jason tentu ingin Valen menceraikan Alden, lalu dia bisa sepenuhnya hidup bersama Valen. Jason juga tidak keberatan jika harus mengurus anak Alden. Dia akan menganggap anak itu sebagai anaknya juga.
"Bicarakan dulu dengan Alden. Siapa tau kalian hanya salah paham." kata Jason datar. Jason tentu saja sadar bahwa dia juga salah satu penyebab keributan Alden-Valen. Tapi, dia tidak bisa berhenti memikirkan wanita yang ada di sampingnya ini.
"Aku takut pada Alden." ucap Valen kemudian.
"Val, apa aku perlu belikan kamu rumah?"
Valen menggeleng. "Itu bukan solusi, Jas. Alden akan lebih marah lagi."
Jason mengiyakan Valen dengan cepat. Sudah pasti pria itu bisa melemparkan Jason ke rumah sakit dalam keadaan koma.
"Jadi, kamu akan tetap menghadapi Alden?"
"Aku tentu akan tetap bersama Alden." jawab Valen sambil mengelap air mata dengan tisu.
__ADS_1
"Aku akan temani kamu untuk bicara padanya."
'Tin.. Tin..'
Suara klakson mobil yang kencang itu mengejutkan Jason dan Valen. Terlebih ketika yang turun adalah Alden.
Alden menghampiri mobil Jason. Dia mengetuk kaca mobil bagian sopir.
"Tolong turun sebentar." ucap Alden pada Jason yang sudah membuka kaca mobilnya. "Aku perlu bicara padamu, Tuan Jason."
Jason melepas seat belt nya tanpa mengalihkan pandangan dari Alden. Dia lalu turun dan berhadapan dengan Alden.
"Kamu tunggu di mobil dulu, Val." ucap Alden pada Valen yang sudah bersiap untuk turun.
"Ada apa, Mr.Sebastian?" "Maaf, maksudnya Alden." sindir Jason. Ya, tanpa nama Sebastian di belakangnya, Alden bukan siapa-siapa. Jason sudah menyelidiki latar belakang Alden dan memang dia bukan siapa-siapa, melainkan anak seorang pembantu keluarga Sebastian.
"Aku hanya ingin membahagiakan Valen, tidak seperti suaminya yang kerjanya hanya marah-marah saja."
"Tau apa kamu tentang hubungan kami?" ucap Alden yang berusaha menjaga emosinya.
"Tentu saja aku tau kalau Valen tidak bahagia bersama dengan pria miskin sepertimu." ejek Jason. Dia justru senang untuk memancing emosi Alden.
"Ya, kita lihat saja. Seberapa keras kamu mencoba merayu istriku, dia akan tetap memilihku." jawab Alden dengan yakin. "Dan, tolong jangan permalukan dirimu sendiri jika kamu tidak ingin nama baikmu rusak." ingat Alden. Dia menekankan soal nama baik, karena Jason memiliki reputasi yang bagus dalam dunia bisnis. Dia anak muda berbakat dan dari keluarga terpandang juga. Jika orang tau bahwa dia jadi pebinor, bukan tidak mungkin namanya akan jatuh sampai ke dasar. Berbeda dengan Alden. Nama baik Alden memang sudah rusak sejak dulu. Dan tidak ada banyak yang mengenal Alden karena memang Ben lebih cenderung memperkenalkan Sam ke publik.
Jason terdiam. Ucapan Alden memang benar.
Alden berhasil bicara tanpa emosi pada Jason. Dia lalu kembali ke mobil Jason untuk menemui Valen.
"Val, aku minta maaf atas kejadian tadi." Alden membuka pintu mobil dan langsung berjongkok di samping Valen.
__ADS_1
Valen hanya melengos.
"Sayang, aku tau aku salah. Tidak seharusnya aku emosi padamu." Alden memegang tangan Valen dan menggenggamnya.
"Aku takut kamu akan melukai ku dan juga anak kita." ucap Valen lirih.
"Kalian paling berharga untuk ku, Val." Alden mengusap perut Valen.
Valen merasakan perasaan hangat ketika Alden memegang perutnya. Emosinya langsung hilang seketika, berganti dengan perasaan rindu pada sentuhan dari Alden. Ya, jika Alden bertingkah manis seperti ini, Valen tidak akan bisa berpaling pada pria lain.
"Aku juga akan keluar dari club, dan bekerja di tempat lain." lanjut Alden lagi.
"Serius?" tanya Valen terkejut.
"Ya,, sebenarnya aku selalu berusaha untuk mengabulkan apa yang kamu minta. Hanya, memang aku baru menemukan pekerjaan itu sekarang."
"Alden.." Valen tidak mampu berkata-kata.
"Aku rasa gajinya cukup besar dan kamu tidak perlu bekerja lagi dengan Jason." Alden mulai bernegosiasi saat itu juga. Dia tidak peduli pada Jason yang mungkin bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Tapi, aku suka pekerjaan itu. Dan Jason sangat baik padaku." ungkap Valen dengan jujur. Dia bosan sekali jika harus seharian di rumah tanpa Alden.
"Val, aku cemburu pada Jason. Dia selalu memberikan segala sesuatu yang kamu butuhkan. Padahal itu seharusnya tugasku sebagai seorang suami."
Valen terdiam cukup lama. Tapi, akhirnya dia mengangguk setelah memikirkan masak-masak apa akibatnya jika dia terus bekerja.
"Aku tau, kamu jauh lebih dewasa dan rasional dariku." Alden tersenyum senang karena Valen mau menurutinya juga.
Jika dia terus bertemu dengan Jason, Alden rasa pernikahannya tidak akan bertahan lama. Begitu juga Alden harus membatasi pertemanannya dengan Milka. Semua akan baik-baik saja jika mereka bisa berkomunikasi secara terbuka seperti ini, dan tanpa ada orang luar alias Jason atau Milka.
__ADS_1