
Sudah seminggu Alden bekerja di kantor Bram. Dia selalu mengamati Alden dari CCTV. Alden memang seperti ibunya. Dia adalah pekerja yang baik. Semua pekerjaan bisa diselesaikan dengan cepat oleh Alden dan hasilnya memuaskan. Alden juga bisa beradaptasi dengan baik. Beberapa karyawan wanita bahkan sengaja mendekati Alden meskipun dia itu hanya cleaning service. Nyatanya tanpa embel-embel keluarga Sebastian pun Alden punya banyak fans. Bram sampai heran kenapa orang-orang menyukai Alden.
"Ehem." Bram berdehem pada Mey alias sekretarisnya yang sedang memandang CCTV tanpa berkedip.
"Kenapa kamu?" tanya Bram sinis. Padahal dia tau kalau sekretarisnya juga sedang menonton Alden.
"Pak, saya boleh kenalan sama dia?" tanya Mey terang-terangan.
"Apa menariknya dia? Dia hanya cleaning service." Bram membeberkan fakta yang sebenarnya. Ya, seluruh karyawannya tidak tau jika Alden adalah menantunya.
"Bapak gak lihat? Dia begitu sempurna. Dia seperti model L-Men. Wajahnya gak kalah sama aktor K-Pop. Seksi banget deh pokoknya." Mey senyum-senyum sendiri membayangkan tubuh Alden yang perfect.
"Cih. Yang penting itu dompetnya, Mey."
"Ah, gaji saya sudah cukup,pak. Yang penting dia gak malu-maluin kalau di bawa kondangan." bantah Mey.
Bram menutup laptopnya. Dia makin kesal saja dengan Alden karena banyak sekali fans Alden di sini. Lebih baik dia menelepon Valen. Kondisi Valen belum stabil dan masih rawan. Setiap sore Bram selalu menengok Valen untuk mengecek keadaan putri dan calon cucunya itu. Ya, meskipun tidak suka dengan Alden, tapi perlahan Bram mulai menerima kehadiran cucunya.
"Valencia, apa kamu sudah makan?" tanya Bram ketika telepon terhubung.
"Ya Dad. Hari ini aku bisa makan cukup banyak. Mungkin cucu Dad ini lapar."
"Apa dia baik-baik saja?"
"Hmm.. iya dia sedang bergerak. Pasti dia senang karena grandpanya menelepon."
"Tentu saja. Dia harus lahir dengan sehat. Dad udah gak sabar menunggunya."
__ADS_1
"Dad, pasti akan Valen usahakan." "By the way Dad.. Apakah Alden datang ke kantor dan mencari Dad?"
Bram diam sesaat. Dia malas menjawab pertanyaan Valen jika sudah mengenai soal Alden.
"Oh, iya.. Mey.. ada rapat ya..oke oke.." Bram mencari alasan dengan menggunakan Mey.
Mey yang sejak tadi berdiri di situ hanya bengong sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Sayang, nanti Dad akan pergi ke apartemen. Kita lanjutkan nanti ya."
"Anda pandai sekali berbohong Pak." jawab Mey dengan lugunya. "Tapi apakah anda bicara pada nona Valen? Apakah dia akan punya anak?" "Aku gak dengar kalau nona Valen sudah menikah. Suaminya pasti sangat tampan." cerocos Mey. Dia sudah bekerja cukup lama dengan Bram jadi dia tau tentang keluarga Bram.
"Sudahlah. Jangan tanya-tanya." "Siapkan cake untuk Billy Stevenson. Aku harus minta maaf padanya." Bram berdiri dari kursinya. Dia tentu harus meminta maaf pada Steve setelah rekan kerjanya itu membuat ultimatum ke beberapa pemegang saham lain untuk mencabut kerjasamanya dengan Bram.
Bram heran kenapa Steve begitu membela Alden. Apa yang terjadi diantara mereka? Atau apakah Alden tau rahasia Steve jadi dia pro menantunya itu?
"Pak, kue nya sedang otw." ucap Mey menyadarkan Bram yang sempat bengong karena memikirkan hubungan Steve-Alden.
"Oke..aku akan menunggu di mobil saja."
Alden menyeka keringat yang sudah mengucur deras di pelipisnya. Dia sangat lelah hari ini. Steve setiap hari menambah pekerjaannya, seakan tidak membiarkan Alden untuk beristirahat. Untung saja Alden sudah biasa bekerja keras di club. Jadi melakukan pekerjaan rendahan seperti ini bukan sebuah masalah yang besar.
Alden menyandarkan alat pel nya di tembok, sedangkan dia sendiri duduk di sebuah bangku plastik di sisi koridor.
"Aldeeeen" teriakan itu menggema ke seluruh ruangan. Semua yang ada di lantai itu menengok ke arah seorang wanita cantik yang sangat seksi. Wanita itu menggunakan heels dan gaun press body berwarna Sage. Dia langsung menghampiri Alden dengan percaya diri.
"Jangan sentuh karena aku basah." peringat Alden pada wanita yang begitu dia kenal itu.
__ADS_1
"Siapa yang berani perlakukan kamu seperti ini? Pantas saja Dad sangat marah." keluh Zoe. Ya, Zoe datang khusus untuk menengok kakak tirinya itu. Dia sudah berjanji pada Steve untuk mencoba menerima Alden sebagai kakaknya. Zoe mengeluarkan tisu dari tas dan buru-buru membantu Alden untuk mengelap keringatnya.
"Zoe! Jangan seperti ini. Orang-orang bisa salah paham." Alden memegang pergelangan tangan Zoe supaya wanita itu berhenti.
Saat ini, baik pegawai wanita maupun pria memang semua menatap ke arah Alden. Pegawai pria tentu sangat tertarik dengan tubuh molek Zoe, sedangkan pegawai wanita lebih tertarik dengan pertanyaan ada hubungan apa Zoe dengan Alden? Mereka akan sangat patah hati jika memang Alden sudah punya pacar. Pupus sudah harapan mereka untuk mendapatkan Alden. Apalagi jika saingannya berbentuk seperti Zoe.
"Den, aku di suruh Daddy untuk awasi kamu. Jadi diam saja lah." Omel Zoe. "Anggap aku ini adik mu." lanjutnya dengan penuh arti. Padahal memang apa yang diucapkan Zoe itu benar.
"Zo.. kamu terlalu berlebihan. Kamu gak boleh suka padaku karena aku ini suami Valen." jelas Alden to the point.
"Yee,, Ge er amat sih. Aku tau, Tuan Sebastian. Kamu itu punya Valen. Aku juga gak mungkin mengkhianati sahabatku." Zoe membuang tisu di tangannya ke tempat sampah di sebelah Alden.
Alden memang sangat menyedihkan dan tragis. Dia diangkat jadi anak orang kaya dari keluarga Sebastian dan dia juga anak kandung Keluarga Stevenson, tapi hidupnya Luntang Lantung seperti orang susah. Seandainya Steve tidak melarangnya bicara, pasti Zoe sudah membuat pengumuman di televisi.
"Aku bawa makanan kesukaanmu." Zoe menyodorkan paper bag yang dibawanya. Dia ingat jika Valen pernah menyebutkan makanan kesukaan Alden, jadi dia sengaja bawakan itu untuk Alden. "Anggap ini sebagai permintaan maaf ku karena aku selalu membuatmu marah."
Alden menerima makanan yang diberikan Zoe dengan ragu-ragu. Saat ini Alden sangat lapar dan dia juga harus menerima maksud baik dari Zoe.
"Makan saja sama-sama di sini." Alden menggeser satu kursi kosong yang ada di sampingnya.
Zoe duduk dengan senang hati.
"Kamu pasti gak selera makan karena mikirin Valen."
"Yah, kamu tau pasti hal itu Zo. Aku takut dia dan anakku kenapa-kenapa." Alden tertunduk lesu.
"Aku akan bantu kamu temukan Valen." Zoe menepuk pundak Alden sambil tersenyum.
__ADS_1
"Thanks." jawab Alden singkat. Dia mulai memakan apa yang dibawa Zoe. Akhir-akhir ini memang Alden lupa makan. Dia sudah berusaha sebisa mungkin untuk mencari Valen tapi hasilnya nihil.
Di tengah perbincangan mereka, baik Zoe dan Alden tidak menyadari jika ada seseorang yang merekam momen mereka sejak tadi.