
Rumah Sakit Husada
"Kandungan dia baik-baik saja. Seharusnya anda jangan biarkan nyonya ini bekerja keras." Dokter Mega merapikan peralatannya. "Dan, tolong berikan makanan yang bergizi Dan juga vitamin."
"Maksud anda dia sedang hamil?" tanya Jason dengan ekspresi wajah tidak percaya.
"Lho, apa anda tidak tau? Anda itu suaminya atau bukan?" omel Dokter Mega.
"Jason.." Valen tersadar karena suara berisik dari percakapan keduanya.
"Valen..kamu sudah sadar?" Jason langsung menggenggam tangan Valen dengan perasaan yang tidak karuan. Wanita ini baru saja mengeprank dia. Tapi melihat mata sayu Valen, Jason tidak bisa marah padanya.
"Sorry, Jas..aku tidak bermaksud membohongimu. " Ucap Valen tersendat. Dia yakin pasti Jason sudah tau keadaan Valen yang sebenarnya.
"Dokter, apa kita bisa USG?" tanya Jason tanpa melepaskan pandangan dari Valen.
"Tentu saja. Saya siapkan alatnya."
Jason duduk di bangku samping Valen tanpa melepaskan tangannya. Dia masih mencoba memahami situasi ini. Perasaan Jason sebenarnya hancur berkeping-keping, seperti sebuah bangunan tinggi yang runtuh karena gempa tsunami.
Valen, gadis impiannya sejak kecil, sudah menikah dan bahkan sedang hamil.
Dokter Mega dengan cepat menyiapkan segala yang dibutuhkan untuk USG. Dia sedikit membuka kaos Valen.
Jason baru percaya jika Valen hamil, karena perut Valen memang terlihat buncit.
"Nyonya, apa anda stress akhir-akhir ini?" tanya Dokter Mega sambil mengoleskan ultrasound gel pada perut Valen.
Valen enggan menjawab. Dia hanya menatap ke langit-langit.
"Anak kalian sebenarnya sehat, hanya berat badannya masih kurang di usia kandungan 4 bulan." "Tolong anda jangan terlalu banyak pikiran, nyonya." Dokter Mega memandang layar yang menunjukkan hasil USG Valen.
__ADS_1
Jason melongo. Ini pertama kalinya dia melihat foto USG bayi. Rasanya Jason begitu senang, terharu, dan takjub. Meskipun itu bukan anaknya sendiri, tapi Jason merasa seperti bapak dari anak itu, seperti perkataan Dokter Mega.
"Matikan saja, Dok. Saya tidak mau melihatnya." ucap Valen lirih.
Giliran Dokter Mega yang bingung. Dia baru pernah melihat ada ibu yang tidak ingin melihat calon anaknya.
"Jason, kamu pergi saja." usir Valen.
"Lho, kenapa Val? Aku akan antar kamu pulang."
'BRAK' pintu ruangan terbuka. Alden menyeruak masuk ke dalam. Dia memandang Dokter Mega, Valen dan juga Jason bergantian. Tapi, tatapan Alden berhenti pada pegangan tangan Jason pada Valen.
"Ada apa ini, Val? Kamu kenapa?" Alden maju ke depan, lalu menyingkirkan tangan Jason dengan kasar.
"Saya suaminya, Dok. Kenapa Valen bisa ada di sini?"
Dokter Mega menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia pikir Jason adalah suami Valen. Ternyata Suami Valen adalah Alden Sebastian.
"Istri anda harus banyak istirahat dan makan makanan yang bergizi." kata Dokter Mega mengulangi perkataannya.
"Setiap hari dia di rumah, Dok."
"Den.." Valen menyentuh jari Alden, membuat Alden menengok pada Valen.
"Aku sudah bekerja sebulan ini, Den." Aku Valen. Dia menatap Alden dengan air mata yang sudah menggenang.
Bagaimana reaksi Alden? Jangan di tanya. Pria itu terlihat terkejut dan marah. Wajah Alden bahkan langsung memerah karena menahan rasa kesalnya pada Valen.
"Tuan, istri anda tidak boleh stress." ingat Dokter Mega.
"Dokter, ini sudah selesai, kan? Saya Mau bawa Valen kembali."
__ADS_1
Alden menarik tangan Valen, tapi tangan Jason menahan tangan Alden.
Ya, Alden sampai lupa kalau ada sesosok makhluk yang sedang melihat Alden sejak tadi.
"Maaf, saya yang mengantarkan Valen ke sini. Apa betul anda suaminya?" tanya Jason dengan nada sopan.
Alden memicingkan matanya.
"Jason temanku, Den. Dia juga bos tempat aku bekerja." jelas Valen yang kini sudah berdiri di samping Alden.
"Jelaskan nanti saja. Ayo." Alden kembali menarik Valen. Dan Jason kali ini memegang tangan Valen yang satunya.
"Lepaskan tanganmu." ucap Alden kasar.
"Tidak. Kamu kasar sekali padanya. Aku tidak percaya kamu itu suaminya." Jason menarik Valen ke arahnya, sehingga terjadilah tarik menarik antara Jason dan Alden.
"Stop!" teriak Valen. Dia sungguh sedih dengan keadaan seperti ini.
"Jason, aku sudah bilang kalau jangan dekati aku lagi." "Dan, kamu juga. Bisa tidak jangan kasar dengan istrimu sendiri. Istri mu sedang hamil." kata Valen pada Jason dan Alden bergantian. Dia meronta sehingga keduanya melepaskan tangan Valen.
Valen menyambar tasnya, lalu berjalan dengan gontai keluar dari ruangan. Alden segera menyusul Valen karena dia harus mengantar istrinya.
Sementara itu di ruangan, Jason terduduk lemas dengan wajah pucat. Dia masih tidak menyangka jika Valen sudah menikah dan sepertinya pernikahannya bermasalah.
"Maaf, Pak. Saya tidak tau kalau anda bukan suaminya." Dokter Mega merasa menyesal karena apa yang baru saja terjadi. Dia juga harus minta maaf pada Alden karena dia notabene adalah anak dari pemilik rumah sakit ini.
"Dokter, makanan apa saja yang Valen butuhkan?" tanya Jason sambil menatap foto hasil USG Valen.
"Pak, tapi..."
"Beri Saya catatan apa saja yang boleh dan tidak boleh di konsumsi Valen. Juga Vitaminnya." Jason tersenyum penuh arti.
__ADS_1