
Alden sudah menjalankan mobilnya. Dia berulang kali menatap Valen yang masih melengos dari Alden. Valen hanya menatap ke arah luar jendela tanpa berniat menengok pada Alden.
"Kenapa kamu kerja? Siapa yang suruh kamu kerja?" Alden akhirnya memulai perdebatan lagi.
"Aku hanya ingin membantu kamu." jawab Valen lirih.
"Apa kamu kekurangan makanan selama ini?" tanya Alden dengan nada sinis.
"Ini bukan hanya soal makanan, Den. Kamu tidak dengar tadi, Dokter bilang aku harus minum vitamin. Dan aku juga harus memikirkan tabungan anak ini untuk ke depannya. Gajimu itu tidak cukup, Den." Valen akhirnya menatap Alden. Dia bicara dengan sedikit emosi.
"Valen, sampai kapan kamu menginjak-injak harga diriku?" ucap Alden tidak terima.
"Siapa yang menghina mu, Den?" "Itu kenyataan!" "Aku justru ingin membantumu mencari uang supaya kita bisa kerjasama." teriak Valen tak kalah emosi.
"Kamu selalu bertindak semaunya sendiri, Val. Seharusnya kamu minta ijin padaku."
"Apa kamu akan ijinkan kalau aku bilang ingin bekerja?" Valen bertanya balik.
"Atau... jangan-jangan kamu ingin bekerja karena kamu ingin diperhatikan pria itu!"
"Kalau memang iya, kenapa?" tantang Valen.
'Ciiiiiiit'
Alden mengerem mobilnya tiba-tiba, membuat Valen terbentur dashboard.
Valen yang sudah berusaha menahan air matanya, akhirnya menangis juga. Dia memegangi dahinya yang sakit.
__ADS_1
"Val, sorry.." ucap Alden sambil meraba dahi Valen yang sudah memerah. Dia menyesal karena sudah kembali menyakiti Valen.
"Minggir, tidak usah pedulikan aku." Valen menepis tangan Alden. Dia mengusap air matanya, lalu terdiam seribu bahasa sambil memandang ke arah jendela lagi. Kali ini hati Valen begitu sakit hati. Apapun yang dia lakukan akan salah di mata Alden.
Tak beda jauh dari Valen, Alden juga berpikiran yang sama. Dia sudah melakukan segalanya untuk Valen. Bahkan sebulan ini Alden berusaha mencari pekerjaan lain yang lebih baik daripada menjadi seorang bartender. Tapi, karena Alden tidak punya pengalaman kerja di kantor, mereka juga ragu untuk menerima Alden.
Alden sudah berada di ambil krisis percaya diri. Dia sedikit tertekan karena masalah pekerjaan, dan mungkin ini yang mungkin memancing emosinya kembali. Apalagi tadi Alden melihat Valen dengan Jason.
Alden kembali menjalankan mobilnya. Dia juga memilih diam saja demi kebaikan bersama.
*
*
*
"Valen! kenapa kamu kunci pintunya." teriak Alden sambil menggedor pintu kamar.
"Aku ingin sendiri." Valen membalas dengan berteriak juga.
Alden hanya mampu menghela nafas kasar. Dia duduk di sofa sambil memijit pangkal hidungnya.
Jika sedang ada di club, pasti Alden akan segera minum whisky. Tapi kali ini Alden harus menggunakan otaknya. Alden harus mencari pekerjaan lain yang gajinya juga cukup besar, untuk menghidupi Valen dan juga anaknya nanti.
Sementara itu, Valen kembali menangis.Dia menutup wajahnya dengan bantal karena tidak mau suara tangisannya terdengar oleh Alden.
Alden sangat keterlaluan. Kenapa pria itu tidak peka sekali jika wanita itu punya banyak kebutuhan. Itupun Valen sudah mengerem keinginannya dengan tidak belanja barang yang terlalu mahal.
__ADS_1
Telepon Valen berdering. Valen membuka bantal, lalu mengambil tas yang tergeletak di lantai. Dia mencari ponselnya, tapi tidak ketemu juga. Valen akhirnya mengeluarkan semua isi tasnya sampai ponsel itu terjatuh dari dalam.
Ternyata Jason yang menelepon. Pria itu pasti terkejut mendengar Valen sudah menikah dan akan punya anak.
Valen menarik nafas dalam sebelum menekan tombol hijau.
"Halo, Jas.. Sorry.. sekarang aku gak bisa jelasin, tapi aku mohon jangan pecat aku." pinta Valen memelas.
Tidak terdengar suara apapun dari ujung sana.
"Jas, aku sudah berusaha menjelaskan padamu. Tapi, kamu selalu menghindar ketika aku bicara soal status." lanjut Valen lagi.
"Val.. apa kamu menangis?" Jason bukannya menjawab apa yang telah di katakan Valen, tapi dia malah mengubah topik pembicaraan.
"Enggak kok, Jas." sejak menikah, Valen jadi mahir sekali berbohong. Dia terpaksa bohong karena dia benci untuk mengakui kelemahannya dan dikasihani orang lain.
"Jangan bohong, Val." "Aku tau kamu." "Kita bicarakan kalau kamu sudah tenang ya?" ucap Jason dengan lembut.
Valen mengangguk. Dia lupa kalau mereka hanya tersambung dalam telepon, jadi Jason tidak bisa melihat apa yang dilakukan Valen itu.
"Besok kamu istirahat dulu saja, Val." "Aku tunggu kamu di hari Senin."
"Jas, thank you.. kamu memang teman yang baik." ucap Valen penuh syukur.
"See you on Monday, Nyonya Sebastian."
Jason menyebut Valen dengan Nyonya Sebastian. Itu berarti, Jason sudah tau status Valen. Valen jauh lebih lega karena setidaknya Jason pasti akan menyerah dan mengerti posisinya.
__ADS_1