
Alden seperti cacing kepanasan ketika mendengar jika Valen pergi bertemu dengan teman prianya. Dia sampai tidak sadar jika sejak tadi minum whisky terlalu banyak.
"Den, stop.. stop. Jangan minum lagi." Milka menghentikan Alden yang sudah hampir menghabiskan 1 botol whisky sendirian.
"Apa salah gue, Mil?" Alden mulai merancau tidak jelas. "Gue udah berusaha untuk dia. Tapi, dia malah pergi dengan laki-laki lain."
"Maksud lo? Istri lo?" tanya Milka penasaran.
"Aku menyedihkan sekali." Alden mulai menunjukan raut wajah kesedihan yang tidak dapat di pahami oleh Milka.
Milka tentu saja tau apa resikonya jika seseorang terlibat dalam pernikahan. Jika tidak selingkuh, maka akan diselingkuhi. Karena itulah dia lebih suka melajang. Dia tidak ingin menjalin sebuah hubungan lebih dalam dengan seorang pria karena pria pada masa lalunya pun mencampakkan dia begitu saja.
"Wah, jadi Alden sad boy dong." teriak Milka sambil tertawa.
"Hahaha.. sad boy." Alden mengulangi perkataan Milka.
"Haduh, repot deh kalau begini." Milka sudah dapat menebak apa yang akan terjadi setelah Alden mabuk. Alden akan kembali membuat keributan. Baru saja Alden sembuh dari lebam-lebam dan kali ini entah dia akan terluka di bagian mana lagi.
"Den, lo pulang aja ya.. Gue anter lo pulang." Milka menawarkan diri sebelum terjadi sesuatu pada Alden.
"Minggir lah, Mil." Alden menghempaskan tangan Milka yang menyentuh pundaknya.
"Cepat, katanya lo suruh istri lo pulang. Lo juga harus pulang." Milka kembali menarik tangan Alden. Dia juga mengalungkan tangan Alden ke pundaknya.
"Mil, gue ga mau pulang." ucap Alden dengan vokal yang tidak jelas.
Milka ikut sempoyongan karena badan Alden terlalu besar. Dia sampai menabrak kumpulan anak muda yang sedang menikmati musik.
"Maaf.. maaf.." Milka meminta maaf pada orang yang kesal padanya.
"Heh, kalau jalan pake mata!" bentak Alden. Dia sudah bersiap menghajar salah satu orang di situ. Tapi, Milka menahannya.
"Alden, lo mabuk?" seorang wanita bertubuh ramping menghampiri Milka dan Alden.
"Anda kenal Alden?" tanya Milka yang sudah mulai ngos-ngos an.
"Gue temen istri dia." ucap wanita yang adalah Zoe. "Biar gue bantu anter."
Zoe merangkul di bagian kiri, sedangkan Milka di bagian kanan. Dan karena bantuan Zoe, Milka jadi lebih mudah membawa Alden.
__ADS_1
*
*
*
Tin.. Tin..
Valen segera membuka pintu begitu mendengar klakson mobil. Dia terkejut ketika Zoe dan Milka membawa Alden di sisi kanan dan kirinya.
"Valen, dia mabuk." Kata Zoe memberi penjelasan.
Valen mengeraskan rahangnya. Apalagi Alden begitu dekat dengan mereka berdua. Alden memandang bergantian keduanya sambil tertawa kecil.
"Sayang, kamu cantik sekali." ucapnya pada Milka.
Milka yang tidak enak pada Alden segera menyikut ulu hati Alden. "Gue bukan istri lo."
"Val, menyingkir. Biar kami bawa dia ke kamar kalian." teriak Zoe yang sudah tidak tahan menopang Alden.
Valen memberi jalan meskipun saat ini pikirannya bertanya-tanya kenapa Alden sampai harus dibawa oleh 2 orang wanita sekaligus.
"Suami lo berat banget sih. Makan apa dia?" omel Zoe.
"Kenapa dia?" tanya Valen pada 2 wanita yang tengah mengambil nafas secara bersamaan.
"Dia minum terlalu banyak. Mungkin sedang banyak pikiran." jawab Milka dengan bahasa yang lebih luas. Dia tidak mungkin bilang kalau semua gara-gara Valen jalan dengan laki-laki lain.
"Thanks. Alden biar aku yang urus." Valen memberi kode supaya keduanya pergi.
Zoe lebih dulu keluar, disusul Milka. Mereka sudah melihat aura kemarahan dari wajah Valen, jadi mereka tidak akan lebih lama disitu.
Kini tinggal Alden yang masih tertidur di ranjang dan juga Valen yang bercak pinggang.
"Alden.. bangun." Valen menarik kedua tangan Alden sampai dia terduduk di ranjang.
"Kenapa lo pulang?" "Gue kira lo ga pulang." Alden mengerjapkan matanya ketika melihat wajah Valen. Dia memastikan apakah itu betul Valen atau bukan.
"Den, jangan mabuk seperti ini. Kalau ada masalah, bicarakan semua baik-baik." kata Valen sedih. Dia mencoba membuka kaos Alden yang sudah sangat bau alkohol.
__ADS_1
Dengan susah payah akhirnya Valen berhasil membuka kaos Alden. Tapi, kepala Alden jadi pusing. Dan...
'Hoek'
"Aldeeeeen!" teriak Valen nyaring. Jelas saja Valen berteriak karena Alden mengeluarkan jackpot tepat di depannya. Piyama Valen sampai terkena muntahan dari Alden.
Valen mendorong tubuh Alden supaya pria itu tiduran lagi. Sementara itu Valen pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Rasanya Valen ingin menangis. Seumur hidupnya, Valen baru pernah mendapatkan jackpot seperti ini. Dan Valen merasakan bau jackpot nya tidak hilang-hilang meski sudah digosok beberapa kali.
"Sabar Valen.." ucapnya pada diri sendiri.
Valen pun keluar setelah 1 jam di kamar mandi. Untung saja ranjang dan lantai kamar mereka tidak terkena muntahan Alden.
Sekarang, yang harus Valen hadapi adalah Alden Sebastian. Pria itu mengambil 3/4 ranjang, membuat Valen bingung harus tidur di mana.
"Bagus sekali. Istrimu membantu mencari uang, kamu malah mabuk-mabukan." kata Valen sambil memandangi suaminya.
Valen membenarkan posisi tidur Alden. Setelah itu Valen mengambil bantal dan selimutnya, lalu pergi keluar.
Sofa adalah pilihan yang terbaik. Dia tidak ingin membangunkan Alden, ataupun mencium badannya yang bau alkohol.
Sembari menunggu mengantuk, Valen mengecek media sosial dan pesan WA nya. Ada cukup banyak pelanggan yang mencari Valen. Seandainya lisensi nya tidak di cabut oleh Bram, pasti Valen akan membuka klinik yang baru.
"Jason?" Valen membuka pesan paling atas.
Ini nomerku, Val. Apakah kamu sudah sampai di rumah? Apakah pacarmu marah karena kamu makan denganku?
Valen mengetikkan sesuatu untuk membalas Jason.
Oke, aku save ya.. Aku sudah sampai di rumah dengan selamat.
Begitu mengirimnya, pesan Valen langsung centang biru tanda Jason sangat gercep membaca pesannya.
Baguslah. Kapan kita bisa bertemu lagi?
Sebuah pertanyaan itu membuat Valen tertawa. Apa yang akan Jason lakukan jika mengetahui semua tentang Valen?
Valen tidak membalas dan meletakkan ponselnya di meja. Dia tidak akan mengambil pusing soal Jason karena Valen tidak punya perasaan apapun padanya. Yang terpenting sekarang adalah Alden. Pria itu besok pasti akan menginterogasi Valen habis-habisan.
__ADS_1