Valen For You

Valen For You
Anak perempuan


__ADS_3

"Valeeen!" jantung Alden hampir copot saat menemukan Valen tergeletak dengan penuh darah mengalir di kakinya.


Alden langsung menggendong Valen dan membawanya ke mobil. Dia begitu panik sampai-sampai tidak menggunakan alas kaki.


Suster yang terbangun karena teriakan Alden dengan sigap mengikuti di belakang Alden sambil menelepon rumah sakit untuk mempersiapkan operasi Valen.


Setelah Valen masuk di belakang bersama Suster, Alden langsung melesat dengan cepat. Dia sampai harus membunyikan klakson sepanjang jalan supaya kendaran lain menyingkir.


Petugas patroli yang melihat ulah Alden mengira Alden mengendarai sambil mabuk. Mereka segera mengikuti Alden untuk memeriksanya. Tapi ketika arah mobil Alden menuju ke arah rumah sakit, mereka segera paham dan petugas mengambil jalan lebih dulu sehingga kendaraan lain bisa menyingkir.


Alden bisa mencapai rumah sakit dalam waktu 10 menit berkat bantuan dari petugas. Begitu mobil Alden berhenti, beberapa perawat mendekat dan langsung melaksanakan penanganan. Mereka memakaikan alat oksigen pada Valen sembari mendorong ranjang ke ruang ICU.


Dokter menahan Alden untuk masuk. Dia tetap harus menunggu Valen di depan.


"Kami akan melakukan penanganan, tapi anda harus lengkapi suratnya."


Dokter itu masuk ke ruang ICU, menyisakan Alden dan salah seorang suster dari rumah sakit. Suster itu memberikan pada Alden dokumen yang perlu Alden tanda tangani.


Alden tidak fokus untuk membaca saat ini. Jadi, suster Valen menjelaskan tentang form nya pada Alden.


"Berapa persen kemungkinan Valen selamat?" tanya Alden dengan suara parau.


Suster enggan menjawab. Dia tidak tau apa yang akan terjadi di dalam. Apakah semua bisa keluar dengan selamat atau salah satunya yang akan selamat?


"Dokter pasti akan berusaha yang terbaik. Anda juga merupakan anak pemilik rumah sakit ini, jadi mereka pasti tidak ingin mengecewakan anda." Suster dari rumah sakit itu mencoba memberikan sugesti yang baik untuk Alden.

__ADS_1


Akhirnya Alden menandatangi surat pernyataan itu. Suster segera kembali masuk ke IGD, meninggalkan Alden yang sudah seperti orang yang tidak punya nyawa. Ya, Alden sangat lemas, shock, dan takut. Seumur hidupnya tidak ada yang bisa membuat Alden menjadi tidak berdaya seperti ini. Apalagi saat ini Alden sendirian. Tidak ada keluarga atau bahkan teman yang mendukungnya.


*


*


*


Bram dan Ester berlari sepanjang koridor rumah sakit. Mereka baru berhenti ketika melihat Alden sedang duduk sambil menerawang. Bram heran kenapa Alden ada di sini? Dengan sekali gerakan, Bram sudah mencengkram kerah baju Alden lalu mengangkatnya hingga pria itu mau tidak mau berdiri.


"Kamu apakan Valen sampai dia seperti ini, hah?!" bentak Bram.


Alden tidak melawan atau menjawab.


Bram akhirnya menengok pada suster Valen yang berdiri di belakang Alden.


"Tadi saya pergi sebentar, dan waktu kembali, Tuan Alden sudah ada di dalam. Saya minta maaf karena sudah bohong pada Tuan."


"Beraninya kamu." ucap Bram geram.


"Saya akan menyerah." kata Alden tiba-tiba. "Jika Valen dan anaknya selamat, saya akan mengikuti apa kemauan anda."


Bram melepaskan Alden dengan kasar. Ucapan Alden membuatnya sadar jika Valen saat ini berada dalam fase hidup dan mati.


"Sudah berapa lama operasinya?" kali ini suara Bram sudah lebih tenang.

__ADS_1


"Sudah 1 jam." jawab Suster yang canggung dengan situasi ini.


"Sayang, Valen akan selamat kan?" sela Ester di tengah tangisannya. Bram memeluk istrinya dengan erat. Semua yang berada di situ tidak tau apa yang akan terjadi. Mereka harus menunggu sambil berharap semua baik-baik saja.


Tak lama, terdengar suara tangisan bayi dari dalam. Alden berdiri dengan terperangah. Anaknya sudah lahir. Anaknya selamat. Tapi, bagaimana dengan Valen?


Pintu ruangan terbuka. Dokter keluar dengan wajah berkeringat. Bram, Ester dan Alden langsung mengerubungi dokter itu untuk menanyakan Valen dan bayinya.


"Bagaimana dengan Valen?"


"Apa anaknya lahir dengan selamat?"


"Istriku selamat kan?"


Semua mengajukan pertanyaan pada Dokter.


"Tenang, Tuan, Nyonya. Semua selamat. Bayinya lahir dengan sehat, tapi Nyonya Valen belum 100 persen pulih dan masih sangat lemah."


"Syukurlah." Ester dan Bram bisa bernafas lega.


"Anakku perempuan atau laki-laki?" tanya Alden yang kini tengah menangis tanpa suara. Dia sama sekali tidak pernah menemani Valen USG seperti kebanyakan suami lainnya. Ini semua karena banyaknya masalah sejak awal pernikahan mereka.


"Dia anak perempuan yang sangat kuat dan cantik seperti ibunya." Dokter tersenyum lebar supaya suasana tidak terlalu tegang.


"Kalian mau lihat bayinya atau ibunya dulu?"

__ADS_1


"Aku ingin bertemu Valen." jawab Alden cepat.


"Tunggu dulu." Bram mencegat Alden untuk masuk ke dalam. "Kamu lupa janjimu."


__ADS_2