Valen For You

Valen For You
Sulit mengontrol emosi


__ADS_3

Jam sudah menunjukan pukul 12 siang. Alden belum juga pulang ke rumah. Valen sudah mencoba menghubungi Alden, tapi hasilnya ponsel Alden tidak aktif.


'Kemana Alden?' tanya Valen dalam hati. Dia sedikit menyesal karena tidak mempercayai Alden. Tapi bukankah wajar jika istri cemburu pada suaminya?


'Ponsel Valen berdering. Valen dengan malas mengangkat telepon dari sohibnya.


"Beb, lo di rumah ga sih?"


"Iya, kenapa?"


"Gue ketok dari tadi gak ada yang buka pintunya." omel Zoe.


Valen berdiri dari ranjang. Dia dengan malas membuka pintu depan. Benar saja, Zoe sudah berada di depan pintu sambil bercak pinggang. Tapi begitu melihat Valen, Zoe langsung kembali ceria. Dia memeluk Valen dengan erat sambil cipika cipiki.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Valen yang sebenarnya enggan mempersilahkan Zoe masuk.


"Gue kangen sama lo, Beb. Lo kok ga dateng kumpul sih?"


"Kan Alden bilang kalau gue ga boleh berkumpul sama lo lo semua."


Zoe masuk tanpa di persilahkan. Dia merebahkan badan di sofa ruang tamu milik Valen yang sedikit kusam dan berdebu.


"Jangan ngehina gue." ucap Valen yang melihat ekspresi tidak suka dari Zoe.


"Siapa yang mau ngehina lo, sih?" "Tapi, kok lo bisa tahan di tempat kayak gini?" meskipun diucapkan dengan nada biasa, tapi tetap saja kata-kata Zoe menusuk hati Valen.


"Terpaksa Zo.. Gimana lagi." ucap Valen pasrah.


"Lo baik-baik aja kan sama Alden?"


Valen tidak menjawab dan artinya itu tidak baik-baik saja. Zoe menodong Valen supaya wanita itu bercerita padanya tanpa ada yang ditutupi.


Valen akhirnya jadi menceritakan semua kejadian kemarin dari A sampai Z pada Zoe.

__ADS_1


"Jadi, kamu cemburu pada Alden?" ucap Zoe dengan nada terkejut.


"Club itu banyak sekali wanita cantik dan seksi."


"Val,, tapi Alden benar. Siapa yang mau dengan pria miskin seperti dia?"


Valen menatap Zoe sinis. Kali ini Zoe benar-benar menyindirnya dengan telak.


"Sorry, beb. Tapi coba berpikirlah jernih." saran Zoe.


"Hmmm.." jawab Valen singkat. Moodnya hilang karena Zoe menasehatinya.


"Tenang saja, Beb. Apa perlu gue awasi Alden tiap hari di club?" Zoe menawarkan diri pada Valen.


"Gak usah deh. Nanti dia makin marah." Valen tersenyum kecut. Zoe juga mencurigakan. Gadis itu selalu saja bergonta ganti pacar. Bukan tidak mungkin jika Zoe tertarik dengan Alden juga.


'Ceklek' Alden pulang dengan wajah bengkak. Valen terperangah. Apa dia habis berantem dengan pria kemarin?


Alden hanya melewati kedua wanita itu tanpa menyapa mereka. Dia langsung pergi ke kamar untuk merebahkan badan yang hampir remuk.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Valen sembari memegang wajah Alden.


"Minggir." Alden menepis tangan Valen. Dia membuka pakaiannya perlahan.


Seluruh tubuh Alden juga ternyata biru-biru bahkan ada yang berwarna ungu kehitaman.


"Astaga, Den. Siapa yang memukul kamu seperti ini?" Valen menutup mulut dengan kedua tangannya.


"Ini karena kamu tidak pernah mendengarkan aku." ucap Alden sinis.


"Den,, aku kan sudah minta maaf." Valen mendekati Alden.


"Percuma, Val. Seharusnya dari awal kamu bilang saja kalau tidak mau menikah denganku."

__ADS_1


"Aku tidak bilang seperti itu, Den."


"Tapi kamu menunjukan seperti itu! Kamu malu memberitahu temanmu kalau kita sudah menikah. Kamu selalu ikuti aku dan curiga padaku! Kalau seperti ini terus, aku bisa stress!"


"Den, kenapa kamu malah marah-marah?" Valen cukup kaget karena suara Alden yang tidak enak di dengar dan seolah ini semua salah Valen.


"Aku mau tidur. Jangan ganggu aku."


Alden langsung merebahkan diri di ranjang. Dia membelakangi Valen supaya dia tidak semakin emosi pada Valen yang masih diam terpaku di situ.


"Oke, aku tidak akan mengganggu kamu lagi."


'BRAK' Valen membanting pintu kamar. Dia kembali pada Zoe yang pasti mendengarkan pertengkaran mereka.


"Beb, sabar ya." Zoe memeluk Valen sambil mengusap punggungnya. Jujur Zoe terkejut karena mendengar Valen dan Alden sudah menikah. Dia hanya berpikir jika mereka pacaran dan belum sampai menikah. Melihat seorang Valencia seperti ini, membuat Zoe prihatin.


"Dia bentak gue, Zo." ucap Valen lirih. .


"Dia pasti sedang emosi, nanti juga akan baik lagi." ucap Zoe menenangkan Valen. Padahal Zoe tidak yakin jika tipe seperti Alden akan berubah. Sejak kecil, emosi Alden memang suka meledak-ledak.


"Aku pikir kalau kita menikah, masalah akan selesai. Tapi sekarang justru tambah banyak." sesal Valen.


"Val, apa kamu mau menginap di apartemenku?" Zoe menawarkan bantuan untuk Valen.


"Enggak perlu, Zo."


"Tapi, kamu sedang stress. Dan itu gak baik untuk kandunganmu."


"Ini pilihan hidupku, Zo. Jadi aku harus hadapi ini dengan Alden.. yah, meskipun aku tidak tau sampai kapan aku bisa bertahan."


"Lo jangan sungkan ya, Beb kalau butuh bantuan." Zoe menggenggam tangan Valen untuk mendukung sohibnya itu.


Valen mengangguk lemah.

__ADS_1


Sementara itu, tanpa mereka ketahui, Alden mendengarkan dengan jelas percakapan mereka dari balik pintu. Kelemahan Alden memang sulit mengontrol emosi. Dia selalu lepas kendali jika dia stress. Valen benar. Alden juga mengira keadaan akan membaik ketika mereka akan menikah. Tapi, ternyata ini jauh lebih sulit dari yang Alden bayangkan. Masalah demi masalah datang. Semalam saja, Alden harus menghadapi orang suruhan Bram yang masih belum terima karena Alden tidak bisa menghidupi Valen dengan baik dan layak. Alden sengaja tidak bicara ini pada Valen untuk tidak menambah beban pikirannya. Tapi, akibatnya dia malah meluapkan emosi pada Valen.


'Kamu memang bodoh, Alden.'


__ADS_2