
Alden melepaskan Milka begitu sampai di parkiran mobil.
"Lo balik duluan aja, Mil. Gue mau cari angin dulu." Alden melemparkan kunci mobilnya pada Milka, lalu dia pergi begitu saja tanpa Milka bisa protes lagi.
Alden berjalan ke taman yang tidak jauh dari hotel. Pikirannya saat ini sedang kacau. Dan Alden tidak mau berinteraksi dengan orang, karena dia takut akan meledak lagi.
Alden hanya duduk sambil menatap orang-orang yang lewat di situ. Dia melihat sepasang suami istri yang berjalan bersama dengan anak mereka yang baru berumur 3 tahun. Mereka tampak sangat bahagia. Si bapak menggandeng anaknya, sedangkan si ibu menyuapi anak itu es krim.
Keluarga bahagia. Alden sendiri tidak pernah tau apa artinya sebuah keluarga. Dia hanya mengerti jika ayah kandungnya lari dari tanggung jawab. Ibu Alden, Mira harus berjuang sendiri sampai akhirnya dia menjadi pembantu di Keluarga Sebastian. Mira setuju supaya Alden diangkat menjadi anaknya. Tapi sayang, kebersamaan mereka hanya sebentar, karena Mira akhirnya meninggal. Jika saja Ayah Alden mau bertanggung jawab, pasti Alden bisa merasakan seperti apa sebuah keluarga. Alden juga bisa merasakan apa yang dirasakan anak kecil yang berada di depannya itu.
Dan untuk alasan itulah, Alden mau bertanggung jawab pada Valen. Dia tidak ingin apa yang terjadi pada dirinya terulang pada anaknya kelak. Ya, Alden akan minta maaf pada Valen. Dia harus berjuang memperbaiki rumah tangganya demi sang anak.
"Maaf, boleh duduk di sini?" seorang pria tua mengejutkan Alden. Dia tersenyum pada Alden dengan sopan.
"Ya.. duduk saja, Om." Alden menggeser badannya supaya bangku itu cukup untuk diduduki 2 orang.
"Kenapa duduk sendirian di sini, anak muda?" tanya pria itu penasaran.
"Cari angin saja, Om."
Pria itu menangguk dan diam saja. Dia juga melihat pemandangan di depannya yang terlihat begitu menyejukkan hati.
"Bukankah mereka terlihat begitu harmonis?" tanya Pria itu pada Alden.
"Ya, terlihat seperti itu." jawab Alden singkat.
__ADS_1
"Om jadi ingat anak laki-laki om."
"Kenapa dia?" Alden yang biasanya tidak pernah kepo urusan orang, kini mulai tertarik dengan orang di sebelahnya.
"Om telah melakukan kesalahan besar. Om sudah meninggalkan pacar Om yang sedang hamil. Dan dia membawa pergi anak Om entah kemana."
Alden terkejut mendengar pengakuan jujur pria itu.
"Kenapa Om tidak mau bertanggung jawab? Om tidak gentle sekali."
"Iya.Om memang pengecut. Waktu itu keluarga Om mendesak supaya Om menikah dengan wanita pilihan mereka. Pacar Om tau dan akhirnya dia kabur." Pria itu menerawang saat mengingat masa lalunya yang kelam.
"Sekarang, apa Om menyesal?"
Alden tidak menanggapi pria itu lagi. Keputusannya untuk bertanggung jawab memang sudah benar. Meskipun pernikahan dia dengan Valen sedang tidak baik-baik saja dan jauh dari kata bahagia, tapi Alden bersyukur karena dia tidak melakukan kesalahan yang akhirnya nanti berujung dengan penyesalan.
"Om permisi dulu." Pria itu bangun. Tapi, kepalanya terasa pusing. Pria itu akan terjatuh jika Alden tidak dengan sigap menolongnya.
"Om dengan siapa ke sini?" tanya Alden yang kini sudah merangkul kan lengan pria itu ke pundaknya.
"Sendirian."
"Saya antar Om pulang ya?" tawar Alden.
Pria itu menatap Alden cukup lama. Dia lalu memberikan kunci mobilnya pada Alden, tanda dia setuju untuk di antar pulang.
__ADS_1
Di taman itu hanya ada satu mobil Audi warna hitam. Alden tanpa banyak bertanya lagi segera memapah pria tua itu ke mobilnya.
"Om sudah tua, kenapa jalan-jalan sendiri?" tanya Alden to the point.
Pria tua itu terkekeh mendengar ucapan blak-blakan dari Alden.
"Om bosan di rumah saja. Om hanya ingin jalan-jalan."
Setelah pria itu masuk, Alden berputar untuk masuk ke mobil juga.
Alden mulai menjalankan mobilnya. Dia berulang kali menengok ke arah kursi penumpang untuk memastikan bahwa pria tua itu baik-baik saja.
"Siapa namamu?" tanya pria tua itu.
"Alden Sebastian."
"Kamu anak dari Dimas atau Ben?"
"Kenapa Om bisa tau?" Alden bukannya menjawab malah balik bertanya. Jelas orang di samping Alden bukan orang sembarangan karena dia tau keluarga Sebastian.
"Ya, mereka kerabat Om."
"Kalau Om sendiri? Siapa nama Om?"
"Saya, Billy Stevenson. Panggil saja Om Steve."
__ADS_1