Valen For You

Valen For You
Pergi


__ADS_3

Alden buru-buru meninggalkan rumah Steve meskipun acara belum selesai. Dia sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk menemui Valen. Alden tidak peduli jika Steve memarahi atau memecatnya. Yang terpenting sekarang adalah memastikan Valen ada di rumah.


Alden mengendarai mobilnya di atas rata-rata. Dia bisa sampai di rumah dalam waktu 15 menit saja. Rumah Alden tampak gelap. Lampu depan belum di nyalakan dan gorden nya belum di tutup. Firasat Alden semakin kuat jika terjadi sesuatu dengan Valen.


"Valen!" teriak Alden begitu pintu terbuka.


Tidak ada jawaban. Alden melihat piring yang belum di cuci oleh Valen. Dia lalu langsung memeriksa seluruh ruangan. Kamar mandi, kamar, gudang, dapur, halaman belakang. Tapi, hasilnya nihil. Valen memang tidak ada.


"Valeeeen.." panggil Alden lagi. Dia bergerak lagi untuk pergi ke kamar. Alden membuka lemari dengan niat untuk melihat apakah barang berharganya dicuri. Jika iya, berarti Valen diculik.


Ekspresi Alden berubah seketika saat melihat lemari pakaian yang sudah kosong. Apa maksudnya semua ini?


Alden terduduk lemas di ranjang. Dia berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Kalau diculik, tidak mungkin penculik itu membawa serta pakaian Valen. Sudah pasti wanita itu yang memasukkan bajunya sendiri, lalu pergi dari rumah. Tapi, kenapa dia pergi? Pikiran Alden begitu kacau. Dia mengingat kembali kesalahan apa yang dia lakukan pada Valen sampai Valen bisa pergi tanpa kabar seperti ini.


"Jason!" satu nama itu mendadak keluar dari mulut Alden.


Alden segera menghubungi Jason. Satu kali, dua kali, telepon Alden tidak diangkat juga. Tapi, Alden tidak menyerah. Dia menelepon puluhan kali sampai akhirnya Jason mengangkat telepon Alden.


"Jason, kemana kamu bawa istriku?" bentak Alden.

__ADS_1


"Apa maksud kamu, Den?"


"Jangan pura-pura bodoh." "Cepat katakan!"


"Kenapa kamu menuduh tanpa bukti seperti ini, Den?" ucap Jason yang kurang suka dengan sikap Alden.


"Aku akan cari Valen ke rumah mu sekarang juga."


"Tunggu dulu, Den." "Bagaimana jika Valen sendiri yang ingin pergi dari mu?"


Pertanyaan ini membuat darah Alden mendidih. Untung saja mereka hanya tersambung dalam sambungan telepon. Jika tidak, mungkin Jason sudah jadi perkedel oleh Alden.


"Tidak mungkin Valen pergi dariku." ucap Alden yakin.


"Jason, jangan mengalihkan topik. Aku hanya tanya di mana Valen." Alden menekankan kata-katanya.


"Aku tidak akan beritahu kamu." ucap Jason dengan tegas.


"Jadi, kamu mengakui jika kamu yang membawa Valen pergi?"

__ADS_1


"Itu tidak 100 persen benar dan tidak juga salah."


"Kurang ajar." Alden sudah tidak bisa lagi meneruskan percakapan dengan Jason.


Dia mengambil kunci mobilnya untuk menuju ke tempat kediaman Jason.


*


*


*


Den, aku pergi. Mungkin kamu bingung, tapi aku ingin berpisah sementara denganmu.


Alden mengerem mobilnya dengan mendadak. Dia membaca berulang kali pesan yang dikirimkan oleh Valen. Saat ini Alden hanya dapat membaca pesan dari Valen karena wanita itu langsung menonaktifkan ponselnya.


"Val, kamu kenapa?" "Kenapa kamu pergi tanpa penjelasan seperti ini?"


'Aaaaargh' Alden memukul setir mobilnya. Badai kehidupannya dengan Valen seolah tak pernah habis. Jika seperti ini, Alden harus bagaimana? Dia tidak mungkin meminta Sam untuk melacak Valen. Sam pasti tidak akan mau membantu Alden.

__ADS_1


"Om Bram." Alden kembali teringat satu nama yang pasti tau keberadaan Valen dan semua cerita ini.


Alden kembali melajukan mobilnya, dan kali ini dia berbalik arah. Dia ingin segera menemui mertuanya meskipun nanti Bram akan memukul atau mengusirnya.


__ADS_2