
Bram sudah menduga jika Alden akan datang ke rumah mereka. Begitu datang, Alden langsung berteriak-teriak mencari Valen. Bram dan Ester duduk di sofa dengan tenang, sementara Alden menginspeksi seluruh ruangan mencari Valen.
Ya, sekeras apapun Alden memanggil Valen, dia tidak akan menemukan Valen. Bram sudah membawa Valen ke apartemen milik keluarga mereka. Valen akan lebih aman di situ.
"Cepat pergi." usir Bram ketika Alden kembali ke ruang tengah dimana mereka sedang duduk.
Alden hanya mempunyai 2 pilihan. Dia harus menurunkan harga diri serendah-rendahnya, atau justru sebaliknya, Alden akan mengancam Bram dan tidak akan menganggap Bram sebagai mertuanya lagi.
"Tunggu apalagi."
"Om Bram." Alden duduk bersimpuh di depan Bram dengan pandangan nanar.
"Alden." Ester hendak mengangkat Alden supaya dia bangun, tapi Bram melarangnya.
"Kesalahan terbesar yang pernah saya buat selama 60 tahun ini adalah membiarkan kamu menikah dengan Valen." ucap Bram sinis.
Alden tidak bergeming dari tempatnya dan tetap berlutut di depan Bram.
"Kesialan demi kesialan datang setelah kamu menikah dengan Valen." "Jangan pikir saya tidak tau kehidupan kalian selama ini." "Saya sudah peringatkan kamu satu kali. Tapi, kamu tetap tidak bisa mengurus Valen dengan baik." Bram mulai mengeluarkan unek-uneknya selama ini. "Sekarang, Valen sudah pergi. Saya harusnya bertanya pada kamu, bukan sebaliknya." "Kenapa Valen bisa pergi?"
"Bram, kontrol emosi mu." ingat Ester. Dia tidak mau suaminya juga ikut sakit karena tekanan darah tinggi seperti Ayah angkat Alden yang sekarang harus duduk di kursi roda.
"Om, Alden minta maaf." "Om benar. Alden tidak bisa mengurus Valen dengan baik." ucap Alden dengan suara serak. Dia harus menahan supaya air matanya tidak jatuh di depan mertuanya. "Ijinkan Alden untuk bertemu Valen, Om. Aku mohon."
"Kamu lihat sendiri kalau Valen tidak ada di sini." Bram melengos seolah tidak mau tau.
__ADS_1
Alden tau jika mertuanya itu bohong. Jika memang mereka belum tau tentang Valen, mereka pasti panik waktu Alden bilang Valen kabur.
"Om, tolong sekali ini saja. Alden ingin dengar dari mulut Valen sendiri." "Jika memang dia yang ingin berpisah, Alden akan mundur." Alden sudah tidak sanggup lagi untuk mengatakan hal itu. Kehilangan Valen sama saja seperti kehilangan separuh hatinya. Hanya Valen seorang lah yang mampu membuat Alden sampai rela berlutut di depan orang lain.
"Terlambat." "Seharusnya kamu berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan perbuatan itu." sindir Bram.
"Alden akan tetap datang ke sini setiap hari sampai Om dan Tante mau beritahu Alden di mana Valen berada." kata Alden sambil berdiri. Dia membungkukkan badan dengan penuh hormat sebelum akhirnya pergi dari kediaman keluarga Bramantyo.
*
*
*
"Sedikit pusing, tapi Valen sudah minum obat dari perawat."
"Kamu tidak boleh banyak pikiran, Val. Dengarkan musik instrumen dan juga nonton film komedi saja." Ester menimpali percakapan suaminya.
"Iya, Mom. Valen sedang berusaha untuk tenang."
Hening sesaat.
"Apakah Alden mencari Valen, Mom?" tanya Valen lirih.
Ester memandang Bram. Bram sebenarnya memberikan kode supaya Ester diam. Tapi, Ester tidak mau mengikuti kebohongan suaminya itu. Dia takut Valen makin down jika berpikir bahwa Alden tidak peduli padanya.
__ADS_1
"Ya, dia datang. Tapi tenang saja, dia sudah pergi."
"Thanks, Dad, Mom."
"Kamu tidak perlu pikirkan Alden." "Fokus saja dengan kesehatanmu dan anakmu." "Setelah itu, kamu baru putuskan apa yang akan kamu lakukan dengan Alden." saran Ester.
"Ya, Mom. Akan lebih baik seperti ini dulu." jawab Valen lesu.
"Oke, istirahat saja. Besok kami akan ke sana pagi-pagi."
Bram menutup teleponnya. Dia mengusap wajahnya dengan kasar. Bram sangat ingin berteriak sekeras-kerasnya. Dia masih bingung dengan situasi ini. Apakah Valen bisa mempertahankan dirinya dan bayinya sekaligus? Apakah keputusan untuk memisahkan Valen dengan Alden sudah benar? Tapi, semua bisa terjadi karena Alden.
"Bram, sebaiknya kamu juga istirahat." Ester yang paham dengan suaminya, membantu Bram untuk pergi ke ranjang. Ini hari yang sangat panjang untuk mereka. Rencana mereka berantakan dan berubah 180° karena musibah yang dialami Valen.
"Kalau terjadi sesuatu pada Valen dan cucuku, sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan Alden." Bram mengepalkan kedua tangannya.
"Sudahlah. Jangan pikirkan Alden terus." Kata Ester yang berusaha menenangkan suaminya. "Kita pasti menemukan solusi yang terbaik."
"Semoga kalau Valen selamat nanti, dia bisa sadar dan membuat keputusan yang tepat."
"Apakah kamu masih ingin jika anak kita bercerai dengan Alden?" tanya Ester penasaran. Jujur saja, Ester mulai melunak pada Alden. Tadi ketika melihat ekspresi kacau pria itu, Ester yakin kalau Alden mencintai Valen 100%. Justru yang Ester takutkan, apakah perasaan Alden akan berubah setelah tau istrinya sedang sakit?
"Ya. Sepertinya Valen lebih baik merawat anaknya sendiri."
Ester tidak bisa berkata apapun lagi. Suaminya memang punya pendirian yang teguh. Dia juga sangat sensitif dengan pria yang bernama Alden. Jadi, Ester tidak akan memperpanjang ini.
__ADS_1