
Valen mengangkat telepon milik Alden. Ada hal yang memang ingin Valen bicarakan dengan Zoe.
"Halo, Den. Kamu udah ketemu Valen? Gimana dia? Kenapa dia kabur?" cerocos Zoe begitu telepon di angkat. Dia tidak tau sama sekali jika yang mengangkat adalah Valen sendiri.
"Aku belum sehat Zo. Tapi aku sudah bertemu Alden." jawab Valen dengan lirih.
"Valen? Astaga Beb.. Lo baik aja kan? Gue kangen sama lo." teriak Zoe histeris. "Sorry Val, gue telepon laki lo. Gue cuma pastikan dia ketemu sama lo. Gak ada maksud lain." lanjut Zoe sebelum Valen salah paham. Akan sangat repot jika mereka berdua marahan di saat Valen sudah hamil besar.
"Tunggu Zo.. gue mau sampein sesuatu sama lo." Valen menyingkirkan tangan Alden perlahan. Dia harus pindah tempat agar Alden tidak mendengar percakapan mereka. Tempat yang paling aman dari gangguan adalah toilet. Jadi, Valen bicara dengan Zoe di toilet.
"Val, ada apa sih? Jangan bikin takut gue deh." "Gue serius gak ada hubungan apa-apa sama Alden." ucap Zoe ketakutan.
"Tapi, lo suka sama Alden kan? Gue tau Zo.. kita udah temenan lama. Gue liat video lo sama Alden makan berdua dan di sana gua liat lo gak mau berpaling dari Alden." Valen mengeluarkan unek-uneknya dari video yang dia lihat sebulan lalu.
"Val.. itu cuma.."
"No, Zoe. Jangan bicara apapun. Gue cuma minta jawaban iya, atau enggak." paksa Valen.
Zoe terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab iya dengan berat hati.
__ADS_1
"Kalau gitu, jangan tanggung-tanggung Zo." Kata Valen cepat. "Gue mau lo sama Alden."
"Valen! Ini gak lucu sama sekali. Jangan bercanda." nada suara Zoe naik 3 oktaf.
Giliran Valen yang terdiam mendengarkan teriakan Zoe. Dia mencoba mengontrol emosinya supaya tidak menangis.
"Gue serius Zo. Gue titip Alden."
"Val, lo mau ke mana? Apa Alden melakukan sesuatu yang buruk sama lo?" suara Zoe melembut lagi. Dia tau saat ini Valen sedang sedih. Itu terdengar jelas dari suaranya yang gemetaran.
"Zo.. gue takut gak selamat waktu lahiran baby ini. " akhirnya Valen mengaku. Tangisnya juga langsung pecah tak terbendung lagi. "Gue harus pastikan Alden bisa bahagia kalau gue sampai gak ada." "Gue mohon, lo rawat anak gue sama Alden dengan baik." "Gue percaya sama lo karena lo sohib gue."
Valen menjawab dengan anggukan karena dia tidak sanggup berkata-kata lagi.
"Gue ikut prihatin atas apa yang terjadi sama lo." "Tapi, gue gak bisa penuhi permintaan konyol lo itu."
"Please, Zo.. aku mohon."
"No, Val. Sampai kapanpun aku gak akan pernah bisa dengan Alden."
__ADS_1
"Kenapa, Zo?" "Dad mu sangat baik dengan Alden, tidak seperti Daddy ku." "Aku yakin hidup Alden akan lebih bahagia." ungkap Valen dengan terisak-isak. Dia sudah sangat sulit untuk bicara. Hidungnya mampet dan tenggorokannya tercekat.
"Justru itu masalahnya." "Dad ku tidak mungkin sebaik itu dengan orang asing." suara Zoe jauh lebih tenang.
"Apa maksudnya?"
"Billy Stevnson itu adalah ayah kandung Alden dan Zoe Stevenson adik tirinya."
"Zo, tapi bagaimana mungkin?" kini pikiran Valen jadi buyar. Perkataan Zoe ini bagaikan sambaran petir untuknya. Fakta macam apa yang Zoe ungkapkan ini? Alden anak Steve? Zoe itu adik Alden?"
"Aku juga kaget Val. Tapi faktanya begitu. Om Bram tidak perlu khawatir lagi karena menantunya orang yang kaya. Jauh lebih kaya darinya."
"Apa Alden udah tau ini?"
"No. Dad melarangku bilang padanya. Dia ingin masalahmu dan Alden selesai lebih dulu."
Valen terduduk di closet. Dia berpegangan pada tembok karena kepalanya berdenyut dengan hebat. Valen bahkan menjatuhkan ponselnya. Di tengah ketidaksadaran nya, Valen merasakan ada sesuatu yang membasahi celananya.
"Aldeeeeeeeeen.." teriak Valen sekeras mungkin. Dia melihat darah segar mengalir dari bagian intinya. Sedetik kemudian semua tampak gelap. Valen pingsan dan tidak tau apalagi yang terjadi.
__ADS_1