Valen For You

Valen For You
Melihat sesuatu dari 2 sisi


__ADS_3

Setelah makan malam dan bercerita banyak, Ben memanggil Alden secara pribadi ke ruangannya. Sedangkan Valen bersama Lidia sedang bermain bersama Alana di ruang tengah.


Alden mendorong kursi roda Ben ke ruangan pribadi Ben. Setelah posisi Ben sudah nyaman, Alden duduk di depan ayahnya.


"Alden, surat wasiat Dad masih berlaku. Kamu akan dapat separuh harta Dad." ucap Ben memulai percakapannya.


"Dad, jangan bicarakan warisan." "Alden lebih pilih Dad untuk sehat." jawab Alden tulus.


Ben tertawa. Alden begitu lucu. Jika dia mengatakan itu beberapa tahun lalu, Ben akan sangat senang. Tapi, saat ini tidak dapat dipungkiri, kesehatan Ben semakin menurun.


"Den,, ini harus Dad bicarakan, suka tidak suka." "Dad akan tetap membagi rata antara kamu dan Sam."


"Dad, Alden bukan bagian dari keluarga Sebastian. Alden ini hanya anak angkat. Dad gak perlu memberikan sebanyak itu." ucap Alden sambil memandang Ben.


"Siapa bilang kamu bukan keluarga Sebastian? Dad sudah punya surat lengkap. Jadi, sampai kapanpun kamu adalah Alden Sebastian." suara Ben agak sedikit meninggi.


"Thanks, Dad. Dad begitu baik. Alden menyesal sudah membuat Dad seperti ini." sesal Alden. Jika waktu itu dia menuruti Ben untuk fokus belajar, pasti kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi. Alden tetap bisa menikah dengan Valen dengan cara yang terhormat, Sam tidak perlu menunda pernikahannya dan tentunya Ben masih bisa berjalan.


"Ini semua bukan salahmu, Den." "Semua kejadian yang tidak terduga." "Tapi Dad senang karena kamu jadi bisa belajar banyak hal."


"Dad.. aku ingin Dad selalu sehat sampai bisa melihat Alana besar dan menikah." Alden sudah berkaca-kaca. Dia adalah bad boy tercengeng sedunia.


Ben tersenyum kecil. Dia memandang Alden dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Den, seandainya ayah kandungmu masih hidup, apa yang akan kamu lakukan? Kamu pilih Dad atau dia?" tanya Ben tiba-tiba.


"Tentu saja Dad. Kenapa aku harus memilih pria yang sudah membuang ku dan Mom Mira?"

__ADS_1


"Walaupun dia sangat menyesal dan ingin minta maaf denganmu?"


Alden merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ben tidak pernah bicara soal keluarga aslinya. Cerita Mira bahkan dia tutup rapat-rapat selama bertahun-tahun. Jadi apakah Ben tau siapa ayah kandung Alden juga?


"Aku tidak akan memaafkannya sampai kapanpun." ungkap Alden dengan suara bergetar.


Perasaannya jadi tidak enak begitu Ben menyebutkan soal masa lalunya.


"Alden, kamu harus melihat sesuatu dari 2 sisi. Kamu tidak boleh membenci orang jika belum tau cerita lengkapnya." pesan Ben. Dia menepuk pundak Alden tanpa mengalihkan pandangannya.


"Dad, bicarakan yang lain saja. Jika Dad tau sesuatu tentang pria kurang ajar itu, lebih baik Dad gak perlu beritahu Alden."


Ben mengangguk mengerti. Dia juga baru tau sebuah fakta mengejutkan soal siapa ayah kandung Alden. Sam memberitahunya sewaktu mereka berada di rumah sakit. Ben juga tidak rela jika Alden akan pergi dan memilih untuk menjalankan usaha Stevenson. Tapi Ben akan menyesal seumur hidup jika dia tidak bisa membantu Steve berbaikan dengan Alden di saat-saat kritis ayah kandung Alden itu.


"Dad, ingin istirahat. Kamu bantu Dad ke ranjang."


"Besok kita jalan-jalan sebentar di taman, Den. Biasa Sam yang lakukan itu, tapi dia pasti sedang sibuk. Apa kamu keberatan?" tanya Ben sebelum Alden keluar dari kamar.


"Alden akan temani Dad besok." jawab Alden sambil tersenyum.


Alden keluar meninggalkan Ben. Dia mengambil ponselnya untuk kembali menelepon Steve. Entah kenapa perasaan Alden tidak enak. Biasanya telepon Steve tidak aktif. Tapi kali ini terdengar dering telepon.


"Halo.."


"Zoe?" ucap Alden yang langsung mengenali suara Zoe. "Kamu di mana? Kenapa kamu menghilang dan gak bisa dihubungi?" "Mana Tuan Steve?" cecar Alden penasaran.


"Den, Satu-satu bisa gak ngomongnya?" "Aku sedang di Singapore menjaga Dad." "Dad sedang sakit." jawab Zoe lirih.

__ADS_1


"Sakit? Dia sakit apa?"


Diam. Zoe tidak menjawab. Tapi terdengar suara laki-laki yang bicara dengan Zoe di ujung sana.


"Alden, bagaimana kabarmu? Apa kamu sehat?" suara Steve terdengar tidak jelas.


"Tuan, aku sehat. Aku sudah punya anak perempuan yang cantik." "Apa anda sakit?"


"Ya,, aku sedang di rawat. Bisakah kamu pergi ke sini? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."


Giliran Alden yang diam. Steve memintanya untuk pergi menemuinya? Tapi kenapa?


"Den, sorry. No problem kalau kamu gak bisa." Zoe mengambil alih pembicaraan. "Kamu pasti sibuk, aku tutup dulu teleponnya ya."


Alden masih mendengarkan suara di ujung sana. Tampaknya Zoe buru-buru sampai lupa menekan tombol end.


"Zo, Dad harus gimana? Dad ingin katakan semuanya pada Alden..tapi Dad gak bisa.."


"Sudah, Dad. Jangan menangis lagi. Zoe akan bilang pada Alden yang sebenarnya besok pagi."


"Sebelum semua terlambat Zo.. " suara Ben semakin menghilang dan berganti dengan suara alat yang berbunyi cukup nyaring.


"Daaaad.." "Susteeeer.."


Alden memutuskan teleponnya. Dia membeku di tempat memikirkan percakapan yang baru saja dia dengar.


"Den,," panggil Valen. Dia sedang mengecek Alden yang bicara begitu lama dengan Ben. Tapi, Valen malah mendapati Alden berdiri diam di depan pintu dengan wajah pucat.

__ADS_1


"Val, aku harus ke Singapore sekarang."


__ADS_2