
Singapore
Alden berjalan cepat di koridor. Valen sampai kewalahan mengikuti suaminya itu. Ya, begitu Alden menjelaskan alasan kenapa dia mendadak mau ke Singapore, Valen memaksa untuk ikut. Dia meninggalkan Alana dengan Lidia di rumah Sebastian. Jadi, mereka pergi berdua saja untuk menemui Zoe dan Steve.
Alden membuka pintu setelah memastikan ruangannya benar.
Zoe terkejut. Dia langsung gelagapan saat melihat Alden dan Valen berdiri di depan pintu ruangan ayahnya.
Hal yang pertama Alden lihat adalah Steve yang terbaring di ranjang.
"Zooee." Valen berlari ke arah Zoe dan memeluk gadis itu. Zoe yang selama ini sendirian menjaga Steve tentu saja langsung menangis. Dia sangat butuh sebuah pelukan seperti ini.
"Val, mereka bilang Dad gak akan bertahan lama lagi." ucap Zoe dalam isak tangisnya.
"Zo, aku ikut sedih Zo." Valen juga ikut menangis karena merasakan kepedihan dan ketakutan Zoe.
"Apa yang kamu rahasiakan Zo? Apa yang ingin kamu katakan?" Alden sudah berada di samping Zoe. Dia tidak peduli dengan keadaan Zoe dan hanya penasaran pada apa yang dia dengar di telepon.
"Kak.." Zoe memandang Alden, lalu berpindah untuk memeluknya. Alden cukup terkejut saat mendapatkan pelukan dari Zoe. Dia sudah siap menyingkirkan pelukan Zoe, tapi Valen menggeleng.
"Kak, Dad sudah kritis dan dokter bilang dia gak akan selamat."
"Apa maksudmu, Zo?" "Kak? Dad?" Alden kebingungan dengan perkataan Zoe. Sebenarnya apa yang terjadi?
__ADS_1
"Billy Stevenson itu adalah ayah kandungmu, kak." jelas Zoe yang masih terisak.
"Ayah?" Seketika itu Alden merasakan kakinya lemas. Dia limbung, tapi Valen dengan sigap menangkap lengannya.
"Tunggu, kamu jangan bercanda Zo." ucap Alden yang masih tidak percaya.
"Dad gak mau kasih tau ini sama kamu karena dia takut kamu gak bisa memaafkannya dan akan membencinya."
Deg. Kali ini Alden seperti tertimpa batu besar. Dia menengok ke samping. Semua kejadian bersama Steve berputar di kepala Alden. Pertemuan pertama mereka di taman, ceritanya tentang meninggalkan pacarnya yang hamil, dan perkataan Steve pada Bram saat pertemuan terakhir mereka di kantor Bram yaitu 'tau semuanya tentang Alden.'
"Den, sejak kemarin Dad sangat ingin menelepon mu. Tapi dia gak berani.." imbuh Zoe.
Alden menggelengkan kepalanya. "Ini gak mungkin."
"Val, kamu tau?" pekik Alden yang makin terkejut.
"Sebelum melahirkan Alana, Zoe memberitahu ku." Valen tertunduk lesu.
"Kalian gila. Kenapa kalian baru bicara sekarang?" Alden mundur beberapa langkah. Dia sudah tidak bisa merasakan apapun lagi. Saat ini perasaannya sudah campur aduk. Tapi, perasaan kecewanya mendominasi. Itu terlihat dari kilatan amarah dari mata Alden.
"Kak, tolong jangan seperti ini." "Dad sangat butuh kamu." ucap Zoe lagi. "Sekarang kita gak tau berapa lama Dad bertahan."
Zoe memilih duduk di kursinya yang tadi. Selama setahun ini, dia sudah berjuang keras menjaga Steve siang malam. Dia terpaksa tidak memberitahu Alden karena Steve melarangnya.
__ADS_1
Alden mengusap wajahnya dengan kasar. Dia perlahan mendekat pada Steve.
"Ayah?" tanya Alden masih tidak percaya. Dia duduk di sebelah Zoe, tepatnya berada di depan wajah Steve. "Dad.. ini aku." suara Alden tercekat saat mengucapkan Dad. Rasanya sulit menerima fakta jika orang yang begitu baik seperti Steve adalah orang yang juga telah mencampakkannya dulu. "Dad sangat egois sekali." "Dad gak ijinkan aku untuk mengenal Dad lebih jauh."
Tuan Steve merespon dengan menggerakkan tangannya. Itu tanda jika dia mendengarkan Alden.
"Aku sangat marah, Dad. Aku merasa tidak adil karena aku harus bertemu Dad dalam keadaan seperti ini." "Sadarlah, Dad..kita belum bertengkar. Aku belum protes pada Dad karena meninggalkan Mom dan aku." "Tapi aku.." Alden berhenti sejenak. Ada banyak sekali yang ingin dia ucapkan pada Steve.
"Tapi aku akan memaafkan Dad."
'Tiiiiiiiiiiit' suara itu terdengar begitu Alden selesai mengucapkan kalimatnya.
"Daaaaaad.." seru Alden dan Zoe bersamaan. Zoe menekan tombol berulang kali untuk memanggil dokter.
Tak lama, dokter datang dengan beberapa perawat. Mereka langsung menyiapkan alat pacu jantung dan meminta Zoe, Alden dan Valen menyingkir.
Zoe berpelukan dengan Valen. Sedangkan Alden tidak berhenti menatap Steve dengan perasaan kacau.
Beberapa kali mencoba, alat EKG tidak menunjukkan perubahan. Dokter dan perawat menangguk dan memutuskan untuk tidak lagi mencoba karena Steve sudah meninggal.
"Maafkan kami, karena Tuan Billy Stevenson tidak bisa selamat." "Saya harap kalian bisa sabar." pesan Dokter pada Alden dan Zoe.
Alden segera menghambur untuk memeluk Steve.
__ADS_1
Sementara itu, Zoe sudah pingsan dalam pelukan Valen.