Valen For You

Valen For You
Percaya padamu


__ADS_3

Mall


Alden sangat kurang nyaman berjalan dengan Zoe. Entah kenapa, Alden merasakan perbedaan dari tingkah laku Zoe terhadapnya. Seperti saat ini, Zoe tidak ragu untuk skinship dengan Alden. Jika dia ingin mampir ke suatu tempat, dia akan memegang lengan Alden.


"Alden, Dad bilang jika aku harus memberikanmu setelan jas yang bagus." Zoe membawa Alden ke sebuah outlet yang menyediakan pakaian resmi.


"Tidak perlu, Nona. Saya masih punya jas di rumah." tolak Alden dengan sopan. Menjadi bawahan harus membuat Alden menahan emosi dan sedikit merendahkan dirinya.


Zoe tampak tidak peduli. Dia tetap memilihkan Jas di gantungan yang cocok untuk sosok Alden.


Dia mengambil jas warna biru dongker. Lalu, setelah itu Zoe juga memilihkan dasi yang cocok untuk Alden.


"Perfect." ucapnya dengan bangga setelah memadukan pilihannya di badan Alden.


Sama seperti Valen, Zoe punya selera yang baik dalam memilih pakaian.


"Kita bungkus saja yang ini." Zoe menyerahkan semua yang dia pilih pada pelayan yang berdiri di sebelah Alden.


Alden menghela nafas panjang. Zoe sama sekali tidak meminta persetujuannya. Ini sangat aneh sekali.


Sembari menunggu Zoe membayar, Alden sedikit menyingkir untuk menelepon Valen. Alden khawatir karena Valen sedikit kurang enak badan tadi pagi.


"Halo, sayang. Apakah badanmu masih panas?" tanya Alden begitu telepon diangkat.


"Sedikit. Tapi tadi aku sudah kompress dengan air dingin."


"Apa kita perlu ke dokter?"


"No.Tidak usah. Kamu kerja saja, Den. Aku baik-baik saja."


"Okey, nanti aku akan minta ijin untuk pulang cepat. Get well soon sayang."


"Den.. ayo." Zoe muncul di depan Alden dengan membawa beberapa paper bag.


"Den, aku seperti mendengar suara Zoe. Apa kamu dengan Zoe?" tanya Valen dengan nada menyelidik.


"Nanti aku jelaskan, sayang." Alden buru-buru menutup teleponnya. Sebenarnya dia bingung menjawab pertanyaan Valen. Alden sudah sepakat dengan Valen jika mereka harus sebisa mungkin terbuka dan jujur. Jadi, Alden tidak ingin menyakiti Valen dan membohonginya lagi.


"Sorry Den. Aku gak tau kalau kamu sedang telepon Valen." kata Zoe lirih.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Zo. Aku memang berencana memberitahunya tentang pekerjaanku." Alden mengambil paper bag Zoe, lalu berjalan keluar dari outlet.


"Alden, tunggu." Zoe berlari dengan sepatu wedges nya.


Tepat saat Zoe akan meraih kemeja Alden, Zoe terpeleset dan kakinya terkilir. Untung saja Alden cepat menangkap tangan Zoe, sehingga dia bisa berpegangan pada Alden.


"Aww.. kaki ku." teriak Zoe kesakitan.


"Kenapa berlari, nona?" tanya Alden dengan kesal. Bagaimana tidak kesal, jika Zoe pergi ke mall dengan sepatu wedges cukup tinggi. Dan Zoe sebenarnya tidak perlu mengejar Alden, karena pria itu berjalan dengan santai.


"Den, sakit."


"Iya. Kita pulang saja, Nona." Alden melepaskan sepatu Zoe dan menentengnya. Setelah itu, Alden mengambil tangan Zoe, lalu merangkul kan pada pundaknya. Dia hanya bisa memapah Zoe dan tidak berniat ingin menggendong Zoe.


"Pelan-pelan Den." ucap Zoe sambil memandang Alden yang tampak panik.


Mereka berdua tidak sadar jika seseorang mengambil gambar mereka dengan ponselnya.


*


*


*


Karena tidak mendapatkan jawaban dari Valen, Alden mengecek Valen ke kamarnya. Valen tampak sedang tertidur membelakangi pintu. Alden duduk dipinggir ranjang untuk mengecek keadaan Valen. Dia memegang dahi Valen. Badan Valen tidak panas. Alden bisa bernafas lega sekarang.


"Sayang, aku bawa cheesecake kesukaanmu. Apa kamu mau makan?" bisik Alden di telinga Valen. Dia tidak lupa mengecup pipi Valen dengan lembut.


Tidak ada jawaban dari Valen. Tapi, Alden sadar jika Valen tidak tidur. Dia bisa melihat air mata Valen mengalir membasahi bantal.


"Val, kamu kenapa?"


Valen membuka matanya. Dia sudah tidak bisa lagi menahan sandiwaranya. Sejak Alden masuk ke rumah, Valen sebenarnya sudah menangis. Valen hanya berpura-pura tidur supaya Alden tidak melihatnya menangis.


"Val,, apa kamu menangis karena aku?" Alden membantu Valen untuk bangun dan bersandar pada head board.


Wajah Valen menunjukkan jika memang Alden lah penyebab utamanya menangis.


"Tadi Sandra melihatmu dengan Zoe di mall." ucap Valen dengan nada datar. Dia mengambil ponsel di nakas, lalu menunjukkan sebuah foto pada Alden.

__ADS_1


Alden mencoba tetap tenang. Dia sudah belajar banyak untuk melatih kesabarannya.


"Ya, aku memang pergi dengan Zoe. Aku minta maaf." Alden tertunduk lesu dan tidak berani menatap Valen.


"Kamu benar-benar jahat, Den." Valen menengok dengan pandangan sendu.


"Tapi, boleh aku jelaskan dulu sesuatu?"


Wanita di depan Alden hanya terdiam.


"Aku bekerja dengan ayah Zoe." aku Alden.


"Jadi, kamu kerja dengan ayah Zoe?"


"Kamu ingat pernah bertemu dengan seorang pria tua di hotel sewaktu mengikuti ku?" "Dia adalah Tuan Stevenson, alias ayah Zoe."


Valen mengingat kembali pertemuannya dengan Steve. Dia benar-benar tidak percaya jika Steve adalah ayah Zoe. Selama ini Zoe tidak pernah bercerita apapun tentang keluarganya, kecuali mengenai ibunya.


"Tapi, kenapa kamu gak cerita?"


"Sorry, Val. Aku takut kamu malu karena aku hanya jadi sopir Tuan Steve."


"Alden!" suara Valen sudah terdengar bagai suara petir.


Alden tau jika dia bicara seperti ini, Valen akan marah dan kecewa padanya. Tapi, Alden tidak punya pilihan lain. Jika dia menutupi ini, rumah tangganya dengan Valen akan semakin retak. Jelas saja Valen akan cemburu lagi dengan Zoe sama seperti dulu Valen cemburu pada Milka.


"Ya, kamu marahi saja aku. Aku memang tidak bisa bekerja dengan baik dan benar." Alden sudah siap menerima omelan Valen. Tapi, reaksi Valen justru sebaliknya. Dia memeluk Alden dengan erat.


"Den.. aku tau kamu berusaha yang terbaik untukku dan anak kita." Valen kembali menangis dalam pelukan Alden. "Terimakasih."


"Jadi, kamu percaya kan kalau aku tidak berbuat macam-macam dengan Zoe?" Alden membelai rambut Valen.


"Ya, aku percaya padamu." hanya itu yang dapat Valen ucapkan. Valen tidak ingin membuat Alden makin down lagi dengan memarahinya atau cemburu padanya.


Jika saja mereka tidak melakukan kesalahan, mungkin Alden tidak akan bekerja keras seperti ini dan sudah menjadi salah satu pemilik Rumah Sakit Husada.


"Aku sangat beruntung memiliki kamu, Val."


Alden tentu saja lega karena sekarang sudah tidak ada rahasia lagi yang dia sembunyikan dari Valen.

__ADS_1


__ADS_2