Valen For You

Valen For You
Sudah biasa diinjak-injak


__ADS_3

Pagi itu Valen bangun dengan perasaan bahagia. Seperti biasa, Alden sudah menyiapkan sarapan untuk Valen. Kali ini Alden membuat pumpkin soup dan garlic bread, sesuatu yang pasti Valen suka.


"Makan yang banyak, sayang." ucap Alden begitu Valen duduk di meja makan.


Valen mengangguk. Dia mengambil sendoknya, dan dengan cepat memakan apa yang sudah disiapkan oleh Alden.


"Kamu tidak makan?" tanya Valen yang melihat Alden diam saja sambil memandangnya.


"Aku akan menunggumu makan, setelah itu baru berangkat kerja."


"Oh iya, aku lupa jika kamu sekarang kerja pagi dan pulang sore."


Alden tersenyum. Dia senang karena pada malam hari, Alden bisa menemani Valen di rumah. Jadi, komunikasi mereka bisa semakin lancar dan tidak ada salah paham lagi.


"Hari ini kamu ada rencana ke mana?" tanya Alden untuk memastikan jadwal Valen. Valen adalah wanita yang tidak bisa diam saja di rumah. Dia selalu bekerja atau berkumpul dengan temannya, jadi pasti Valen akan sangat bosan jika harus di rumah.


"Aku ingin pergi dengan Zoe siang nanti. Apakah boleh?"


"Tentu saja boleh, sayang." Alden mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu. "Jumlahnya tidak banyak, tapi mungkin cukup untuk hari ini."


Valen menerima uang dari Alden dengan perasaan sedih. Dia sedih karena tidak bisa memegang banyak uang seperti dulu, sekaligus sedih karena Alden pasti bekerja keras untuk mendapatkan uang itu.


"Sepertinya Zoe akan mentraktirku. Kamu tidak perlu cemas. Ini ditabung saja untuk Baby kita." Valen menyodorkan kembali uang yang diberikan Alden.


"Sayang.. aku sudah menyisihkan sedikit untuk Baby kita." Alden memegang tangan Valen yang ada di meja sambil mengusapnya.


"Den, kita gak tau apa yang akan terjadi ke depan. Simpan saja. Lagipula aku juga sedang tidak mood berbelanja." Valen tetap ngotot tidak mau menerima.


Akhirnya Alden mengalah. Dia menyimpan kembali uang itu di dompet. "Baiklah. Have fun ya sayang.." "Aku berangkat kerja dulu." Alden memutuskan berpamitan pada Valen. Dia tidak lupa mencium dahi Valen dan juga mengusap perutnya.


*

__ADS_1


*


*


Alden sudah sampai di rumah Steve. Dia langsung masuk ke dalam untuk menemui majikan barunya itu. Steve ternyata sedang sarapan bersama dengan Zoe. Gadis itu tampak segar seperti biasa. Dia juga sudah berdandan dengan sangat cantik.


"Pagi, Tuan.. Nona." sapa Alden ramah.


"Alden, kamu sudah sarapan?" "Cepat duduk di sini." perintah Steve.


"Maaf Tuan. Saya lebih baik di sini saja." Alden menolak dengan halus. Dia tidak mau mengganggu kebersamaan ayah dan anak itu.


"Dad tidak suka dibantah. Cepat duduk di sini." Zoe menarik kursi di sebelahnya.


Mereka berdua kompak menatap Alden dengan pandangan menuntut.


Alden terpaksa mengikuti kemauan Steve. Dia duduk di sebelah Zoe.


Alden mengangguk. Dia sudah mencari tau tentang Billy Stevenson dari Google. Nama Billy Stevenson ternyata cukup terkenal karena dia memiliki beberapa sekolah International di Indonesia juga di luar negeri. Dan seperti yang Steve katakan tadi, hobinya adalah berkuda.


"Kamu ke mana hari ini?" tanya Steve sambil memandang anaknya yang malah sibuk sendiri.


"Hari ini mau jalan-jalan sama Valen." jawab Zoe sambil memasukan ponselnya ke tas.


"Bukannya Valen itu istri Alden? Kamu dekat dengan dia?"


"Dekat Dad. Zoe sudah anggap Valen sebagai keluarga sendiri. Ya kan, Den?" Zoe menyenggol Alden yang diam saja.


"Eh, iya. Betul." Alden merasa gugup karena Zoe memandanginya dengan aneh.


"By the way. Makasih kemarin. Kamu sudah bawa aku ke rumah. Kamu sungguh keren sekali." puji Zoe sambil mengacungkan kedua jempolnya.

__ADS_1


"Zoe, ingat jangan lakukan itu lagi." "Kamu itu harus bisa jaga dirimu sendiri." Steve menyela percakapan Zoe dengan Alden.


"Dad cerewet sekali." "Buktinya Zoe tidak pernah terkena scandal ataupun tidak hamil kan?" ucap Zoe asal. Dia lupa kalau ada Alden yang memang married by accident. Perkataan Zoe itu pasti menusuk perasaan Alden. Terbukti pria itu langsung berdiri dari bangkunya.


"Maaf, saya ingin ke toilet sebentar." Alden berjalan dengan gontai tanpa mempedulikan Steve.


Zoe langsung mengejar Alden untuk bicara pada pria yang sedang marah itu.


"Alden, tunggu." Zoe menarik tangan Alden supaya pria itu berhenti.


"Kamu sengaja menyindir Valen dan aku?" tanya Alden kesal.


"Den.. Sorry. Aku keceplosan tadi dan aku tidak bermaksud untuk menyinggung mu."


Alden terdiam sebentar. Dia baru pertama kali bekerja di sini. Dan Zoe adalah anak majikannya. Sudah pasti Alden harus terima jika Zoe menghinanya.


"Sudahlah. Aku sudah biasa di injak-injak. Lakukan saja semau mu."


"Maaf Den. Aku serius minta maaf." sesal Zoe. "Apa Valen tau jika kamu bekerja dengan Dad ku?"


Alden menggeleng lemah. Dia akan membuat Valen kecewa lagi jika tau pekerjaan barunya hanya seorang sopir. Apalagi sopir dari ayah temannya sendiri. Valen pasti akan malu.


"Oke.Aku tidak akan bilang ke Valen. Tapi kamu harus memaafkan aku dulu." Zoe mengulurkan jari kelingkingnya untuk membuat pinky promise dengan Alden.


Alden tampak tidak tertarik dengan permainan lebay Zoe yang seperti anak kecil.


Tapi, dasar Zoe. Dia mengambil tangan Alden lalu mengaitkan kelingking mereka.


"Aku akan jalan-jalan bersama istrimu, dan tolong jaga Dad ku dengan baik." pesan Zoe sambil tersenyum lebar.


"Oke.Thanks. Aku harus menemui ayahmu lagi."

__ADS_1


__ADS_2