Valen For You

Valen For You
Keluar kerja


__ADS_3

Zoe membanting ponselnya ke meja. Dia lalu menuangkan whisky pada sloki yang ada di depannya. Milka memperhatikan Zoe yang sejak tadi berdecak dan tampak tidak mood itu.


"Kenapa ka? Apa ada problem?" tanya Milka kepo. Dia cukup sering melihat Zoe di club. Biasanya wanita itu datang bersama teman sosialita atau teman prianya.


"Ayahku selalu memaksaku menikah. Tapi, semua pacarku tidak ingin membuat komitmen denganku." Zoe tertawa miris. "Bukankah permintaan orang tua itu aneh-aneh dan sangat merepotkan?"


"Nona, justru anda beruntung karena memiliki orang tua. Saya tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua." jawab Milka dengan tenang.


"Kemana orang tuamu?"


"Ayah saya membuang saya dan ibu saya dari keluarganya. Dan ibu saya baru meninggal satu tahun lalu." cerita Milka sambil tersenyum.


Melihat Milka yang tersenyum lebar, Zoe merasa terkejut. Milka tampak tidak ada sedih-sedihnya sama sekali. Ini sangat berbeda dengannya.


Sewaktu Ibu nya meninggal, Zoe sangat frustasi dan hampir gila. Bahkan sampai sekarang pun Zoe masih mengharapkan kehadiran ibunya.


"Ya, aku juga tidak punya seorang ibu. Mom juga meninggal sejak aku kecil." Zoe mengambil sloki lagi, lalu memberikannya pada Milka. "Temani aku minum." pinta Zoe pada Milka.


"Maaf, saya sedang bekerja dan saya tidak pandai untuk minum." tolak Milka dengan halus.


"Payah sekali kamu." Zoe menghela nafas panjang. "Sayang sekali Valen sedang hamil. Dia jadi tidak bisa minum bersamaku." Zoe menenggak lagi satu sloki whisky.


"Sepertinya anda sangat dekat dengan Valen."


Zoe tertawa. "Tentu saja. Dia bestie ku. Tapi suaminya begitu cerewet. Valen tidak boleh terlalu sering pergi denganku." ucap Zoe yang mulai merasakan kepalanya pusing. Dia menopang kepalanya dengan satu tangan.

__ADS_1


"Aish. Gawat. Sepertinya dia akan mabuk sebentar lagi." ucap Milka lirih.


'Srek' Zoe tiba-tiba bangun dan menggeser kursinya. Dia berjalan dengan terhuyung sambil membawa botol whisky yang tinggal setengah ke arah sekumpulan pria.


"Kenapa aku harus peduli?" Milka mengabaikan Zoe dengan melayani orang lain. Tapi, pandangan mata Milka masih terus mengawasi Zoe. Dia melihat Zoe mulai digoda oleh pria-pria yang dia temui.


"Sial sekali kamu, Milka." Milka akhirnya terpaksa menelepon Alden untuk minta bantuan. Satu kali, dua kali, Alden tidak mengangkatnya. Ini cukup aneh karena Alden akan selalu stand by jika Milka meneleponnya.


Tepat pada saat itu, ponsel Zoe yang masih tergeletak di meja berdering. Dad calling..


Milka segera mengangkat telepon itu tanpa berpikir panjang lagi.


"Halo om.."


"Mana Zoe? Kenapa berisik sekali?"


"Astaga, anak nakal itu. Baiklah. Di mana lokasinya?"


Setelah memberitahukan lokasi club, ayah Zoe langsung menutup teleponnya. Milka takut akan terjadi sesuatu pada Zoe. Sepertinya ayah Zoe sangat marah.


Milka menyimpan tas dan ponsel Zoe terlebih dulu, lalu dia pergi ke tempat Zoe yang sudah benar-benar mabuk karena pria itu memberinya minuman yang lebih keras.


"Maaf, ini teman saya." Milka menarik Zoe ke belakangnya.


"Hey, pegawai reseh. Dia yang mendekat pada kami. Sebaiknya kamu minggir." ucap salah satu pria yang wajahnya tidak asing untuk Milka. Dia itu adalah member VIP club ini, sama seperti Zoe.

__ADS_1


Milka masih berusaha melindungi Zoe. Dia mencoba bernegosiasi dengan mereka secara halus dan baik-baik sambil mengulur waktu sampai ayah Zoe datang.


*


*


*


'BUK' Alden menghajar satu persatu orang yang sedang bersama Milka dan Zoe. Rambut Milka sudah acak-acakan sedangkan Zoe tergeletak tidak sadar diri di kursi panjang.


Seluruh Club menyaksikan kegemparan yang terjadi malam itu. Mereka menjadikan Alden tontonan dan beberapa dari mereka malah merekam bukannya melerai Alden.


"Alden stop!" teriak manager yang mencoba masuk ke dalam kerumunan.


Alden tidak mendengarkan dan tetap memukul pria kurang ajar itu.


"Alden kalau kamu tidak berhenti juga, saya akan pecat kamu." teriak sang manager dengan lantang.


Alden melepaskan pria yang sudah babak belur itu. Dia lalu menghadap manager yang sudah membawa 2 orang keamanan.


"Bagus pak. Saya memang berencana untuk keluar kerja." jawab Alden yang masih emosi.


"Den.. kenapa?" Milka yang mendengar itu jelas saja kaget.


"Nanti aku jelaskan di luar, Mil." Alden menengok ke arah Zoe. Dia lalu membawa Zoe dalam gendongannya dan menerobos kerumunan.

__ADS_1


Milka juga mengikuti Alden karena ingin tau kenapa Alden tiba-tiba berkata seperti itu.


__ADS_2