
Valen sudah ditangani oleh dokter.
Dokter bilang jika tubuh Valen menolak makanan/minuman yang dikonsumsinya. Dia juga memarahi Alden supaya hati-hati dalam memilih makanan untuk Valen.
Setelah dokter pergi, Alden baru bisa bernafas lega. Dia duduk di samping Valen yang masih lemas.
"Kenapa kamu pergi dan tidak bilang dulu padaku?" Alden mulai menginterogasi Valen. Dia sebenarnya emosi pada Valen, tapi Alden tidak bisa berteriak karena takut membuat Valen stress.
"Aku hanya makan bersama temanku." ucap Valen lirih. Dia tidak berani memandang Alden sama sekali.
"Kamu minum kan?" lanjut Alden. Dia berkata dengan pelan tapi begitu menusuk.
"Aku...."
"Maaf Den, kami tidak tau kalau Valen sedang hamil." Zoe yang sejak tadi berada di pojokan, akhirnya ikut bicara membela sohibnya.
"Kamu tidak usah ikut campur urusan kami." Alden memandang pada Zoe yang wajahnya tidak asing. Zoe memang kerap muncul di televisi karena dia adalah seorang host yang cukup terkenal. Dia juga sering bolak balik ke club tempat Alden bekerja bersama dengan teman-temannya, tapi Alden seperti sudah kenal lama dengan Zoe.
"Den, aku berhak ikut campur karena aku teman Valen dan juga orang tua kita berteman dekat." Zoe maju mendekat ke arah mereka.
"Teman dekat?" tanya Alden bingung.
"Ya, aku anak Tante Betty, tetanggamu dulu."
__ADS_1
"Kamu...bocah yang suka ngompol itu?" kini Alden sudah ingat Zoe dengan baik. Zoe adalah anak kecil yang sering ngompol jika dibentak oleh Alden. Sekarang Zoe tumbuh jadi wanita yang cantik dan sangat mempesona para pria.
"Long time no see Alden.. aku tidak menyangka jika kamu akan bersama dengan Valen." Zoe tersenyum ramah.
"Apakah dulu kalian begitu dekat?" Valen mencoba bangun dari ranjang. Ada rasa cemburu ketika Alden menatap Zoe cukup lama.
Zoe memang mengenal baik keluarga Sebastian karena mereka dulu bertetangga. Tapi, Valen tidak menyangka jika Zoe sedekat itu dengan baik.
"Mana bisa dekat. Dia selalu membentak ku. Dia itu galak sekali." kata Zoe sambil tertawa.
"Zoe, kita perlu bicara sebentar." Alden berjalan sedikit menjauh dari Valen.
Zoe segera mengikuti Alden di belakangnya.
"Den, kami itu sudah berteman lama. Lagipula, aku akan selalu bersama Valen, jadi kamu tidak perlu khawatir." Zoe menepuk pundak Alden.
Alden melirik sesaat ke arah tangan Zoe, lalu kembali memandang wanita itu.
"Valen sudah berbeda status dengan kalian. Dan aku tidak ingin dia semakin stress."
"Okey.. okey.. tapi kalau aku ingin jalan berdua dengan Valen, tetap boleh kan?"
"Terserah mu saja." Alden berlalu seraya menyingkirkan tangan Zoe.
__ADS_1
Dia kembali pada Valen yang pasti penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
"Den, aku mau pulang."
"Tapi, kamu masih lemah.."
"Aku ingin di rawat di rumah saja. Dan aku janji tidak akan pergi lagi tanpa ijin darimu." Valen menggenggam tangan Alden sambil melayangkan pandangan memelas.
"Oke.. kita kembali sekarang." Alden menggendong Valen dari ranjang rumah sakit. Sebenarnya, Valen memang sudah diijinkan pulang, tapi Alden tidak tega karena Valen terlihat begitu lemas.
"Zoe, maaf karena aku merepotkan mu." ucap Valen ketika Alden berhenti di depan Zoe.
Zoe mengangguk. "Tidak apa-apa. Kamu yang sabar ya.."
"Ingat apa yang aku bicarakan tadi." pesan Alden dengan tatapan tajamnya.
"Den, apa yang kamu bicarakan dengan Zoe?" tanya Valen ketika mereka sudah jauh dari Zoe.
"Kita bahas di rumah saja." jawab Alden datar.
Dia sangat kecewa dan marah pada Valen yang bisa saja mencelakakan anak mereka. Wanita ini seharusnya adalah wanita yang pintar. Tapi, apakah otaknya tidak bisa digunakan? Mana ada orang hamil yang minum alkohol. Apa Valen memang tidak menginginkan anak ini? Berbagai pertanyaan itu muncul dalam benak Alden dan itu semua membuat dia sakit kepala.
Sementara itu, Valen bertanya-tanya juga dalam hatinya. Kenapa Alden berbicara sembunyi-sembunyi dengan Zoe? Apakah mereka memiliki kisah masa lalu? Jangan-jangan Zoe menyukai Alden atau sebaliknya.
__ADS_1