Valen For You

Valen For You
Ke toilet sebentar


__ADS_3

Hotel Emerald


Malam ini Alden tampil sedikit lebih formal dengan menggunakan kaos turtle neck yang di padu dengan coat hitam. Sedangkan Milka, dia tampil cantik dengan terusan hitam bermotif bunga-bunga. Mereka masuk ke dalam, tepatnya di restoran Hotel Emerald yang berada di lantai 1.


Restoran tidak begitu ramai. Mereka mendekati salah satu pelayan untuk menunjukan voucher makan di sana.


Pelayan itu membawa Alden-Milka ke salah satu meja yang kosong dengan letak dekat pintu.


"Hotelnya bagus sekali.. Berapa harga makanan di sini? Pasti jutaan." bisik Milka yang duduk berhadapan dengan Alden.


"Ya, Kira-kira segitu." "Pilih rib eye atau tenderloin nya." Alden menunjuk ke arah menu yang recommended di hotel ini.


"Samakan saja, Den." pinta Milka. Dia sudah membolak balik menu sampai 3x dan dia bingung harus memesan apa. Apalagi menu di situ menggunakan bahasa ilmiah yang sangat sulit dibaca.


"Wagyu a5 nya 2. Minumnya ice lemon tea." ucap Alden sambil mengembalikan buku menu pada pelayan.


"Ternyata seperti ini rasanya jadi orang kaya." Milka masih sibuk menatap ke seluruh ruangan restoran yang sangat mewah.


Alden tersenyum melihat tingkah Milka yang katro itu. Milka juga bukan dari keluarga biasa saja. Dia hanya sedang cosplay menjadi orang susah. Jika saja keluarga Sutandi mengakui Milka sebagai anak, bukan tidak mungkin Milka akan makan di sini setiap hari.


Sedangkan Alden, sebenarnya dia sudah sering ke sini sejak kecil. Hotel ini adalah milik Om nya, Dimas Sebastian. Jadi, pergi makan di hotel ini tampak biasa saja untuk Alden.


"Bini lo ga marah, Den?" tanya Milka sembari menunggu pesanan datang.


"Entahlah. Dia gak mau keluar dari kamar selain kerja." jawab Alden malas.

__ADS_1


Awalnya Alden memang sangat khawatir jika Valen marah padanya. Tapi, belakangan ini Alden lebih cuek karena dia juga jarang pulang ke rumah.


"Apa Valen tau kalau lo pergi sama gue?" tanya Milka lagi.


"Tenang aja, Mil. Dia gak mungkin ke sini."


Baru saja Alden berkata seperti itu, beberapa orang masuk ke dalam restoran. Dia terkejut karena salah satu dari mereka ada Valen.


Valen juga langsung menangkap sosok Alden dan Milka yang tengah duduk berhadapan.


Pandangan mereka bertemu untuk beberapa saat sampai akhirnya Valen melengos karena Jason menggandengnya ke kursi.


Jason. Pria itu dengan santainya membawa Valen, melayaninya dan tersenyum padanya. Dan Valen tampak tidak keberatan.


Alden tidak mengalihkan pandangannya dari Valen. Dia melihat istrinya berdandan begitu cantik. Di tambah, Valen menggunakan dress longgar, jadi tidak ada yang akan tau jika dirinya sedang berbadan dua.


"Den, apa kamu mau pergi?" tanya Milka panik.


"Tidak usah. Makan saja. Sayang voucher nya."


Alden kembali berfokus pada teman makan malamnya. Pesanan mereka juga baru saja datang.


Sementara itu di meja lainnya, Valen menatap tajam Milka yang terus memandangnya.


Kenapa Alden makan malam dengan Milka? Gaji saja tidak besar. Kenapa mereka makan di restoran mahal seperti ini? pikir Valen.

__ADS_1


"Nona Valencia, anda sangat cocok dengan Tuan Jason." ucap salah seorang rekan kerja Jason.


Dia bicara cukup keras sampai suaranya bisa terdengar di meja Alden.


Valen menanggapi dengan tersenyum. Sungguh dia sedang menahan rasa penasaran pada Milka, sekaligus khawatir pada Alden yang melihatnya bersama Jason.


"Apa kamu khawatir karena Alden?" Tanya Jason yang mengamati keresahan Valen.


Valen menggeleng.


"Baguslah. Aku sudah memesan makanan yang spesial untukmu." Jason memanggil pelayan untuk menyiapkan makan malam mereka. Dia sudah membooking tempat sebelum pergi ke sini, jadi pelayan dapat langsung menyajikan ketika mereka datang.


Beberapa pelayan membawa banyak sekali makanan ke meja Jason. Alden mencoba tidak peduli dan bersikap biasa saja. Tapi, suara Jason dan rekan-rekan kerjanya jelas menggelitik telinga Alden.


"Anda terlalu murah hati, Tuan Jason. Anda menyiapkan terlalu banyak."


"Ya, tentu saja. Aku mengajak wanita yang begitu cantik malam ini. Aku ingin memperlakukan dia dengan spesial." Jason menggenggam tangan Valen yang ada di meja.


'Prang' Alden membanting pisau dan garpunya, lalu dia spontan berdiri.


Semua orang menengok ke meja Alden-Milka.


"Gue ke toilet sebentar." Alden menggeser kursinya lalu berjalan dengan gontai keluar dari restoran.


Milka tersenyum kaku sambil membungkuk dengan sopan pada kumpulan orang yang masih memandangnya.

__ADS_1


"Makan yang banyak, Val. Kamu butuh banyak gizi." Jason tidak mempedulikan Alden lagi. Dia kini menyendokkan makanan ke piring Valen.


"Emm, Jas.. aku ingin pergi ke toilet sebentar." "Permisi." Valen beranjak dari bangkunya untuk pergi ke toilet menyusul Alden.


__ADS_2