
Valen terlihat kesal karena ada begitu banyak wanita yang mendekati suaminya. Belum selesai masalah Zoe, kini ada satu orang lagi yang mengangkat telepon milik Alden. Meskipun Alden sudah menjelaskan di WA, jika Milka adalah teman kerja Alden, tapi itu tetap membuat Valen merasa tidak tenang.
Dia sudah mencoba untuk berpikiran positif, hanya saja mood nya sekarang benar-benar up and down. Valen juga tidak tau kenapa sejak hamil, dia jadi gampang kesal dan curiga an pada Alden.
"Alden, kamu memang mau main-main denganku." Valen mematikan ponselnya dan mencoba untuk tidur saja. Besok Valen sudah berencana akan pergi ke club secara diam-diam untuk mengawasi Alden.
Tidak lama setelah Valen tertidur, Alden benar-benar pulang ke rumahnya. Dia membuka pintu kamar perlahan supaya Valen tidak terbangun atau terganggu.
Ini kedua kali Alden meninggalkan pekerjaannya karena Valen. Sebenarnya Alden sudah mencoba tidak peduli, tapi hatinya tidak bisa mengabaikan Valen, terlebih ponsel Valen tidak aktif.
Alden memandang Valen dari kejauhan. Dia tertidur begitu lelap seperti anak kecil yang kelelahan setelah bermain.
'Syukurlah dia tidak apa-apa.' batin Alden.
Dia berbalik hendak meninggalkan Valen lagi. Tapi baru satu langkah, Alden mendengar suara igauan Valen yang seperti orang mengerang.
Alden langsung naik ke ranjang untuk melihat keadaan Valen.
"Val,, kamu kenapa?"
Valen tersadar dari tidurnya. Dia melihat Alden sudah berada di sampingnya.
"Alden.." teriak Valen sambil memeluk Alden dengan erat. Badan Valen terlihat gemetaran dan keringat dingin mengucur deras membasahi dahinya.
Alden menepuk punggung Valen seraya merapikan rambut Valen yang berantakan. "Aku di sini, sayang.. jangan takut."
"Jangan pergi, Den." Valen mempererat pelukannya seolah Alden adalah daya kehidupannya.
"Iya, Val. Aku di sini." "Apakah kamu mimpi buruk?"
Valen mengangguk lemah. "Aku mimpi kamu pergi meninggalkanku karena perempuan lain." jawab Valen dengan sedih.
"Val,, aku tidak akan pergi. Aku hanya bekerja." "Lagipula, siapa yang mau menerima aku yang miskin dan pemarah ini, selain kamu?" Alden menatap Valen dengan intens.
Mendengar pernyataan Alden yang ada benarnya, Valen jadi sedikit lebih tenang. Lagipula, tadi hanya mimpi. Pasti Valen kepikiran soal beberapa wanita yang mendekati Alden.
__ADS_1
"Apakah kamu akan kembali kerja?" Valen menyembul dari dada bidang Alden.
"Tidak. Aku akan menemani kamu di sini."
Alden harus mengalah lagi demi Valen. Dia memang harus memahami jika Valen saat ini sedang hamil. Dan sudah seharusnya sebagai suaminya, Alden berkewajiban untuk menjaga Valen, bukannya pergi begitu saja.
Sembari menepuk punggung Valen, Alden mengambil ponsel di saku celananya. Dia harus memberitahu Milka jika tidak dapat kembali ke club.
Mil, sorry. Gue gak bisa balik ke sana.
Tak lama, Milka membalas Alden.
Lo ditanyain manager, Den. Tapi gue bilang kalau lo ga enak badan. Jangan terlalu sering ijin seperti ini, Den. Nanti lo bisa di pecat.
Alden menghela nafas kasar. Tentu saja Milka benar. Baru pertama bekerja, Alden harus bolak balik pergi dari club karena mengurus Valen. Tapi, ini adalah pilihan Alden. Nyatanya, Alden tidak dapat mengabaikan istrinya ini.
*
*
*
"Morning sayang.." Alden muncul dari kamar mandi dengan bertelanjang dada. Dia menghampiri Valen, lalu mencium keningnya.
"Apakah kamu masih merasa tidak enak?" tanya Alden sembari mengusap perut Valen.
"Aku sudah baikan." "Dan sepertinya anak kita baik-baik saja." Valen memandangi perutnya yang masih rata.
"Syukurlah." Alden mencondongkan badan pada Valen. Dia merasa harus berbicara dengan Valen dari hati ke hati.
"Val, maafkan kemarin aku sudah membentak mu." ucap Alden sambil memandang ke dalam mata Valen.
"Ya, aku juga minta maaf." Valen mengakui kesalahannya juga. "Aku sudah salah karena minum soju. Dan aku tidak akan mengulangi itu lagi."
"Aku tau kamu tidak berniat melakukan itu." "Tapi, tolong jangan banyak bergaul dengan kelompok sosialita itu." Alden kembali menasehati Valen.
__ADS_1
"Itu sangat sulit, Den." ucap Valen jujur. Dia, Zoe dan yang lain memang rutin untuk berkumpul seminggu 2x. Dan hal itu sudah Valen lakukan sejak 5 tahun lalu, jauh sebelum mengenal Alden.
"Kamu bisa coba, kan?" "Cari saja alasan untuk menghindar dari mereka. Lagipula mereka tidak tau kamu hamil. Kamu akan lebih malu lagi jika teman-temanmu itu tau kalau kamu hamil di luar nikah." oceh Alden lagi.
Kali ini Valen menyetujui Alden. Dia akan malu ketika kebohongannya akan terbongkar oleh teman-temannya.
"Aku akan coba, Den."
Alden tersenyum senang mendengar jawaban dari Valen.
"Good girl.." Alden mengacak-acak rambut Valen.
Akhirnya Valen bisa mengerti juga tanpa Alden harus marah-marah seperti kemarin.
"Tapi, Den..aku tidak suka kalau kamu dekat dengan Zoe atau siapa itu namanya?"
"Milka maksudmu?"
Valen mengangguk cepat.
"Valencia, aku di sana hanya akan bekerja dan tidak akan macam-macam. Kamu jangan khawatir. Oke?"
Valen kembali mengangguk, tapi kali ini dia sedikit ragu. Di club akan ada banyak penggoda. Zaman sekarang mana ada kucing yang bisa tahan jika melihat ikan asin?
Ponsel Alden berdering dan terpaksa menghentikan pembicaraan mereka.
Valen bisa melihat nama Milka tertera di layar milik Alden.
"Halo, Mil. Ada apa?" "Oke.. aku akan berangkat sebentar lagi."
"Fokus bekerja ya.." sindir Valen.
"Sayang, hari ini ada pelatihan untuk bartender. Jadi, aku harus berangkat." Alden buru-buru mengambil kemeja dan mengenakan celana jeansnya. Dia juga tidak lupa mengecup bibir Valen sebelum pergi.
"Oke, mari kita ikuti Daddy." ucap Valen sambil mengusap perutnya.
__ADS_1